Sabtu, 29 April 2023

KISAH KECIL LEBARAN FITRI 1444 H/2023 M (Family Story Edition )

Puasa bulan suci ramadhan berakir, dan hari kemenangan dirayakan dalam 2 hari, jumat dan sabtu (Tgl 21 dan 22 April 2023). Seminggu sebelumnya, arus mudik lebaran bergelombang-gelombang membanjiri desa-desa seluruh penjuru negeri. Kami menjadi bagian dari riak gelombang mudik ini. 

Lebaran dikampung halaman merupakan waktu bersahaja yang senantiasa dirindu, bagi kaum urban. Ada keluarga yang menanti penuh harap, ada keluarga yang bergegas datang dengan riang gembira. 

Kedatangan ke 'rumah gunung' sedikit berbeda, kali ini karena susana musim hujan pertengahan. Nampak setiap jelang senja saat menunggu berbuka, selimut kabut tebal menyelimuti desa. 

Suasana yang memperdalam penghayatan akan usaha menahan nafsu makan dan minum. Betapa puasa begitu ringan ditengah senja kelabu warna kabut yang melintang di kaki-kaki bukit. 

Bongki-bongki Riwayatmu Dulu

Usai shalat idul fitri, sabtu pagi yang mendung berat. Keluarga berkumpul di meja prasmanan, saling memohon dan memberi maaf. Bertandan dari rumah ke rumah kerabat dekat dan jauh.

Di tengah cengkrama yang hangat, terbesit niat dari Bapak hendak berkunjung ke tanah leluhurnya. Sebuah desa yang cukup jauh di puncak-puncak kaki gunung Bawakaraeng/Lompobattang, desa yang tersisip diantara kabupaten Bulukumba dan kabupaten Sinjai.

Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Melewati jalan yang asing, karena puluhan tahun baru melewati jalan itu kembali, seperti perjalanan baru. Hanya berbekal memori yang tertimbun tumpukan waktu dari Bapak dan Adik, yang dulu ketika beberapa dekade silam pernah berkunjung ke desa ini.

Dalam memori Bapak, Desa Bongki-bongki dulu bukan lagi Bongki-bongki sekarang. Jalan yang dulu hanya bebatuan, telah berubah aspal dan beton. Rumah kayu dan lapangan dan jalan-jalan setapak lereng bukit, yang menjadi penanda memori kini telah hilang, diganti susana yang serba baru, rumah batu dan bangunan gedung sekolah dan kantor-kantor pemerintah yang modern.

Meskipun lahir di Kabupaten Bone, tapi ayah kandung Bapak (H. Muhammad Nurdin atau Puang H. Tongki Dg. Mallebang) lahir di Desa ini. Menikahi seorang janda (Hj. Fatimang) dua putra, yang tidak lama berselang pernikahannya, ia memboyong sang Istri ke negeri jauh ke ujung Nusantara bagian Barat, Sumatera bagian tengah. Perjalanan awalnya diperkirakan tahun 1942. 

Dalam ingatan Bapak, saat itu usianya masih sekitar dua atau tiga tahun, Bapak mengenangnya sebagai masa era pendudukan Jepang, ketika turut serta dalam ekspedisi ke tanah rantau, kampung orang-orang Melayu.

Leluhur Bapak meninggalkan tanah lahirnya, untuk suatu harapan dan kehidupan baru, tanah tinggal yang baru, Sumatera bagian tengah, kini provinsi Riau.

Dalam bincang Bapak dengan kerabatnya (Petta Yusuf/ Etta Usu) ketika tiba di desa yang dingin ini, kita mendengar cerita Etta Usu tentang Ayah Bapak, yang perantauannya ke Sumatera meninggalkan lahan kebun yang cukup luas, yang “dititipkan” ke paman dan sepupunya untuk dijaga.


Setelah puluhan tahun di tanah rantau, lahan itu kemudian berubah status, menjadi milik para penjaganya. 

Kata Bapak, “saya wajib mempertanyakannya karena itu hak saya, namun tidak bermaksud menuntutnya, demi menjaga kerukunan berkeluarga”.

Berkunjung ke Desa Bongki-bongki, Bapak begitu bersemangat ke kampung leluhurnya. Apalagi ternyata masih ada seorang sepupunya yang masih hidup, menjadi motivasinya untuk bertemu. 

Namun kenyataanya berbeda, sang sepupu tidak berada di rumahnya, dan hanya bisa saling silaturrahmi melalui telepon WA.

Kini, boleh dikata, dari sisi keluarga, Bapak hampir sebatang kara, 3 suadara kandungya ( Hadijah dan Hatijah/meninggal saat masih kecil dan Puang Mariamah) telah tiada, 2 saudara tirinya (H. Puji, dan H. Tiro) semuanya sudah di alam barzah. 

Tinggal dua orang sepupu, satu di Sumatera satu di Sulawesi. Sepupu yang di Sumatera (H. Latta) masih sering menghubunginya untuk berbagi “curahan hati”. 

Bapak selalu memotivasi kita untuk mencari silsilah keluarga. Bahkan beliau memiliki catatan dan menyusun daftar sisilah keluarga hingga 7 lapis diatasnya. Suatu waktu, beliau meminta saya untuk dibuatkan catatan sisilah itu dalam bentuk tabel struktural dan minta dibagikan ke suadara-saudara. Beliua menyebut hadist Nabi SAW mengenai pentingnya mengusut silsilah keluarga.

Pada awalnya, saya berbeda tafsir. Saya menganggap yang wajib ditelusiri adalah usul rohani kita, “bukan” usul keluarga. Usul rohani bersifat hakiki, usul keluarga hanya “syar’i”. 

Waktu itu, saya membayangkan jika kita menelusuri dan menemukan kalau kita bersal dari keluarga “orang-orang jahat”, ataupun “orang berkuasa dimasa lalu”: apa ibrah yang dapat kita peroleh dari mereka? 

Umumnya nasab seperti ini cenderung mengarahkan kita pada “kesombongan atau bangga diri”. Sehingga saya merasa yang pokok adalah mencari asal usul rohani kita, bukan asal usul badani. 

Asal usul rohani, akan menghantar kita menuju Rasulullah SAW dan Allah SWT, sehingga bersifat ukhrawi, melalui jalan pencarian religius (tariqah).

Tapi tidak masalah jika umumnya kita cenderung pada mengusut asal usul leluhur biologis/silsilah keluarga. Karena ini juga bagian dari sunnah Nabi SAW.

Setelah 3 jam kurang lebih berada di desa dingin ini, kami beranjak pulang. Singgah sejenak di rumah kemanakan Bapak (anak tertua petta usu), yang berada persis didepan hutan pinus yang lebat. 

Hutan ini juga sering menjadi spot rekreasi masyarakat sekitar. Ribuan pohon pinus berdiri kokoh di lereng-lereng gunung, dengan lembah-lembah yang curam. 

Hujan turun gerimis, diiringi angin sepoi yang lembut. Singgah lebih dahulu menunaikan shalat dhuhur di mesjid. Membasuh wajah dengan air whudu yang sejuk menusuk pori wajah, dan membuatnya rileks. 

Sambil menyeruput kopi, Etta Usu bercerita tentang almarhum H. Puang Tongki Dg. Mallebbang. Suatu saat dia menemani almarhum shalat jumat, namun almarhum tiba-tiba terjatuh di tangga masuk mesjid. Membuat jemaah berkumpul membantunya untuk siuman, menyebabkan shalat jumat agak molor. 

Setelah shalat jumat selesai, sambil jalan pulang, almarhum menyampaikan ke Etta Usu, kalau dia maunya bersemayam di tanah lahirnya di desa ini. Hanya ingin menjaga perasaan anaknya (Muhammad Tahir), dia akan pulang ke Pa’bentengan. 

Seminggu setelah beliau pulang, Etta Usu mendapat kabar melalui siaran radio Cempaka Asri, kalau H. Tongki Dg. Mallebbang telah berpulang ke rahmatullah. Dalam bahasa bugis, Etta Usu menyebut “pura naisseng alena elo lao”.

Bapak bercerita, di Sumatera H. Tongkki Dg. Mallebbang, memiliki seorang guru tariqah. Salah satu praktik tariqahnya adalah berzikir dari magrib hingga isyah, dengan selalu dibarengi isak tangis, dalam proses mengejakan wiridnya. Namun selang beberapa lama, Bapak melihat beliau tidak lagi melakukannya, praktik itu seperti biasanya.

Ini sepenggal kisah kecil dari keluarga Eyang, yang mungkin “berguna” untuk dikenang bagi cucu-cucunya yang kelak ingin mengetahui. Mungkin masih banyak cerita lainnya yang bisa melengkapi.

Puang Darise Squad

Dalam perjalanan balik, menelusur jalan menurun penuh kelokan tajam. Pemandangan persawahan disebarang gunung, padinya sudah menguning dan membentang indah dimata. “Cantiknya pemandangan” kata si mungil Insyirah, setiap melintasi persawahan-persawahan.

Tanpa sengaja, kami menemukan orang sedang memetik durian di kebun yang terletak dipinggir jalan. Kami berhenti, menemui merka yang sedang panen buah durian. Bertingkah sok akrab sambil menawar untuk membeli, kami akhirnya bisa membawa beberapa biji buah durian dengan harga kebun.

Harsat meracik kopi-durian, yang terpendam akhirnya dapat terpenuhi esok harinya. 

Racikan kopi-durian Om Iful, membawah berkah silaturahmi seluruh sepupu (dari rumpun Muhammad Idris/Puang Darise)yang juga sedang mudik berlebaran ke desa kelahiran. 

Racikan Kopi-durian menyambungkan kembali asa persaudaraan kekekuargaan, yang sudah tertanam sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. 

Pertemuan refleks ini menjadi ajang bertukar pengalaman, berbagi succses story, berkenang cerita lucu dan membangun kesadaran baru untuk memulai suatu “perkumpulan” sepupu yang lebih solid dan kokoh, dalam rasa cinta dan berkasihsayang.

Mereka melabeli diri puang darise squad.. 

Muhammad Idris adalah ayah dari Ibu kami (almarhum Marwah, tante Fatimasang, tante Maryam, tante Saoda, almarhum tante Jia, tante Haderia, tante Nurwati dan om Abu Bakar Idham). 

Muhammad Idris menikahi Hawa/puang hawang dan dikarunai anak 9 orang (tersebut diatas). 

Puang Darise, si zamannya (dalam perkiraan 1920 s/d 1993) oleh masyarakat desa Palampang, Tanete, Bontobangun dan Panggaloang, dikenal sebagai tokoh yang mengajari masyarakat dengan nilai-nilai Islam. Beliau di beri amanah oleh pemerintah sebagai imam desa dan bergelar Katte Darise. 

Dikenal dalam kalangan elit desa (para karaeng), sebagai tokoh agama. Dari Tante Fatimasang, yang bercerita: sedemikian "strategisnya" posisi puang Darise sebagai tokoh agama, karaeng Kilong secara khusus membuatkan beliau  sebuah rumah panggung, dengan menggerakkan masyarakat secara bergotong royong, memindahkan domisilinya dari desa Palampang ke desa Bontobangun, untuk melakukan dakwa Islam ditengah masyarakat.


Menurut keterangan keluarga, Ayah Puang Darise bernama H. Abdul Rasyid/puang Beddu Rasyide. Ibundanya bernama puang Nina. H. Beddu Rasyide dan istri juga pernah merantau beberapa waktu lamanya di Tanah Melayu (Sumatera bagian tengah/Riau). 

Setelah istrinya berpulang kerahmatullah di negeri rantau, beliau memutuskan kembali ke Sulawesi. Kepulangan beliau ke Sulawesi selalu mudah dikenang, karena waktunya bertepatan ketika tragedi kapal Tampomas 2 tenggelam di perairan Masalembo. 

Diceritakan, bahwa sebenarnya juga beliau akan naik kapal Tampomas 2, yang akan bertolak dari Jakarta ke Ujungpandang. Karena suatu dan lain hal, akhirnya batal mendapatkan tiket di kapal tersebut. Beliau lalu menggunakan kapal lain menuju Sulawesi. Dan, atas izin Allah SWT beliau dan rombongan terhindar dari bencana naas yang menimpa kapal Tampomas 2.

Puang H. Beddu Rasyide, sewaktu masih di Tanah rantau, ibu (almarhum Marwah), pernah berkisah: suatu waktu ada kenalannya seorang wanita, bahwa ia bermimpi berjumpa dengan seorang yang berpakaian serba putih. Dalam mimpinya ia memberikan sedekah kepada sosok tersebut. 

Hingga pada hari jumat (waktu pergelaran pasar besar di kampung Pebenaan), yang kebetulan rumah tinggal kami berada dipusat keramaian itu. Rumah tinggal puang Beddu Rasyide dan puang Nina sedikit ke pedalaman. 

Setiap hari jumat itulah masyarakat dari bebagai pedalaman berdatangan ke pasar, untuk memenuhi kebutuan mingguan dan sekaligus, merayakan jumatan di mesjid besar yang ada di sekitar pasar. 

Ditengah keramaian pasar, ibu itu tanpa sengaja melihat sosok yang berpakaian panjang serba putih, lalu ia teringat akan mimpinya. Ibu itu kemudian menghampirinya, meminta salaman dan memeluk, dan memberikah sedekahnya.

Dari cerita kelurga, sosok H. Beddu Rasyide memang dikenal sosok religius. Di Sumatera dahulu, Bapak bercerita, jika berkunjung ke kediaman beliau di pedalaman, mereka (suami-istri) sering mengadakan majelis zikir berdua. Katanya, kalau bukan Puang H. Beddu Rasyide yang mengingatkan untuk zikiran, Puang Nina yang mengajak suaminya. 

Suatu tradisi keluarga yang mungkin tidak terwariskan/terputus.

Dari cerita-cerita bapak (Muhammad Tahir), baik tentang puang Darise maupun H. Beddu Rasyide mengenai pengalaman religius mereka. 

Dan dari beberapa tulisan tangan dan lembaran-lembaran yang Bapak peroleh dari Puang Darise yang juga diperolehnya ayahnya (H. Beddu Rasyide), saya berkesimpulan keduanya kemungkinan mengikuti tariqah Saziliyah (salah satu dari 40 tariqah muktabar) dari Syekh Hasan Ali asy-Syadzili, yang berkembang pesat abad 13, di Mesir. Pengikutnya bertebaran diseluruh dunia muslim.

Menurut perkiraan, beliau menerima tarekat ini dari guru-guru tariqah yang ada di kabupaten Sinjai atau Bone. Guru-guru itu belajar di Tanah Suci Mekkah dan kembali mengajar di kampung halamannya. Dimana di Makkah atau Madina, banyak musryid-mursyid beragam alairan tariqah.

Makam puang Nina terletak di Parit 13 Indra Giri Hilir, ditanah rantauannya. Sementara H. Beddu Rasyide disemayamkan di Buttakeke, tepat samping belakang Mesjid Besar.

Menurut cerita keluarga, mesjid itu bediri atas inisiatif dan kerja nyatanya dalam mengajak masyarakat berislam lebi baik. Sehingga ketika beliau wafat, atas kehendak masyarakat, jasad beliau dikebumikan di sisi mesjid untuk mengenang jasa-jasanya. 

Dari dua rumpun keluarga ini, sesunggunya terdapat jejak “silsilah rohani” pada jalur leluhur yang mungkin penting untuk dinapaktilasi kembali oleh cucu-cucunya. Agar jiwa sejati leluhur keluarga tetap berkesinambungan dalam semangat spritual dan religiusitas, meskipun kita hidup berbeda-beda dalam ragam profesi duniawi.

SM, 27 April 2023.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda