Teater SMICHI: Tu Kalumannyang, Kisah Dari Atas Pentas Festival Teater Berbahasa Daerah
Penampilan anak-anak SMA 1 Muhammadiyah Makassar dalam Festival Teater Berbahasa Daerah, yang diselengarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, selama tiga hari pelaksanaan, dari tanggal 13 hingga 15 desember 2024, bertempat di Hotel Four Points, Kota makassar, cukup menyentuh banyak penonton.
Judul : Tu Kalumannyang
Pengarah: Guru Pembimbing SMICIH
Naskah : Guru Pembimbing SMICIH
Para Pemain : Fakhri sebagai Baso; Aminah sebagai So'na; Kenzie sebagai Sitti; Nisa sebagai Minah; Akram sebagai Soba; Rezel sebagai Naba; Fajrin sebagai Sanroa; Ucup sebagai Sangkala.
Teater Si Kaya dan Si Miskin di Atas Pentas
Usai penampilan teater SATU dari SMA 1
Makassar, yang tampil memukau, panitia meminta kepada peserta dari SMA
Muhammadiyah 1 Makassar (SMICHI) untuk bersiap-siap. Setelah panggung
disterilkan kembali oleh panitia, beberapa properti pementasan kembali diusung
ke panggung. Tim dari SMICHI menata properti untuk pementasan berikutnya.
Nampak di atas panggung seperti sebuah
kompleks perumahan, yang terdiri dari rumah mewah, rumah kumuh dan sebatang
‘pohon’ seperti sebuah tempat persembahan.
5 menit berlalu, lampu dalam ruangan seketika padam. Gelap, semua penonton hening seketika, dan perlahan tata cahaya menyorot ke panggung. Semua mata tertuju ke arah panggung: ada rumah berwarnah putih cerah, simbol rumah mewah, ada rumah kardus kusam, simbol rumah kumuh, dan sebuah tempat ‘pemujaan’.
Alunan musik klasik khas Makassar mengalun perlahan, seakan-akan sedang bercerita tentang kesedihan hidup seorang yang mengalami penderitaan dalam kehiupan.
Kemudian, seorang tua keluar dari dalam rumah kumuh, menggambarkan dalam
lakonnya sebuah keadaan yang hidup dalam kemiskinan. Nisa sebagai Minah, yang
memerankan ibu orang miskin, berjalan tertatih, sambil menampih beras. Salah
seorang anaknya bernama Soba’ yang diperankan oleh Akram, sedang mencangkul di
kebun dan anaknnya yang lain bernama Naba’ yang diperankan oleh Resel, nampak
sedang memulung barang-barang bekas.
Pada sisi lain, penghuni rumah mewah juga ditampilkan dengan pragmen, sedang bersenang-senang dengan kemewahannya dalam sikap kesombongan dan keangkuhan.
Aminah yang berperan sebagai ibu kaya benama So’na, kerjanya bersolek di depan cermin yang ada ditangannya, sementara anaknya yang diperankan oleh Ken Sidrah Annora Kezie sebagai Sitti, tampil dengan memegang uang yang dikipas-kipaskan ke wajahnya yang menor melalui tangan kanannya.
Di atas panggung tampil dua peristiwa
yang sangat kontras: antara kehidupan si kaya yang sombong dan angkuh dan
kehidupan si miskin yang papah namun rendah hati.
Si kaya hidup dengan menikmati kesenangan yang dinginkannya dengan
menghambur-hamburkan uang. Sementara si miskin, hidup dalam keprihatinan dan
ketakberdayaan dalam kesabaran dan ketabahan.
Anak si miskin ditampilkan sangat
mengabdi kepada kedua orang tua, mereka patuh dan senantiasa memberikan
penghormatan pada orangtuanya.
Alunan musik klasik makassar, menjadi penghantar dan backsound ragam
adengan yang seolah-olah melirikkan atau menceritakan kesedihan keluarga miskin
ini.
Sementara kehidupan tetanganya yang
kaya raya, digambarkan dalam situasi berbeda, yang hanya selalu memikirkan
kesenangan-kesenangan untuk terus mempercantik diri, anak-nakanya hanya
memikirkan uang orang tuanya, bagaimana selalu minta uang untuk
bersenang-senang dan foya-foya.
Kehidupan si kaya yang selalu terobsesi dengan kekayaan dan kecantikan,
akhirnya menjadi semakin tersesat, ketika si ibu orang kaya ini,
menghubungi seorang dukun bernama Sanroa yang diperankan oleh Fajrin,
untuk memasang susuk agar tampil makin cantik dan disenangi orang dengan
bantuan dukun. Dan menggadakan uang, agar semakin kaya.
Sang dukun melalui anaknya bernama Sangkala yang diperankan oleh Ucup, meminta
banyak harta dari si kaya sebagai imbalan atau bayaran untuk maksud si
orang kaya itu.
Namun kenyataan, tidak sesuai harapan.
Seluruh harta si kaya habis karena perbuatannya bersekutu dengan seorang dukun.
Dengan berkat ketabahan dan kesungguhan
dan harapan serta doa-doa kedua orang tuannya. Akhirnya, si anak miskin ini
dapat meraih cita-cita sebagai sarjana dan menjadi sukses dalam kehidupannya.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda