Sabtu, 14 Desember 2024

Teater SMICHI: Tu Kalumannyang, Kisah Dari Atas Pentas Festival Teater Berbahasa Daerah

Penampilan anak-anak SMA 1 Muhammadiyah Makassar dalam Festival Teater Berbahasa Daerah, yang diselengarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan,  selama tiga hari pelaksanaan, dari tanggal 13 hingga 15 desember 2024, bertempat di Hotel Four Points, Kota makassar, cukup menyentuh banyak penonton.

Judul : Tu Kalumannyang

Pengarah: Guru Pembimbing  SMICIH

Naskah : Guru Pembimbing SMICIH

Para Pemain : Fakhri sebagai Baso; Aminah sebagai So'na; Kenzie sebagai Sitti; Nisa sebagai Minah; Akram sebagai Soba; Rezel sebagai Naba; Fajrin sebagai Sanroa; Ucup sebagai Sangkala.

Teater Si Kaya dan Si Miskin di Atas Pentas

Usai penampilan teater SATU dari SMA 1 Makassar, yang tampil memukau, panitia meminta kepada peserta dari SMA Muhammadiyah 1 Makassar (SMICHI) untuk bersiap-siap. Setelah panggung disterilkan kembali oleh panitia, beberapa properti pementasan kembali diusung ke panggung. Tim dari SMICHI menata properti untuk pementasan berikutnya.

Nampak di atas panggung seperti sebuah kompleks perumahan, yang terdiri dari rumah mewah, rumah kumuh dan sebatang ‘pohon’ seperti sebuah tempat persembahan.

5 menit berlalu, lampu dalam ruangan seketika padam. Gelap, semua penonton hening seketika, dan perlahan tata cahaya menyorot ke panggung. Semua mata tertuju ke arah panggung: ada rumah berwarnah putih cerah, simbol rumah mewah, ada rumah kardus kusam, simbol rumah kumuh, dan sebuah tempat ‘pemujaan’.


Alunan musik klasik khas Makassar mengalun perlahan, seakan-akan sedang bercerita tentang kesedihan hidup seorang yang mengalami penderitaan dalam kehiupan.


Kemudian, seorang tua keluar dari dalam rumah kumuh, menggambarkan dalam lakonnya sebuah keadaan yang hidup dalam kemiskinan. Nisa sebagai Minah, yang memerankan ibu orang miskin, berjalan tertatih, sambil menampih beras. Salah seorang anaknya bernama Soba’ yang diperankan oleh Akram, sedang mencangkul di kebun dan anaknnya yang lain bernama Naba’ yang diperankan oleh Resel, nampak sedang memulung barang-barang bekas.

Pada sisi lain, penghuni rumah mewah juga ditampilkan dengan pragmen, sedang bersenang-senang dengan kemewahannya dalam sikap kesombongan dan keangkuhan.


Aminah yang berperan sebagai ibu kaya benama So’na, kerjanya bersolek di depan cermin yang ada ditangannya, sementara anaknya yang diperankan oleh Ken Sidrah Annora Kezie sebagai Sitti, tampil dengan memegang uang yang dikipas-kipaskan ke wajahnya yang menor melalui tangan kanannya.

Di atas panggung tampil dua peristiwa yang sangat kontras: antara kehidupan si kaya yang sombong dan angkuh dan kehidupan si miskin yang papah namun rendah hati.

Si kaya hidup dengan menikmati kesenangan yang dinginkannya dengan menghambur-hamburkan uang. Sementara si miskin, hidup dalam keprihatinan dan ketakberdayaan dalam kesabaran dan ketabahan.

Anak si miskin ditampilkan sangat mengabdi kepada kedua orang tua, mereka patuh dan senantiasa memberikan penghormatan pada orangtuanya.

Alunan musik klasik makassar, menjadi penghantar dan backsound ragam adengan yang seolah-olah melirikkan atau menceritakan kesedihan keluarga miskin ini.

Sementara kehidupan tetanganya yang kaya raya, digambarkan dalam situasi berbeda, yang hanya selalu memikirkan kesenangan-kesenangan untuk terus mempercantik diri, anak-nakanya hanya memikirkan uang orang tuanya, bagaimana selalu minta uang untuk bersenang-senang dan foya-foya.

Kehidupan si kaya yang selalu terobsesi dengan kekayaan dan kecantikan, akhirnya menjadi semakin tersesat, ketika si ibu orang  kaya ini, menghubungi seorang dukun bernama Sanroa yang diperankan oleh Fajrin,  untuk memasang susuk agar tampil makin cantik dan disenangi orang dengan bantuan dukun. Dan menggadakan uang, agar semakin kaya.

Sang dukun melalui anaknya bernama Sangkala yang diperankan oleh Ucup, meminta banyak harta dari si kaya  sebagai imbalan atau bayaran untuk maksud si orang kaya itu.

Namun kenyataan, tidak sesuai harapan. Seluruh harta si kaya habis karena perbuatannya bersekutu dengan seorang dukun.

Kehidupan mereka sekeluargapun ambruk. Anak-nakanya juga gagal dalam sekolahnya, akhirnya mereka hidup terpuruk dalam keputusasaan.


Sebaliknya, dalam kehidupan si miskin, yang selalu sederhana dan selalu berusahan membuat anak-anaknya termotivasi untuk sukses walau dalam keadaan yang serba memprihatinkan.

Dengan berkat ketabahan dan kesungguhan dan harapan serta doa-doa kedua orang tuannya. Akhirnya, si anak miskin ini dapat meraih cita-cita sebagai sarjana dan menjadi sukses dalam kehidupannya.


Dan si anak miskin yang sekarang sudah sukses, menutup ceritanya dengan pesan moral mengenai pentingnya bersyukur dan tidak besfifat sombong angkuh.


Perlahan, sorot cahaya kuning emas meredup, meninggalkan bayangan para tokoh dan propertinya di atas pentas. Panggungpun kembali senyap-gelap dan pementasan teater SMICHI dalam Festival itu pun usai.


Sebuah alur naskah pentas yang menampilkan secara kontras dua kehidupan keseharian manusia, namun setiap pelakonnya menjalaninya dengan nilai-nilai berbeda, maka ending kehidupan merekapun berbeda. Satu keluarga berakhir tragis, dan keluarga yang lainnya berakhir bahagia.

 

 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda