Senin, 02 Februari 2015

HEBOH CHARLIE HEBDO


Oleh Syafruddin Muhtamar
 


Sepekan setelah seluruh dunia merayakan kedatangan tahun baru 2015, publik dikejutkan berita penyerangan sebuah kantor majalah satir di Prancis. 11 Januari ketika masih hangat suasana natal indah pada musim yang dingin di Eropa, 12 orang di dalam kantor Charlie Habdo harus meregang nyawa. Berondongan peluru menghujani rapat redaksi yang sedang berlangsung, tragedi berdarah tak terhindarkan. Serakan darah yang tumpah dan kesedihan setelahnya, menjadi noda bagi hikmat perayaan natal dunia di ujung tahun 2014 itu.

Sejenak dunia terhenyak. Setelah itu gelombang simpatik mengalir dari seluruh penjuru dunia. Simpati dan memberikan dukungannya kepada Charlie Habdo. Memaki dan melayangkan kutukannya pada pelaku kejahatan yang telah menimbulkan tragedi berdarah. Segera setelahnya, pihak keamanan memburu orang-orang yang dianggap bertanggungjawab atas kejadian keji tersebut. Tersebutlah dua nama paling mungkin jadi tersangka; Cherif Kouachi and Said Kouachi. Dua bersaudara ini yang kemudian diidentifikasi sebagai ‘muslim’ dan dicurigai berafilisai dengan kelompok teror paling mengerikan, ISIS atau Al Qaidah. Seorang nama perempuan, yang ditengarai istri dari salah seorang pelaku penembakan, dikejar dan dicurgai akan mencari perlindungan di hingga ke ‘markas’ ISIS.

Dan menyeruaklah di tengah publik dunia sebuah pandangan mainstrem; kelompok teror ‘muslim’ melakukan penyerangan bersenjata terhadap kantor majalah yang telah menghina nabi yang paling dimuliakan. Media-media dunia turut memberikan gambaran yang sama; telah terjadi serangan terhadap kebebasan berekspresi oleh satu elemen masyarakat yang ‘anti kebebasan’. Kebebasan berekspresi dilawan dengan ‘keimanan’ yang meneror. Dunia makin diyakinkan akan adanya elemen-elemen penggangu kebebasan masyarakat dunia. Dan karenanya juga mereka harus diperangi.
Publik dunia juga mengetahui bagaimana jejak ‘menghina’ Charlie Habdo sebagai majalah satir terhadap tokoh-tokoh suci, telah membuat sedih dan marah banyak kaum religius, terutama kaum muslim dunia. Kali ini Charlie Habdo membuat kehebohan baru diawal tahun baru 2015, dengan memuat kembali karikatur nabi suci dengan kesenonohan yang sulit diterima kaum beriman Islam.

Peradaban yang Membusuk
Fenomena satir Charlie Habdo dan pembunuhan atas penghinaan adalah satu gambar dari sebuah mozaik peradaban manusia yang tengah dalam masalah serius. Abad 21 adalah abad yang diklaim sebagai puncak emas peradaban moderen, kini nampaknya akan kembali meluncur ke titik nadir. Berbagai bencana dan tragedi kemanusiaan sebagai refleksi atas  ‘kecerdasan’ manusia moderen, baik mewujud lewat perang antar bangsa dan negara, kejahatan terorganisir, terorisme, penyakit, bencana alam, kemiskinan dan kemerosotan moral, memberi kita penglihatan atas sebuah peradaban yang tengah membusuk.

Jika sebuah apel yang segar dan tentu saja tanpa gangguan hama, akan nikmat bagi kita mengkonsumsinya, bahkan sebelum manis buah apel itu memasuki kerongkongan, pandangan kita telah dibuat senang akan buahnya yang montok. Namun dihadapan kita sekarang ini adalah apel yang digerogoti ulat penghancur buah.

Peradaban moderen atau katakanlah peradaban Barat karena modernisme ini mengakar pada ‘pandangan dunia’ Barat, adalah ‘satu-satunya’ peradaban yang berusaha menjelmakan dirinya dalam universalisme dengan beragam cara kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia, 5 abad terakhir. Peradaban ini membawa mimpi agung yang ditandai dengan nama individualisme, liberalisme, konstitusi, hak asasi manusia, persamaan, kebebasan, demokrasi, dan tentu juga sekularisasi. Dan mengaraknya secara masif diabad global ini dengan kekuatan penuh dalam beragam instrumen kekuatan yang mungkin bisa dikerahkan, dari yang halus hingga yang paling kasar. Hasilnya tidak mengecewakan, sekarang mayoritas negara-negara dunia berpacu dan malu jika tidak memodernisasi dirinya.

Tetapi dari pusat-pusat peradaban ini, di negara-negara industri maju, terjadi proses melawan dirinya sendiri; mengobarkan perang demi menegakkan demokrasi di negeri-negeri jauh. Merontokkan kekuasaan yang dianggap penghalang tegaknya demokrasi Barat lewat peopel power. Setelah itu membiarkan perang saudara terjadi untuk melemahkan situasi nasional dan sekaligus sebagai pintu masuk untuk menancapkan kuku-kuku hegemoni lewat konstitusi. Pemakasaan kehendak atas suatu isu atau kepentingan strategis dan pengamanan atas kepentingan ini, seringkali tidak rasional. Sifat hegeminok dari ‘peradaban’ inilah yang sering memicu perlawanan dari suatu elemen masyarakat yang tidak menyetujui prinsip-prinsip dasar dan operasional dari peradaban yang akan diwujudkan secara universal oleh Barat ini.

Kita tidak ingin menyebut fenomena satir dan teror Charlie Habdo ini sebagai wujud dari apa yang sering disebut sebagai ‘benturan peradaban’. Nilai kebebasan berbenturan dengan nilai ‘keimanan’. Dalam kasus Charlie Habdo ini tidak ada benturan peradaban, yang ada adalah bahwa penomena itu mewakili fenomena lainnya mengenai peradaban mutakhir manusia tengah mengalami pembusukan. Dan bahwa teori benturan peradaban ini susah diterima akal yang baik. Yang ada adalah apel yang tumbuh dan mengakar dari bumi pemikiran Barat itu kini digerogoti bakteri dalam dirinya, yang membuat sebagian buah itu mulai membusuk diserang ‘irrasionalnya’ sendiri.

Kebebasan yang diusung peradaban moderen itu kini mulai menuai hama yang akan mengancam keberlangsungannya, hama itu adalah ‘imaji liar’ berbalut maksud diluar akal sehat yang disebutnya dengan kebebasan kreatif, seni dan keindahan. Menggambar senonoh pribadi yang dimuliakan oleh suatu ummat beragama, tentu adalah pelecehan, perendahan dan penghinaan. Dan pasti akan mengusik keimanan ummat yang ‘direndahkan’ ini. Manusia siapapun pasti akan mengutuk penghinaan.

Tetapi penghancuran membabibuta dan tindakan pembunuhan brutal sebagai respon atas penghinaan juga bukan tindakan orang beriman. Sepanjang sejarah kenabian Muhammad SAWW, dalam penghadapi segala situasi ktiris dalam penyebaran risalah Islam, sang Nabi tidak pernah melakukan tindakan pembunuhan atau memerintahkan pembunuhan ataupun penyiksaaan atas penghinaan yang diterimanya. Sifat mulia kenabian yang melekat dalam dirinya dan keyakinan dan kecintaan yang sempurna pada Allah SWT, telah mencegahnya mengambil tindakan tidak manusiawi kepada orang-orang yang menyakiti dan menghina dirinya.

Pembunuhan keji atas awak media satir Charlie Habdo juga bukanlah tindakan orang yang beriman pada kemuliaan sang Nabi. Kemarahan karena penghinaan terhadap kemuliaan nabi dapat dibenarkan, namun refleksi kemarahan yang penuh nafsu kebencian sama maknanya dengan pengingkaran atas kemuliaan suci kenabian Muhammad SAWW. Dapat kita simpulkan, serangan atas majalah Charlie Habdo yang tragis itu dengan atas nama ummat Islam, adalah sangat tidak bisa dibenarkan dan ditolak mentah-mentah oleh akal sehat. Peristiwa ini hanya bagian dari suatu proses dari peradaban dunia yang tengah merosot. Tidak terkelupas secuilpun kulit kemuliaan kenabian Muhammad SAWW dan tidak sedikitpun tergerus rahmatan lilalamin sebagai nilai-nilai universal Islam atas peristiwa itu.

Sekali lagi peristiwa itu hanya refleksi dari sebuah peradaban dunia yang sedang dalam kondisi membusuk dari dalam dirinya, karena termakan bakteri dari sifat-sifat anti peradaban.

Permainan di Luar Batas Peradaban

Fakta satir dari kebebasan berkreasi beberapa media massa di dunia dan terorisme global, adalah dua hal yang bertemu di titik watak yang sama, yaitu ‘melampauai batas’. Segala yang ‘melewati batas’ adala hal-hal yang telah lampaui sifat-sifat kemanusiaan, akal sehat dan keber-adab-an. Dan yang diluar batas kemanusiaan, rasionalitas dan adab adalah nafsu ‘kebinatangan’. Implementasinya tentu akan mengundang penghancuran dan keruntuhan hidup kemanusiaan.

Nilai-nilai kebebasan yang diusung peradaban moderen dalam batas rasional, manusiawi dan beradab, tentu sangat diharapkan. Dan mungkin akan semakin mengokohkan perjuangan untuk ‘menguniversalisasi’ nilai-nilai itu di antara bangsa-bangsa didunia, karena akan mendapat sokongan dan pengikut yang setia. Namun jika kebebasan itu telah melewati batas normalnya, melampaui garis toleransinya, maka inilah yang  akan menimbulkan situasi diluar harapan.

Terorisme sebagai jalan yang dipilih untuk menegaskan identitas masyarakat tertentu, juga adalah jalan yang melewati batas. Jika elemen itu menegaskan identitasnya sebagai ‘muslim’, maka ajaran Islam menentangnya. Tidak ada jalan teror bagi kesewenang-senangan yang dihadapai oleh masyarakat muslim. Nilai-nilai kebaikan Islam tidak membenarkan ‘tantangan’ yang menerpa jalanan sejarah peradaban yang dibangunanya, dihadapi dengan nafsu amarah yang membara. Ajaran Islam menghendaki pilihan-pilhan menghadapi tantangan kehidupannya harus jatuh ketangan rasional, manusiawi dan beradab. Diluar ini, hanya pilihan hewania. Dan terorisme bukanlah pilihan karena itu hanyalah tindakan kebiadaban.

Peradaban manusia moderen mutakhir yang demikian terobesi untuk menjadi universal, dalam perjalanannya telah membelit kakinya dengan mimpi-mimpi yang melambung diluar batas nalarnya sendiri. Mimpi-mimpi dalam kepentingan ekonomi dan politik global dalam semangat pengendalian yang masif, telah menimbulkan berbagai ‘permainan kontor’ untuk meloloskan ragam kepentingan itu. Terorisme ‘diciptakan’ sebagai anti tesis atas tesis ‘peradaban’ yang tengah dikembangkan. Dan satire yang ditampilkan juga bukanlah buah  dari nalar peradaban, tetapi suatu yang telah menyimpang dari poros peradabannya sendiri.

Satirisme dan terorisme sama-sama sebuah permainan yang merisaukan peradaban sesunguhnya yang dinginkan ummat manusia. Manusia moderen telah berani memasuki wilayah di luar batas rasionalitas, kemanusiaan dan keadabannya sendiri, sebagai wilayah agung sebuah peradaban, untuk memulai permainan yang dengan serius mereka mainkan dengan dalih menegakkan ‘peradaban’. Menghinaan yang ditampilkan sebagai seni dan kekebasan berekspresi dan balas dendam berutal atas nama pembelaa kemuliaan; sesuatu yang tidak mungkin kita benarkan, juga dengan dalih apapun.

Majalah satir Charlie Habdo yang nampaknya sengaja memilih waktu tepat untuk memuat kembali karikatur menghina itu, ditanggapi banyak pihak sebagai upaya provokatif. Memanfaatkan momen bulan kelahiran Nabi suci untuk menerbitkan edisi yang berdampak paling mengerikan sepanjang sejarah majalah tersebut, tentu dengan suatu pertimbangan. Juga serangan jitu pasca penerbitan itu, ketika jantung majalah tersebut sedang berdenyut dalam rapat redaksi. Banyak menimbulkan tanya publik kritis, bahwa peristiwa ini mengingatkan kita kembali pada ‘misteri’ 11 september tragedi WTC satu setengah dekade lalu.

Islamfhobia makin merebak dan menguat di Prancis pasca kejadian ini. Sesuatu yang mungkin dikehendaki dari permainan ini, dan makin melegamlah wajah masyarakat Islam dalam citra sebagai masyarakat ‘berbahaya’ dalam peradaban mutakhir. Dan Charlie Hebdo yang dikabarkan bermasalah dengan keuangan, kini merenggut keuntungan besar dibalik peristiwa ini, karena dalam suasana dukapun majalah ini tetap terbit dengan jumlah oplah yang fantastik, dan semua habis terjual. Simpati yang datang bergelombang dari seluruh penjuru dunia, dimanfaatkan sebagai momen penjualan paling menggiurkan. Permainan yang benar-benar menguntungkan. Duka yang berbalut manis.
  

Label: ,

Jumat, 08 Agustus 2014

HANTU GENTAYANGAN ISIS

Oleh Syafruddin Muhtamar


Ada hantu yang baru lahir dalam sejarah terorisme. Keberadaanya sedemikian mengguncang denyut kehidupan masyarakat muslim, bukan hanya wilayah kelahirannya di Timur Tengah, namun juga ummat muslim dunia umumnya. Adalah ISIS (Islamic State in Iraq and al-Syam) hantu teror baru pasca Al Qaeda yang fenomenal itu, dalam sejarah teror global, menjadi icon teror termutakhir dalam jagat perteroran dunia. Klaimnya akan pemerintahan Islam bagi masyarakat muslim seluruh dunia dengan bentang kekuasaan dari Iraq hingga Suriah, telah memaksa ummat muslim lainnya untuk memberikan baiatnya kepada Abu Bakar Al Baghdadi sebagai khalifah Daulah Islam yang mereka angkat. Ketakutan telah melanda masyarakat di sekitar dan dalam wilayah kekuasaan mereka. Sepakterjangnnya yang mengerikan dalam mengerjakan apa yang mereka namakan ‘menjalankan misi suci pemerintahan Islam’ melawan musuh-musuh Allah, telah menimbulkan antipati bagi sebagian besar kaum muslim. Bahkan klaim ‘status’ mereka sebagai Daulah Islmiah, meragukan.

Kekerasan dan pembunuhan adalah cara-cara yang diandalkan, diutamakan dalam menegakkan Daulah Islamiah yang mereka klaim itu. Cara-cara ini tidak hanya telah menumpahkan darah saudara-saudara muslim mereka, namun juga menyengsarakan masyarakat umum lainnya dan tentu sangat mencoreng serta mengotori wajah Islam yang sesungguhnya. ‘Kekhalifaan’ beringas yang mereka jalankan membuat banyak pengamat curiga akan keberadaan mereka. Bahwa mereka tidak lebih sekedar ‘chaki’ si boneka yang berwajah hantu dengan semangat membunuh paling dingin, didesain untuk menimbulkan huru-hara di ‘perkampungan’ kaum muslim.

Analis mengatakan, ISIS adalah bentukan lembaga-lembaga intelejen internasional yang bertujuan melindungi kepentingan mereka secara sepihak, dengan sengaja mengorbankan kepentingan kedamaian, kesejahteraan dan keadilan ummat manusia secara umum, terutama secara khusus ummat muslim. Kekuatan ‘kuasa dunia’ tengah dan terus akan memainkan permainannya dalam rangka menegakkan angkara murka dimuka bumi dengan wajah bertopeng manis. Dengan memanfaatkan kemampuan ‘rahasia’, para ‘pengendali’ dunia merancang permainan seolah sebuah takdir semesta, yang kemudian pihak merekalah yang akan keluar sebagai pemenang di ujung rancangan permainan tersebut. Tidak perduli sejauh apa kehancuran, kemerosotan dan huru-hara terhadap kehidupan manusia yang ditimbulkan oleh desain permainan ini. Bahkan mungkin efek destruktif inillah yang justru jadi motiv utama permainan, sekaligus dengan demikian akan membentengi dan menjaga kepentingan entitas elit-elit ‘kuasa dunia’.

Saat ini dunia tengah dalam permaianan yang sungguh berbahaya dalam sejarah manusia. Bersengketa, berkonflik dan berseteru adalah permainan yang demikan digandungi diakhir zaman ini oleh bangsa-bangsa dunia. Dampaknya bisa kita lihat pada setiap kawasan-kawasan benua bumi, senanatiasa diguncang perang, penderitaan dan kesengsaraan merajalela. Seolah tidak ada lagi tempat aman buat manusia dimuka bumi. Seluruhnya telah menjadi medan perang dalam segala bentuk dan dinamikanya. Bagi kaum muslim di abad mutakhir sejarahnya, terorisme telah menjadi momok bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Tidak hanya melemahkan dari ‘dalam’ namun juga menekan dari ‘luar’. Dan paling berat adalah menanggug citra sebagai agama ‘teroris’ di mata masyarakat dunia, dan dampak psikologis yang ditumbulkannya, yakni semakin hilangnya ‘selera’ berislam secara bersungguh-sungguh. ‘Keseriusan’ berislam seringkali menimbulkan ketakuan terhadap tuduhan sebagai ‘teoris’.

Keberadaan kelompok teror global era pimpinan Osama Bin Laden yang ‘spektakuler’, cukup menimbulkan sindrom ‘lemah selerah’ bagi kaum muslim yang ingin menjalankan nilai-nilai keislamannya secara lebih ‘serius’. Kali ini setelah ‘proyek teror Al Qaeda’ mulai meredup, permainan itu kembali dilanjutkan dengan membuat icon teror baru bernama ISIS. Hantu teror baru ini bergentayangan, diseantero ‘perkampungan sejarah’ muslim dengan bendera baru bernama ‘daulah Islmia ISIS’. Proyek permainan teror baru kembali digelar oleh para ‘kuasa dunia’ untuk terus menciptakan ‘takdir’ kemenangan mereka sendiri, dengan membentuk boneka imut bernama ISIS. Menebar kengerian dimana-mana, khusunya diwilayah yang mereka kuasai, hadir laksana hantu-hantu gentayangan di wilayah-wliayah berpenduduk muslim besar seperti di Indonesia. Mereka menyebar hampir di setiap provinsi menggalang kekuatan secara sembunyi-sembunyi, meskipun menghadapi penentangan secara resmi dari pemerintah dan oleh ormas-ormas Islam seluruh tanah air. Kalangan Islam tanah air beranggapan, keberadaan ISIS di nusantara akan menjadi pemancing dan penyebab meluasnya pertentangan, konflik dan pertikaian antar umat.

Keberadaan hantu teror baru ini ditanah air, secara tegas ditolak kaum muslimin terutama karena akan mancabik-cabik kedamaian, persatuan dan ketenangan masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya dalam konteks kepentingan ummat muslim, namun juga urusan dan kepentingan nasional. Dalam beberapa dekade terakhir, puncak isu terorisme telah menimbulkan kegoncangan tersendiri bagi kaum muslim tanah air. Ketidaknyamanan ‘sebagai Islam’ merupakan buah langsung dari proyek teror global yang dirancang secara apik oleh ‘kuasa dunia’ secara ‘rahasia’. Sehingga pemberantasan terhadap terorisme menjadi salah satu program penting pemerintahan bidang keamanan dan menciptakan kesibukan tersendiri yang nampak ‘dramatis’. Dan sikap eforia kelompok-kelompok Islam berbasis aksis radikalisme atas ‘terbentuknya kekhalifaan dan daulah Islam’ dan simpati terhadap telah ‘diteggakannya syariat Islam’ versi ISIS  akan menjadi potensi yang menyuburkan agenda teror diseantero dunia muslim termasuk di tanah nusantara ini.


Eksistensi ISIS yang lebih ganas dari pendahulunya Al Qaeda akan menambah runyam perjalanan sejarah kehidupan ummat Islam yang mengemban amanat qurani rahmatan lilalamin. Hantu-hantu ISIS yang bergentayangan itu setiap saat mengacam prinsip-prinsip dasar kelembutan/rahmat bagi semesta alam. Yang jahat tetap akan jujur memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya, yang baik demikian pula, akan menampakkan rupanya dengan jujur dan mungkin lugu.    

Label:

Kamis, 31 Juli 2014

HARI KEMENANGAN

Oleh Syafruddin Muhtamar 

 

Hari Kemenangan adalah sebuah istillah populer ketika tiba waktu berlebaran bagi kaum muslim. Popularitas ini biasanya berlangsung seminggu sebelum dan sesudah waktu istimewa itu datang. Masyarakat muslim menyambutnya dalam beragam bentuk kegiatan harian. Disambut oleh hampir semua lapiran usia dalam masyarakat yang melaksanakan ibadah puasa. Kebahagiaan menjadi tanda utama dari semangat penyambutan dan dalam proses menjalankan ketika tiba waktu yang dinanti-nanti ini.

Hari kemenangan itu adalah Idul Fitri. Hari ketika kaum muslim mengakhiri ibadah puasa ramadhannya dengan seruan pujian mendalam atas kebesaran dan keagungan Tuhan Semesta Alam, dan ucapan kesukuran yang tiada batas atas nikmat dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Hari dimana kesucian menjadi mahkota bagi hamba-hamba yang bersungguh-sungguh dalam sebulan ibadah ramadhan, mengerjakan sedemikian banyak dan khusyu, amalan-amalan yang dianjurkan, dari menahan diri dari makan dan minum, bertadarrusan, shalat malam yang panjang hingga doa-doa yang tiada henti terucap di bibir. Hari kemenangan itu lalu 'dirayakan' dalam Lebaran.

Berlebaran kemudian menjadi 'ritual' akhir pasca berpuasa sebulan penuh. Berlebaran bagi kaum muslimin, kemudian menjadi tradisi keagamaan yang feomenal, bukan hanya bagi masyarakat dunia, tetapi terutama pribadi-pribadi muslim yang menerimah ibadah ini secara tulus. Pada momen berlebaran inilah hari kemenangan itu 'dirayakan'.

Perayaan kemenangan ini, tidak hanya berhenti sebagai sebuah 'simbol', namun melampauinya dan menyusup hingga ke maknanya yang hakiki. Salah satu tanda yang 'unik' kita temukan adalah, adanya kecenderungan 'kekanak-kanakan' masyarakat muslim, memperbarui seluruh aksesoris yang ada, baik yang melekat di tubuhnya maupun dalam tempat tinggalnya. Sehingga menjelang lebaran, berbondong-bondong kita memenuhi tempat-tempat belanja dari pasar tradisional, mall, swalayan, supermarket hingga hipermarket. Ini demi memenuhi kebutuhan kita akan aksesoris-aksesoris baru itu. Tradisi berlebaran selalu didahului ritual belanja untuk pem-baru-an. Sesungguhnya ini hanyalah simbol, mengenai 'kelahiran' kembali di bulan suci ini. Setelah menjalankan ibadah sebulan penuh, manusia muslim kembali lahir dalam 'kefitrahannya'. Seluruh dimensinya mengalami pem-baru-an tersebut. Kita kembali fitrah.

Baju baru, kursi dan lemari baru, cet rumah yang baru, mobil baru dan semua yang baru yang kita miliki, hanyalah refleksi dari makna 'baru' yang sesungguhnya. Aksesoris ini merupakan penggambaran dari sebuah 'kedalaman tertentu' yang bersifat sejati dari hari kemenangan di bulan fitrah ini. Kesemarakan yang baru ini adalah perayaan kemenangan atas perjuangan yang 'melelahkan' hingga tiba waktu kemenangan yang ditunggu itu datang. Kesemarakan yang terjadi dalam momentum lebaran, dimana semangat kegembiraan menampakkan diri sedemikian vulgar dalam bentuknya yang paling 'ektrem', adalah perayaan kemenangan. 

Tentu saja kemenangan itu ada yang sejati dan ada yang 'main-main' alias semu semata, karena seringkali kita hanya menjadikan momen 'kemenangan' ini sebagai ajang 'pamer diri' saja. Mereka yang meraih kemenangan sejati kadang tidak nampak secara 'semarak' oleh mata, seringkali hanya terasa secara personal yang juga tidak terkatakan oleh bahasa dan penampilan-penampilan secara vulgar. Kemenangan sejati perayaannya tidak sebagaimana perayaan non sejati. Perayaan itu mungkin terjadi hanya dalam labirin hati yang suci. Hati yang mendapat rahmat Ilahi karena perjuangannya yang sungguh-sungguh di bulan ramadhan.

Apapun bentuk perayaan kemenangan pasca ibadah suci bulan ramadhan, bagi masyarakat muslim tradisi perayaan dalam bentuk berlebaran, akan selalu ada dalam segala dinamikanya. Satu hal yang tak akan tertolak oleh kaum muslim adalah rasa bahagia yang meruah dari setiap jiwa mereka. Kebahagiaan ini kemudian memicu rindu bagi mereka yang berjauhan dengan orang yang dikasihi, sehingga menimbulkan gelombang mudik disetiap tempat diseluruh penjuru dunia. Rasa rindu itu juga kemudian mewujud dalam ragam bentuk sillaturahmi antar saudara, keluarga, kerabat dan tetangga. Saling berbagi kebahagiaan dalam jamuan makanan-makanan khas setiap datang waktu lebaran. Dan paling subtansial adalah kerelaan untuk meminta dan saling memberi maaf antar sesama.

Telah datang lagi, hari kemenangan yang 1435 kalinya. Setiap kita akan menunggu kedatangannya pada setiap tahun yang menjelang, dengan doa-doa harapan kepada Sang Pemberi Kemenangan. Harapan yang tiada pupus setiap kita panjatkan untuk kembali menemui kebahagiaan sejati itu dalam melaksanakan ibadah suci ramadhan. 1435 sudah kita setia merayakan kemenangan setiap tahunnya. Sejarah dan nilai-nilai keislaman telah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya berjuang mensucikan diri dalam ibdah untuk sebuah kemenangan yang hakiki.      




  



  

Label:

Selasa, 22 Juli 2014

DI JALUR GAZA TIADA UJUNG SENGSARA

Oleh Syafruddin Muhtamar

Duka kembali datang bagi warga Palestina. Bulan suci yang seharusnya dijalani dalam suka cita, tetapi ternoda keberutalan perang yang disulut Israel. Serangan udara menelan jiwa anak-anak tak berdosa, membunuh puluhan ibu dan orang-orang tua. Memorak-porandakan rumah dan gedung-gedung tempat tinggal mereka. Kesyahduan dan kekhusukan ibadah bulan suci raib bersama kecemasan, rasa takut dan ketakberdayaan yang melanda warga Palestina, terutama diwilayah Gaza. Agresi Israel penuh nafsu itu meronrong ketenangan dan kedamaian ibadah warga menjadi kengerian yang mencekam sepanjang hari.
Seluruh mata dunia membelalak, terkesima dan kemudian sayu kembali. PBB telah mengeluarkan suaranya membenarkan tindakan Israel, meskipun memberi ruang mungkin bagi pelangaran hukum perang. Negara ‘berlabel’ muslim berlombah-lombah menggalang bantuan kemanusiaan untuk meringankan derita warga korban keberutalan agresor zionis. Warga muslim memenuhi jalan-jalan kota, protes tindakan keji tentara Israel. Hal yang berulang-ulang terjadi sepanjang sejarah ‘perang’ Israel-Palestina. Namun derita warga Palestian tiada kunjung usai ditengah hiruk pikuk usaha perdamaian dan kemanusiaan dari berbagai bangsa-bangsa dunia.
Apakah sejarah akan melangggengkan derita itu hingga akhir hayatnya? Atau hingga Palestina hilang dari peta dunia, tanpa harus menunggu akhir sejarah? Sejarah pulalah akhirnya kelak akan menjawab. Selama ini warga dunia, hanya diliputi ketidakmengertian atas permusuhan ‘abadi’ ditanah arab itu. Sejarah keagamaan Musa pada masa silam yang panjang menjadi faktor kunci atas konflik yang terjadi akibat tangan-tangan manipulatif dari bangsa-bangsa yang serakah akan kekuasaan duniawi. Sejak mendeklarasikan negara 1948, Israel telah menduduki 70 % tanah Palestina sebagai wilayah pemerintahannya. Kehidupan warga Palestina semakin tersudut dalam wilayah yang semakin mengecil. Dan terus-menerus dalam penderitaan sepanjang penjajahan itu; blokade ekonomi dan pembatasan akses dengan tembok-tembok politik sepanjang perbatasan Negara makin memperburuk keadaan bangsa yang terjajah ini.
Perang mutakhir antara dua ‘seteru’ ini telah berlangsung hampir dua pekan puasa ramadhan. Tercatat hampir 200 warga palestina syahid, ratusan lainnya harus dirawat karena menderita luka dan banyak yang lainnya terpaksa mengungsi dalam perang di bulan suci ini. Hal yang sama dilakukan Israel dalam perang delapan hari 2012 lalu, yang banyak pihak menyebutnya sebagai genosida. Dan sebelumnya, pada tahun 2008-2009, angkara murka tentara Israel menewaskan 1.400 orang, 350 diantaranya anak-anak, lebih 5.000 orang terluka. Israel begitu bernafsu menghancurkan kehidupan warga Palestina, yang sekian lama tidak berdaya. Dan nampak perang kali inipun, tidak ada sinyalemen Israel akan menghentikan keberutalannya. Serangan udara yang digencarkan sejak awal, akan diperkuat dengan serangan darat. Jalur Gaza kali ini menjadi sasaran empuk untuk serangan kejam kesekilan kalinya.
Wilayah Gaza merupakan pilihan ‘pavorit’ tentara Israel karena menjadi basis utama kelompok Hamas, yang dalam garis perjuangannya hanya menghendaki ‘one state solution’ artinya tidak ada Negara Israel dalam benak mereka. Selain bahwa Negara Israel hanyalah bangsa menjajah yang harus enyah dari bumi Palestina. Agak sedikit berbeda dengan Fatah, kelompok perjuangan yang masih melihat kemungkinan ‘two state solution’ dalam garis perjuangnya. Namun dekade belakangan dalam pemerintahan Palestina, kedua kelompok perjuangan rakyat ini telah bersatu dan bahu-membahu membangun masa depan Negara, membangun kehidupan yang merdeka. Realitas ini membuat Israel kelabakan menghadapi kemungkinan kekuatan penyatuan tersebut. Refleksinya kemudian adalah perang brutal dan membabi buta.
Gaza lalu menjadi wilayah tragedi kemanusiaan. Di atas tanahnya seluas 365 kilometer pesegi, panjang 40 kilometer dan lebar 13 kilometer, warga hidup dalam ‘kesumpekan’ yang menekan jiwa dan raga karena kesengsaraan. Penjajahan Israel telah menjadikan Gaza bagaikan ‘penjara’, bahkan banyak menyebutnya sebagai ‘penjara terbesar dan terpanjang di dunia’. Hampir disebagian besar perbatasan wilayahnya tertutup tembok pembatas yang dibangun Israel. Menyebabkan warga hidup dalam kungkungan tembok kehidupan yang sempit dan tertutup. Pos-pos penjagaan bertebaran dimana-mana mengawasi warga Gaza yang ingin bepergian keluar wilayah. Kekebasan mereka demikian terampas oleh tentara-tentara Israel yang berjaga di seluruh perbatasan. Hampir setiap dekade udara langit Gaza dihiasi gunungan api dari ledakan bom serangan Israel yang tanpa ampun menghujam jantung kehidupan warga.
Penderitaan panjang bangsa Palestina, nampaknya terus akan menghiasi ruang-ruang baca dan ingatan kita. Seruan-seruan damai dunia Internasinal dari semua pihak yang berkompeten, diabaikan Israel bagai aroma angin tak sedap. Serangan keberutalan terus saja dipertontonkan dalam perang yang tidak seimbang. Jika menilik sejarah, rangkaian panjang tragedi kemanusiaan di Palestina, bermula juga dari sebuah ‘keberutalan’. Pengingkaran perjanjian tentang ‘penyerahan tanah jajahan kepada bangsa Arab’ (1915) oleh Inggris setelah perang dunia pertama, dan menyokong penuh deklarasi Balfour (1917) bagi ‘national home’ orang-orang Yahudi di tanah Palestina, adalah sebuah ‘keberutaalan’. Maka kesengsaraan Palestina adalah hasil dari warisan keberutalan demi keberutalan pihak-pihak tidak bertanggungjawab dalam sejarah dikawasan tersebut. Dan Israel telah menjadi monster pemangsa ‘abadi’ bagi kehidupan orang-orang Palestina disetiap masa.
Bagi Israel menyerang jalur Gaza sudah menjadi ritual pesta empat tahunan. Eskalasi serangan dan korban yang bergelimpangan mengggambarkan sikap Israel yang tanpa kemanusiaan meluhlantakkan kehidupan masyarakat yang tak berdaya. Israel sedemikian tidak perduli terhadap apapun dan siapapun demi ambisi membangun tanah airnya sendiri. Tanah air illegal yang dibangun dengan jeritan sengsara masyarakat Palestina bertahun-tahun. Derita kesengsaraan berulang-ulang yang masyarakat dunia saksikan sepanjang abad ini. Mungkinkah kelak suatu masa, sejarah akan memihak pada penderitaan itu dan menghentikan cucuran air mata kesedihan yang tiada pernah bisa tertahankan dari masyarakat Palestina?        

   



     


     
      

Label: