Jumat, 03 Januari 2025

CERPEN: Mutiara Itu, Ibuku

Di atas sebuah tikar tua aku meletakkan jemuran. Tikar anyaman rotan halus warisan ibu. Warnanya mulai kusam kecoklatan, beberapa tasi jahitan bagian sisi-sisinya sudah berlepasan.

Pada suatu masa, di atas tikar itu aku pernah bersama ibuku melipat pakaian bapak dan baju-bajunya, ketika sore, sehari dalam liburan kuliah. Aku tidak pernah mengerjakan hal itu sebelumnya di rumah ini, bahkan belajar memasak sekalipun.

Tidak pernah ibu menyuruh pengerjakan pekerjaan rumah tangga, sejak usia sekolah hingga menjelang studi sarjanaku selesai. Dalam libur terakhir masa studi itulah, tiba-tiba saja  ibu memintaku untuk menemaninya melipat pakaian ayah dan pakaiannya yang telah kering.

Suatu hal yang tak pernah aku duga, ketika itu.

“Wah, kamu pintar melipat pakaian, rapih dan tersusun teliti,” ibu terseyum bahagia melihat pekerjaanku. Namun wajahnya menunjukkan raut sebuah pikiran yang tidak dimengertinya.

Ibu memang tidak pernah mengajarku langsung menjadi seorang perempuan yang seharusnya. Perempuan yang handal mengerjakan urusan rumah tangga.

Sejak usia sekolah, aku sudah dititip di rumah nenek, di sebuah kota Kabupaten untuk bersekolah di SD hingga SMP. Jaraknya 20 km dari desa rumah tinggalku. Memasuki sekolah SMA, aku dititip lagi ke keluarga paman di ibu kota provinsi. Jarak tempuhnya sehari semalam, karena harus melintas lautan. Dan keterpisahan kami, lebih jauh lagi ketika aku diterima  kuliah di negeri jauh, dekat benua Eropa yang berbatasan Asia, melalui beasiswa pemerintah Turkie, di Istanbul.

Tidak tahan aku menahan airmata kesedihan, ketika usiaku masih sangat kecil, ibu dan bapak meninggalkan aku sendirian di rumah nenek, suatu malam selepas isyah, ketika mobil penumpang pesanannya telah tiba di depan pekarangan rumah, untuk menjemput mereka pulang.

Dua malam keduanya menemaniku untuk suatu perpisahan yang nyata. Tidak bersama-sama selama 6 tahun lamanya, setelah itu.

Malam terakhir di rumah nenek, kami tidur bertiga. Malam itu, teramat berat bagiku untuk berlalu dan rasanya tidak rela untuk tiba dipagi hari.

Dalam dekap tangannya yang lembut, ibu berbisik pelan di telingaku, “Ibu sangat menyayangimu nak, insyaAllah kelak kamu akan menjadi perempuan yang baik, bahagia dan pintar. Ibu akan bangga punyak anak sepintar kamu nanti. Bapakmu juga akan bahagia dengan kamu yang akan menjadi orang yang sukses. Rajin-rajinlah belajar, patuh sama nenek dan kakekmu. Jangan mengira ibu membuangmu di sini, nenek dan kakek akan menjagamu dengan baik, insyaAllah. Ibu akan datang jika rindu kepadamu, dan kita juga akan tetap bertemu lagi kalau kamu liburan sekolah”.

Aku tidak bisa menyimak kata-kata ibu. Aku hanya ingin dalam dekapannya terus-menerus malam itu, dan berharap tidak ada pagi yang akan datang.

Terasa hangat nafasnya menerpah wajahku, membuatku makin tidak ingin lepas dari pelukannya. Ibuku, terdiam cukup lama.

Ayah masih duduk di atas sejadah. Dia menyukai duduk berlama-lama selepas shalat isyah, kalau di rumah. Kadang aku melihatnya membaca Al-Qur’an. Terkadang juga aku hanya mendengar dentingan-dentingan tasbih di tangan kanannya.

“Aku serahkan kamu kepada Allah SWT, Dia adalah Tuhan tempat kita semua harus bersandar, menyerahkan semua urusan kita. InsyaAllah, Allahlah yang akan mengurusmu, anakku sayang”, suara ibu setengah berbisik. Hampir tak kudengar.

Aku tidak mengerti apa-apa yang ibu katakan di malam yang berat itu. Hatiku tetap tidak tega berpisah darinya. Yang terasa, hanya ada genangan di kelopak mata. Dan pelahan hangatnya jatuh juga membasahi kedua pipiku. Deras mengucur, tanpa suara isak. Kesedihanku mengalir bersamanya dalam diam dan terasa amat dalam di jiwa.

Aku tidak bisa mengerti apapun tentang hal yang sedang menimpaku, saat belia umur seperti ini. Namun aneh, meskipun rasa dalam dadaku merontah tidak ingin berpisah, pada sisi lain dalam hatiku, ada harapan ibu akan datang jika rindu. Ini membuat hatiku agak damai dan bisa menerima keadaan dalam keterpisahan yang akan terjadi segera, esok pagi.

Pagi hari, mobil penumpang bercat merah buram, meninggalkan pekarangan rumah nenek, membawa ibu dan ayah, kembali.

Terasa, aku menjadi seorang anak yatim piatu, setelah kendaraan yang mereka tumpangi menghilang dari pandangan mataku. Kebut kesedihan menyelimuti tubuhku, tenagaku terasa menghilang seketika, tak kuasa aku berdiri memandang kepergian mereka.

Suasana hati seperti ini selalu berulang aku rasakan, setiap kali akan melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi.

Demikian pula dua saudara laki-lakiku, mendapat perlakuan yang persis sama dengan yang aku alami ini.

Tikar rotan tua warisan ibu, selalu mengantarkan banyak kenangan perpisahan dengan ibu, ketika aku meletakkan dan melipat jemuran di situ.

Azan magrib berkumandang dari corong mesjid kompleks perumahan tempat keluarga kecilku bermukim, di ibu kota negara. Sudah menjadi rutinitas, bakdah magrib setiap hari jumat, aku selalu menyempatkan mengikuti pengajian di mesjid kompleks dekat rumah, yang diprogram perkumpulan ibu-ibu pengajian.

Majelis taklim “Khadijah tul muhibbin” mengundang seorang daiyah, ustadazah yang cukup terkenal seantero masyarakat, karena kefasihannya menyampaikan hikmah-hikmah agama.

Usai shalat magrib berjamaah, panitia mengatur tataletak ruangan, persiapan majelis ilmu. Ibu-ibu majelis taklim mengambil posisi duduk berjamaah berbentuk huruf U. Di bagian tengah depan, dipasang sebuah karpet bercorak arabian berwarna hijau, di atasnya sebuah meja duduk dan sebuah mikrofon tergeletak. Duduk di belakang meja seorang ustadzah, bersiap-siap memulai ceramahnya.

Para jamaah juga menghentikan percakapan kecilnya, ketika tangan sang ustadzah mengetuk-ngetuk mikrofonnya, untuk memastikan alat itu sudah on.

“Auzubillahi minasyaitani rajim, bismillahi rahmani rahim” ... demikian sang ustadzah memulai pembicaraannya.

Setelah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, mengucap kalimat “pengakuan ke takberdayaan” la khauwla wala kuata illabillahi adzim, dan mengucap permohonan ampun, astagafirullah huladzim, ia meminta izin kepada hadirin untuk menyampaikan ceramahnya dengan topik “istri surgawi”.

Beberapa jamaah saling memandang sambil tersenyum, mendengar judul ceramah itu.

Aku tidak bisa mengetahui persepsi di benak mereka tentang topik itu. Dalam pikiranku sendiri juga mencoba mereka-reka, tentang “istri surgawi” itu.

Dalam benakku terlintas asumsi, bahw “istri surgawi” ada seorang istri yang solehah, taat dalam ibadah dan bakti kepada suami, menjadi panutan anak-anak dalam kebaikan dan kebijaksanaan.

“Suatu waktu, Fatimah Azzahrah mengunjungi ayahandanya Nabiullah Muhammad SAW, dengan suatu rasa penasaran, mengenai siapa wanita yang akan memasuki pintu surga pertama kali?” suara ustadzah melalui mikrofonnya, membuyarkan lintasan pikiranku.

“Setelah tiba di rumah sang ayah yang tidak jauh dari rumahnya, Nabiullah Muhammad SAW menyambutnya dengan penuh hormat dan rasa bahagia, dan bertanya gerangan apa yang membuatnya datang berkunjung. Fatimah kemudian mengungkapkan suatu pertanyaan mengenai siapakah wanita yang akan memasuki surga pertamakali, apa aku karena aku adalah putri Nabi SAW? Ayahandanya Nabiullah Muhammad SAW, menjawab bahwa wanita yang akan masuk pertamakali di surga itu bernama Mutiah. Dia tinggal bersama suaminya di pinggiran kota Madinah”, suara di mikrofon itu terdengar datar tetapi meyakinkan.

“Fatimah Azzahrah ketika meninggalkan rumah ayahandanya, rasa penasarannya  lebih berat dari sebelumnya. Ia bertanya dalam hati, amalan ibadah apakah gerangan yang telah dilakukan oleh Mutiah sehingga Rasulullah SAW, telah menyebutnya sebagai calon penghuni surga dan menjadi wanita pertama  yang akan memasukinya. Maka, pergilah Fatimah Azzahrah pagi-pagi sekali mencari rumah Mutiah, ditemani Hasan, putra kecilnya. Setelah berkeliling cukup lama dan bertanya kesana-kemari, akhirnya tibalah Fatimah Azzahrah bersama Hasan di depan pintu rumah Mutiah”. Sang ustadzah melanjutkan ceramahnya, kalimat-kalimatnya lancar dan jelas.

Tidak ada percakapan berarti dalam mesjid sejauh ini. Semua jamaah pengajian perhatian hanya pada suara yang mengalir desar lewat alat pengeras suara, yang menempel di empat sudut mesjid, yang cukup memadai luasnya ini.

“Pintu diketuk, teriring ucapan salam dari Fatimah. Dan terdengar jawaban salam dari dalam, dengan pertanyaan, siapa di luar? Dijawab, saya Fatimah putri Rasulullah SAW bersama Hasan anakku. Dengan perasaan bangga Mutiah bergegas ke pintu karena kedatangan tamu muliah. Pintu lalu terbuka sedikit, Mutiah mengintip dan berkata, aku senang engkau berkunjung ke rumahku wahai putri Rasulullah SAW, tapi suamiku tidak sedang di rumah, saya tidak diizikan untuk menerima laki-laki. Datanglah besok wahai putri Rasulullah, saya akan memintakan izin untuk Hasan. Fatimah Azzahrah kemudian kembali. Sambil berjalan pulang Ia mulai memahami, mengapa Rasulullah SAW menyebut Mutiah adalah penghuni surga. Keesokan hari, Fatimah kembali ke rumah Mutiah, namun ia membawa serta anaknya yang satu lagi, Husein. Kali ini Mutiah kembali meminta maaf, karena suaminya hanya mengisinkan Hasan. Dan Fatimah pulang tanpa rasa kecewa, dan makin maklum akan kebenaran kata-kata Ayahandanya Muhammad SAW. Hari ketiga, Fatimah baru berhasil memasuki rumah Mutiah bersama Hasan dan Husein, saat menjelang kedatangan suami Mutiah pulang dari pekerjaannya”.  Lajut ceramah sang ustadzah, dalam kisah sederhana namun menarik.

Sampai disini, aku merenungi ketaatan seorang istri bernama Mutiah ini. Bahkan namanya telah disebut langsung dalam hadis manusia paling muliah, Muhammad utusan Allah SWT. Manusia panutan seluruh mahluk,  yang memiliki sifat paling jujur dalam berkata-kata.

Tersimak kembali olehku ceramah lanjut sang ustadzah: “Fatimah Azzahrah sangat terkesan kerapian dalam rumah itu, walau dengan perabot dan alat-alat rumah tangga yang sederhana. Ada semerbak wewangian tersebar di penjuru rumah, sebuah baskom kecil berisi air di depan sebuah kursi yang sandarannya bergantung selembar kain putih bersih berukuran kecil. Dan nampaknya Mutiah sedang memasak makanan kesukaan suaminya, untuk dihidangkan sebentar lagi. Fatimah Azzahrah menanyakan semua apa yang dilihatnya dalam rumah itu. Mutiah menjelaskan: kain ini untuk membasuh keringat suamiku jika ia pulang dari berkeja, dan baskom itu untuk aku membasuh dan membersihkan kakinya jika dia datang. Aku selalu merapikan seluruh perabotan dan tempat tidur dan memercikkan wewewangian untuk menyambutnya datang. Dan masakan kesukaannya, sudah aku hidangkan di meja makan sebelum ia tiba. Lalu cemeti yang terselip di dinding itu, untuk apa, apakah suami sering memukulimu? Tanya Fatimah penasaran. Tidak kata Mutiah, dia lelaki yang baik, sangat menyayangiku. Cemeti itu aku yang siapkan, dan meminta kepadanya untuk mencambukku jika ada pelayananku yang tidak disukainya atau tidak menyenangkan hatinya. Lalu, datanglah suami Mutiah. Ia kemudian disambut: Mutiah meraih tangan suaminya dan membawanya duduk ke kursi yang sudah disiapkan. Perlahan ia melepeskan kancing baju suaminya satu persatu, menyekah keringatnya dengan kain putih, lalu membasuh kedua kaki suaminya. Tidak lama, kemudian Mutiah menuntun sang suami ke kamar mandi, untuk dia mandikan. Sebelum keduanya masuk berdua ke kamar mandi, Fatimah Azzahrah pamit meninggalkan rumah Mutiah. Di tengah jalan pulang, Fatimah merenungi dan menghayati seluruh kata-kata Ayahandanya Muhammad SAW, betapa Mutiah adalah seorang wanita yang sangat muliah, pantas dia menjadi wanita penghuni surga”.

Wajah-wajah ibu-ibu pengajian nampak penuh ekpesi berbeda-beda, mendengar kisah sang ustadzah. Mungkin, kisah itu telah membawa persaaan mereka menggeledah keseharian sebagai seorang istri di rumah masing-masing.

“Mutiah itu mutiara surga”, berbisik seorang ibu sabahat pengajian yang duduk di sebelah kananku. Aku menyambutnya dengan senyum penuh pengertian.

Seketika, wajah ibuku datang kembali hadir dalam hatiku. Sama persis, ketika aku sedang meletakkan dan melipat jemuran di atas tikar rotan halus warisannya, yang ada di rumahku itu.

Satu jam ceramah ustadzah tentang “istri surgawi”, berlalu tidak terasa.

Shalawat mulai dikumandakan untuk memulai azan isyah. Usai isyah berjamaah, majelis taklim pengajian itu juga ikut bubaran. Setiap ibu-ibu majelis taklim, membawa hikmah ceramah itu ke rumahtangga masing-masing.

Usai istirahat sejenak dari menghadiri mejelisan di mesjid. Aku kembali ke tikar rotan warisan ibu, melanjutkan sisa lipatan yang belum selesai, sore tadi.

Dan terngiang kembali wajah ibu yang penuh ketidakmegertian: bagaimana aku memperoleh keterampilan seorang perempuan yang seharusnya, perempuan yang benar, terutama setelah aku berkeluarga dan menjadi istri dari seorang suami. Saat beliau, pertamakalinya memanggil dan mengajakku menemaninya melipat pakaian bapak, diwaktu itu.

Aku tidak pernah melihat langsung, bagaimana ibuku menjadi istri bagi bapakku. Hanya ketika, seminggu sebelum kepergiannya yang tak disangka-sangka, aku sedang menikmati libur lebaran ke kampung halaman. Aku mendengar banyak cerita tante, saudari dari bapakku.

“Rumahmu ini, selalu nampak tertutup, setiap bapakmu pagi-pagi sudah pergi ke sekolah untuk mengajar. Ibumu mengantarnya ke depan halaman, dan mencium tangan bapakmu, ketika sedang di atas motor hondanya dan hendak berangkat. Setelah itu Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya. Dan pintu itu sangat jarang terbuka, bahkan tidak terbuka kecuali jika hanya ayahmu yang mengetuknya. Atau ibumu sendiri yang membuka ketika mendengar suara motor honda bapakmu sudah tiba di halaman rumah”, cerita tante yang  rumahnya bersebelahan langsung dengan rumah ibu.

Hidangan opor ayam yang dihidangkan dalam suasana lebaran ketika itu, terasa makin nikmat, sambil bercengkrama. Dan sambil lalu mendengarkan cerita tante tentang ibu, yang aku sendiri banyak tidak mengetahuinya. Tetapi tenteku ini, bercerita mengenai ibuku, seolah-olah sedang menyampaikan kabar penting, kepadaku.

“Rumahmu itu selalu berbau harum” kata tente lagi.

Aku menyadarinya, ketika aku melihat sendiri koleksi botol-botol parfum tanpa alkohol yang ada di meja rias ibuku, jika sedang mengunjunginya. Aku hanya merasa ibuku seorang yang menyukai pengharum untuk ruangan kamarnya dan tubuhnya. Namun jika kuteliti, merek-merek itu sebagian besar bukan untuk perempuan, namun untuk selera kaum adam. Apakah mungkin untuk ayahku?

“Saya sering merasa ibumu itu memperlakukan bapakmu seperti seorang anak kecil. Mungkin kamu tidak percaya kalau bapakmu itu biasa dan sering dimandi sama ibu kalau sore-sore”, kata tante sambil tertawa geli, sepertinya ia banyak mengetahui “rahasia” ibuku.

“Ibumu sebenarnya sangat pintar memasak jenis masakan kampung kita, tetapi setalah menikah dengan bapakmu, dia hanya pintar masak sayur bening dan nasi goreng putih gula merah dan opor ayam seperti ini, sesuai kesukaan bapakmu. Ibumu sebenarnya kalau mengikuti selerahnya sendiri, dia bisa masak masakan yang lebih enak dan sayuran enak. Namun kelihatannya dia memasak makanan dan minuman hanya sesaui selera bapakmu saja. Ia tidak memasak sesuai selerahnya sendiri. Dan itu sejak kakak pertamamu lahir sampai kamu semua sudah berkeluarga seperti sekarang ini”, kata tante dengan wajah masam sedikit mengangkat bahu.

“Biasanya, bapakmu sepulang dari sekolah jam 12 siang, mungkin setelah makan siang bersama dan bapakmu isterahat sebentar ditemani ibumu, biasanya mereka berangkat ke kebun yang ada di sebelah sana itu”, tante menunjuk ke arah timur.

Bapakku memang memilki sepetak kebun yang agak luas, mungkin ukuran 1 hektar. Tempatnya sekitar 1 kilometer dari rumah kami. Untuk sampai ke sana kita melewati jembatan yang tua, karena harus melintasi sebuah sungai. Lokasinya persis di kaki sebuah bukit kecil.

Pekerjaannya sebagai guru dan pekebun, hasilnya digunakan untuk membiayai sebagian kecil sekolah kami sampai SMA. Karena  setelah itu, sekolah lanjut di perguruan tinggi, kami semua bersaudara dibiayai oleh pemerintah melalui beasiswa berprestasi, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Saudara pertamaku saat ini, bekerja sebagai pegawai pemerintah di konsulat negara di negeri jiran. Saudaraku yang kedua adalah seorang guru besar di sebuah universitas islam dalam negeri, di ibukota. Aku sendiri, sebagai satu-satunya anak perempuan, memilih menjadi ibu bagi seorang anak.

Dan entah mengapa setelah ada perasaan ingin berumah tangga dan kemudian menikah dengan seorang enjinering bidang pertambangan minyak lepas pantai, perusahan asing yang beroperasi dalam negeri, aku tidak lagi berminat melanjutkan karirku di sebuah bank pemerintah, dan menolak tawaran sebagai dosen di sebuah universitas asing dalam negeri, namun lebih berbesar hati memilih untuk menjadi pendamping dan pelayan bagi suamiku.

“Biasanya ibumu sudah menyiapkan kudapan-kudapan dalam keranjang dan sebuah termos berwarna perak berisi kopi hitam manis, yang akan dinikmati bapakmu di rumah kebun, setelah mengerjakan perkejaan kebunnya, menjelang sore. Kadang kadang sehabis ashar, mereka meninggalkan kebun mereka”, lanjut cerita tenteku, sembari minta aku menambah makanan yang dihidangkannya.

Hari itu, aku merasa banjir cerita mengenai ibuku. Sebagian aku telah mengetahuinya, tapi sebagian besarnya lainnya, baru kali ini terdengar di telingaku.

Anakku laki-lakiku satu-satunya, tiba-tiba datang dari sebelah, “mama dipanggil sama nenek”, katanya kemudian berlalu.

Aku melihat ibuku sedang berbaring di ranjang kamarnya. Ditemani oleh kakak keduaku, dan tiga orang cucunya. Pakaian lebaran yang indah, belum dilepaskannya. Tubuhnya nampak tidak bertenaga diatas pembaringan, di usianya yang ke 70 tahun, seolah ingin tidur siang.

Mungkin agak kelelahan, dua hari persiapan menyambut hari lebaran, ibu juga turut menguras tenaga, ikut ramai dalam keseruan di dapur.

“Saya bahagia sekali hari ini, kalian berdua ada di rumah ini lebaran bersama ibu, meskipun kakamu yang satu belum sempat datang. Tapi panggillah juga dia besok untuk datang ke sini”. Kata-kata ibu sangat dalam rasanya.

Hari pertama aku tiba, dia juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Selalu menanyakan kakak tertuaku, yang tidak sempat begabung karena kesibukannya di luar negeri.

“Mungkin kalian akan jarang lagi ke sini ke rumah ini, kecuali untuk siarah ke makam bapakmu”, ibu berkata agak lirih, suaranya agak kedalam. Ibu menatap kami satu persatu.

Kakak keduaku menawarkan air putih, disambutnya dengan tangan yang bergerak lamban.

“Saya tidak pernah merasa berpisah dari kalian semua anak-anakku, meskipun sejak kecil kalian semua tidak dalam asuhan ibumu ini langsung, tapi doa-doa setiap malam ibu panjatkan untuk kebahagiaan kalian dunia dan akhirat”, mata ibu berkaca-kaca mengucapkan kata-katanya.

“Sejak menikah dengan bapakmu, ibu sudah bertekad hanya ingin memberikan seluruh jiwa raga ini untuk berbakti kepadanya. Dan telah kuteguhkan niatku, untuk menitip kalian kepada Allah SWT, sebagai ikhtiarku, karena ibu hanya ingin menyerahkan diri, tenaga dan waktu untuk bapakmu. Dan alhamdullilah, ibu melihat Allah SWT telah mengabulkan doa-doa ibu selama ini. Kalian semua sudah berhasil, pendidikan, pekerjaan dan keluarga. Bahkan kalian sudah sangat berbakti pada ibu dan bapakmu, karena ikhlas menerima keadaan kalian yang harus terpisah dariku sejak kalian semua masih kecil-kecil. Ibu selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT agar hidup kalian dmudahkan dan dilimpahkan kasih sayang oleh Allah SWT. Jangan menyangka ibu tidak sayang pada kalian semua, ketika memisahkan kalian dari sisi ibu. Ibu harus mengorbankan perasaan cinta dan kasih sayangku ini kepada kalian, demi bapakmu. Ibu juga harus menahan beban yang berat harus berpisah jauh dengan buah hatiku. Tapi demi baktiku kepada suami, bapak kalian, perasaan itu harus aku korbankan”, kata-kata ibuku lancar, teguh dan penuh keyakinan.

Ibu memang besar dalam didikan kakek, yang dikenal di kota kabupaten sebagai seorang alim dan sholeh. Di rumah kakekku dulu, ketika masih sekolah SD, aku  tidak pernah sepi, karena hampir setiap pekan, ramai orang-orang berdatangan ke rumah kakek untuk belajar agama islam tradisional.

Mereka sering membawakan aku macam-macam oleh-oleh dan memberi uang jajan. Tidak jarang juga, ada yang membawaku kerumahnya untuk bermalam, dengan perlakukan keperdulian, kemanjaan dan kasih sayang.

Selama aku berpisah dari ibu dan bapak sejak kecil, secara pisik sangat jarang bersua dengan keduanya, tetapi kasih sayang dari keluarga dan orang-orang dimana aku dititipkan, sangat melimpah dan ikhlas. Sehingga aku tetap senantiasa merasakan kehadiran seorang ibu disisiku.

Hal yang sama juga dialami dan dirasakan oleh kedua kakak laki-lakiku. Ibu itu selalu hadir di hati kami.

Yang paling nyata aku alami adalah kemudahan-kemudahan memperoleh biaya pendidikan dan uang-uang jajan. Kiriman kedua orang tua selalu berlebih, dan bantuan-bantuan lain yang kadang aku tidak menduganya, mengalir seolah tak terbendung.

Tidak pernah kami rasakan kekurangan finansial selama penempuh studi dari SD hingga program S2 ku selesai di negara Turkie.  Aku sering memperoleh bantuan pendidikan berprestasi dari pemerintah dan Yayasan-yayasan amal di luar negeri.

Bahkan aku memiliki banyak tabungan. Aku kirimkan kembali tabungan itu kepada orang tua untuk digunakan keperluan rumah tangga keduanya. Namun ternyata uang itu digunakan untuk sumbangan rutin kepada sebuah lembaga tahfiz al-Quran untuk anak yatim piatu yang ada di kota kabupaten, milik teman bapakku.

“Jangan lupa, kabari kakamu yang di Malaysia untuk datang besok”, lanjut ibu bersungguh-sungguh. Matanya kembali menatap kami satu persatu. Sebuah tatapan yang agak berbeda, dan membuat perasaan hatiku tidak menentu.

Ada sesuatu di hatiku yang tidak nyaman. Sekilas rasa gelisah menggores di dalam dada. Aku menghela nafas dalam-dalam, perlahan tapi panjang.

Tiba-tiba ibu duduk dari pembaringannya dan menunjuk mukenah putih bersulam benang abu-abu yang tergantung di dinding kamarnya, “Ambilkan mukenah itu”, katanya lirih.

Mukaneh itu beliau kenakan ketika sholat Id di lapangan waktu pagi pada hari raya waktu itu.

Aku mengambil dan memberikan mukenahnya. Ibu begeser dan berdiri di sisi ranjangnya, lalu Ia mengenakan mukenah putih itu. Dan berbaring kembali seperti sedang ingin tidur beristerahat.

Namun ia bagun kembali, meminta air putih yang ada disamping ranjang. Ibu meneguknya tiga kali, kemudian berbaring lagi seperti semula.

Aku mengira ibu akan sholat, padahal memang waktu dhuhur masih setengah jam lagi. Kakak keduaku menuju ke ruang tengah. Anak-anak sudah bercengkrama di sana.

“Ingat, jangan lupa beritahu kakamu untuk datang besok, ya nak. Ibu mau tidur dulu, jangan ada yang bagunkan, nanti setelah azan dhuhur”, kata ibu sambil membalik badan menghadap kiblat. Telapak tangan kanannya diletakkan di bawah pipi kanannya , seolah menjadi batal kepala. Matanya terpejam, ringan.

Aku merapikan kamar ibu tanpa suara, lalu melanggkah meninggalkan ibu yang kelihatannya langsung terlelap. Perlahan aku menarik rapat pintu kamar itu.

Perasaan asing tiba-tiba menyergap di hati ketika kamar itu telah kututup. Ibuku terlelap dalam tidurnya sendirian di dalam kamar. Perasaan ini, tidak biasa.

Benar saja, setengah jam berlalu. Setelah aku siapkan masakan lebaran sisa pagi tadi di meja makan untuk santap siang sebentar bersama-sama, dan suaran azan dhuhur barus saja selesai. Aku melangkah ke kamar ibu untuk membangunkannya.

Perlahan daun pintu kamarnya aku dorong, mendekati ibu yang nampak sedang sangat lelap. Hanya bibirnya kelihatan sedang tersenyum.

“Bu..., bu..., sudah azan bu...” kataku lembut dan mendekat tanpa suara kaki.

Aku duduk disampingnya dan menyentuh pundaknya. Sekali lagi membangunkannya. Tidak ada jawaban. Berkali kali aku membangunkan, berkali-kali juga tidak ada sahutan dari ibu.

Kesedihan seketika mencengkeram erat dadaku, hingga aku tak kuasa menarik nafas. Dadaku terasa berat dan sesak. Ibuku sudah terbujur kaku dan pucat pasih wajahnya dengan gaun mukenah putihnya. Ibu telah kembali keharibaan-Nya.

Wajahnya setenang wajah bayi yang sedang tertidur, dengan sebuah senyuman kecil.

Libur lebaran tahun 2000 itu, juga menjadi persuaan kami yang terakhir dengan ibu yang selalu kami rindu.

Ibuku tidak hanya mewariskan sebuah tikar rotan halus yang telah mengusam, tempat aku selalu mengenangnya jika sedang melipat pakaian. Tetapi juga mengalirkan pada jiwaku kepribadian seorang ibu yang baik bagi suaminya, sepanjang hayat dan tidak akan pernah kusam.

Jika bisikan sahabat di pengajian pada hari jumat kemarin, yang berkata “Mutiah adalah mutiara surgawi, maka mutiara itu adalah ibuku”.

SM. Desember 2024.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda