CERPEN: Ali Kaliyev Dan Roman Nagarenko
Aku banyak mengenal wisatawan
asing di pulau Bali. Mereka datang dari berbagai negara di dunia. Selama
bertahun-tahun, karena sering bertemu, aku menjadi peka mengenali asal usul
kebangbangsaan orang-orang itu. Baik dari postur badan, warna kulit, maupun rambut
mereka.
Sekitar 4 atau 5 tahun lalu
(tidak pasti dalam ingatan), aku bertemu Roman Nagarenko. Seorang warga
Ukraina. Mengenakan kaos berwarna jingga cerah, ketat membalut badan tegapnya
yang berotot. Mengenakan celana jeans coklat susu panjang, sedikit longgar.
Roman bertanya dalam bahasa
inggris yang tidak lancar, tetapi mudah bagiku memahami maksudnya.
Waktu itu, Roman bermaksud
menggunakan jasa rental mobil miliku. Untuk penggunaan 2 hari, lepas kunci,
kuberi sewa dengan kesepakatan Rp. 200.000,-. Roman menambahkan Rp. 200.000,-
dan meminta aku langsung yang menyopirinya. Aku bilang ada driver khusus. Roman
meng-oke-kan saja.
Mengingat lokasi tujuannya,
daerah wisata pavorit, hitung-hitung mengambil rehat. Sejenak menjauh
dari kebisingan di pusat kota Bali, maka kurelakan diriku menjadi sopir, menuju
ke selatan Kota.
Langit Kota Denpasar berwarna
kelabu gelap, ketika mobil kulajukan ke arah Kabupaten Kuta Utara. Di sepanjang
jalan, nampak gumpalan-gumpalan awan tipis membawa mendung.
Sejak meninggalkan jalan
nakula, hingga beberapa menit hampir tiba di jalan pemelisan agung, Roman
Nagarenko tidak banyak bicara. Hanya sesekali, memberi isyarat jika laju
kendaraan berjalan dalam kecepatan tinggi. Si Ukraina ini, sepertinya seseorang
yang penuh kewaspadaan.
Tetapi, dengan seseorang di
smartphonenya, Roman bicara tanpa jedah panjang. Kedengarannya sangat cerewet
dan mendominasi lawan bicaranya, yang entah di mana. Mereka memakai bahasa
Ukraina sangat pasih. Aku tidak banyak perduli arti bahasa mereka.
Hanya kupandangi, titik-titik
air hujan yang berjatuhan di atas kaca mobil. Ada gerimis. Tiba-tiba ada
kilatan api memanjang di awan kelabu yang juga makin menebal. Sedikit ada rasa
cemas yang menggelayut. Apakah segera akan datang petir menyambar dan hujan lebat
di Kuta Utara? Bulan november di Bali memasang sedang memasuki awal musim
penghujan.
"Stop, stop ..."
Roman menunjuk ke sebelah kiri ke sebuah gerbang perumahan. Di depan sebuah
dinding bertuliskan "Villa Matahari", aku hentikan kendaraan.
Roman memandang kiri dan
kanan dalam mobil. Merabah-rabah kedua kantong belakang dan depan celananya.
Meraih sebuah tas tangan kulit berwarna hitam, yang tergelatak disampingnya.
Dia sedang memastikan tidak ada yang tertinggal, ketika meninggalkan mobil.
Seorang wanita berambut halus
agak kemerahan sedang menunggunya, di loby kantor perumahan villa matahari.
Dari balik kaca, mereka nampak sedang berbicara satu sama lain, sambil berdiri.
Tangan keduanya saling begerak. Telapak tangan mereka bolak-balik di udara. Saling
terseyum satu sama lain. Sesekali, tampak tertawa senang. Beberapa saat
kemudian, wanita itu mempersilahkan Roman duduk di sebuah kursi kayu antik
dalam ruangan yang berdidinding kaca.
"Disitu aku terakhir
melihat wajah si Ukraina ini", kataku kepada Ali Kaliyev, seorang warga
Rusia. Aku sedang basah-basih perkenanalan saja.
Menceritakan seorang warga
Ukraina yang pernah aku kenal. Aku menceritakannya, karena sedang hangat berita
perang antara Rusia dan Ukraina. Ali Kaliyev sama sekali tidak menanggapi ceritaku
tentang orang Ukraina itu.
"Saya sudah hampir dua
minggi di Indonesia. Saya tiba di Jakarta tanggal 5. Langsung dijemput oleh
kerabat seorang sahabat Indonesia saya di Rusia. Sahabat saya itu seorang
tenaga kerja asing di sana. Saya minta diantar ke Hotel, tapi kerabat sahabat
Indonesia saya ini, sudah menyiapkan rumahnya untuk isterahat," cerita Ali
Kaliyev dalam bahasa inggris dialek Rusia.
Ini adalah kunjungan
pertamakali Ali Kaliyev di bumi pertiwi Indonesia. Menurut pengakuannya, dia
menyukai berlibur setiap tahun di negara-negara muslim. Setiap liburan tahunan
itu, ia sering membawa serta istri dan anaknya.
"Kami menyukai berwisata
spiritual bersama keluarga. Melihat-lihat dan mengambil pengetahuan dan
keberkahan dari tempat-tempat bersejarah dan disucikan oleh kaum muslim di
berbagai negara. Kami mengunjungi makam-makam para waliyullah dari tariqah
Naqsyabandiyah. Seperti ke kota Tashkent dan Samargand di negeri Usbekistan.
Kebetulan tidak terlalu jauh dari negeri kami. Bersiarah ke makam Syah Bahauddin
Naqsybandi dan makamnya Syekh Abdul Khaliq al-Ghujdawani di Ghujdawan, dekat
Bukhara. Pernah juga ke Yaman dan Pakistan, bahkan Negara India dan Srilangka,
negeri tempat turunya nabi Adam AS." Ali Kaliyev sedikit berpanjang-lebar
mengenai kunjungan wisatanya di beberapa negara Islam.
"Kemarin di Jakarta,
saya mengunjungi Masjid Itiqlal. Ziarah ke makam tokoh penyebar Islam di
Batavia, Habib Abdurrahman di Cikini. Ke masjid Luar Batang, dan ziarah ke
makam salah seorang alim ulama besar, Al-Habib Husein Alaydrus. Yang sebenarnya
tujuan utama saya, mengunjungi maqam wali songo yang sangat terkenal itu,"
lanjut Ali Kaliyev.
"Saya mengunjungi
sekolah Islam at-Taufiqy untuk juga ziarah ke makam Syekh Abdullah al-Khani,
khalifah dari Syekh Abdul Khalid al-Baghdadi, salah seorang pendiri tariqah
Naqsyabandiyah Khalidiyah. Lalu ke sekolah Islam Suryalaya di Tasikmalaya,
sekaligus ziarah ke makam Shohibul Wafa Tajul Arifin, Mursyid Tarekat Qadiriah
wa Naqsybandiyyah. Keduanya pernah dikunjugi ulama sufi asal Turki, Sultan
Awliya Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani tahun 2001," Ali
Kaliyev sangat fasih menyebut nama pesantren yang ada di Pulau Jawa itu,
sekaligus nama ulama-ulamanya.
Kadangkala jika ketemu
wisatawan asing yang ingin menggunakan jasa rental mobil, aku tidak ambil
pusing mengenai cerita panjang lebar mereka. Aku hanya berfokus ke tujannya
kemana, berapa lama pemakian mobil, lepas kunci atau ditemani driver.
Tapi tidak dengan Ali
Kaliyev. Aku senang-senang saja, dan memperhatikan ceritanya. Beberapa turis
cerewet, suka memuji-muji kehebatan negara asalnya, terutama turis dari negara
Paman Sam.
"Ke Indonesia ini,
saya datang sendiri," Kata Ali Kaliyev lagi.
"Saya tidak membawa
keluarga. Karena rencana hanya sebentar saja. Sisa liburan nanti kami akan
gunakan di rumah, disana di daerah asal kami di Dagestan. Kebetulan ada acara
keluarga. Asul-usul masyarakat muslim Rusia adalah dari wilayah Dagestan.
Sekarang Dagestan menjadi republik yang otonom dalam negara federasi Rusia,
"... kata Ali Kaliyev, namun terpotong.
Entah mengapa aku langsung
memotongnya, dengan tiba-tiba bertanya, "Apa mahsab orang Islam di Rusia?
"Syafii, mahsab Syafii.
Tapi Islam Dagestani itu berkembang dalam bentuk khalaqah sufisme, melalui
tariqah Naqsyabandiyah. Dan itu sangat mempegaruhi pemerintahan repulik
Dagestan, hingga hari ini. Keluarga besar kami, kakek-kakek buyut secara turun
temurun mempraktikkan ajaran Syah Bahauddin Naqsybandi. Dalam ibadah
keseharian, kami menganut mahsab Syafii" jawab Ali Kaliyev dengan lanjar.
Aku seperti tidak sadar.
Meminta Ali Kaliyev masuk ke ruang tamu rumahku, yang ada di samping kiri.
Biasanya tamu calon kostumer, hanya aku layani di ruangan kantor rental mobil.
Tidak lebih.
Ali Kaliyev nampak segan
menerima tawaran itu. Namun dengan aku sedikit memaksa. Akhirnya Ali Kaliyev
masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
Tidak seperti biasanya tamu
yang berkunjung kerumahku. Ali Kaliyev tidak memandang kiri dan kanan. Ataupun
medongak, untuk menelisik lukisan Bali di dinding dan beberapa benda antik khas
Bali, yang terpajang dan tertata rapi.
Hiasan itu, sebagai pemanis
ruangan tamu. Juga untuk melestarikan budaya sebagai masyarakat Bali. Istriku
termasuk pencinta barang-barang seni. Dan seorang menghobi benda-benda kuno.
Aku sendiri lebih banyak tenggelam dalam kesibukan bisnis rental mobil.
Ali Kaliyev tenang saja.
Duduk tanpa ada reaksi terhadap lukisan Bali klasik mengenai epos Ramayana.
Lukisan yang biasanya banyak dipuja-puji wisatawan. Keramik berupa guci dan
piringan. Bahkan ada keris antik, yang berkaitan sejarah kerajaan-kerajaan di
Bali. Ali Kaliyev hanya memandangnya sepintas lalu, tanpa komentar.
Aku berpikir Ali Kaliyev
datang ke Bali, bukan karena 'keistimewaan' itu. Atau keindahan pulau dewata
semata-mata. Tetapi mungkin karena kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam
agama, tetapi hidup dalam kerukunan yang terjaga.
"Saya ingin berkunjung
ke Desa yang penduduknya beragama Islam di sini. Menurut cerita sahabat Indonesia
saya, mereka hidup berdampingan dengan masyarakat yang mayoritas beragama
Hindu, di Bali ini, " Ali Kaliyev menunjukkan minat wisatanya ke Bali.
"Silahkan dicicipi, Tuan
Ali," kataku sebelum menanggapi keingiannya.
Aku menujukkan kepadanya
segelas es kuwut segar yang terhidang dihadapannya. Es kuwut itu aku pesan
diam-diam melalui istriku di dapur, tadi.
"Alhamdulilah, segar
sekali. Manisnya lembut. Dan, alhamdulillah ... aku pertamakali mencicipi
minuman seperti ini. Minuman apa namanya, gurih.." Ali Kaliyev meneguk dan
menyendok berkali-kali minuman itu, secara perlahan ke mulutnya.
"Alhamudlilah,"
katanya sekali lagi. Aku mengangguk dengan senyuman senang kepadanya.
"Semoga Allah SWT,
memberikan banyak rahmatNya kepada anda dan sekeluarga", kata Ali Kaliyev
lagi, sebelum sempat aku menimpalinya.
"Itu minuman kuwut
namanya kalau di sini. Sejenis minuman khas tradisional Bali. Hanya saja ini
dicampur dengan sedikit es, jadinya es kuwut. Ada namanya minuman tambring, daluman,
ada juga arak, bir Bali (non alkohol), ancruk loloh dan cemcem,
juga kopi Bali," jawabku lancar menjelaskan ragam minuman tradisional
Bali. Sudah menjadi kebiasaanku jika berhadapan turis-turis asing.
"Yaa, Bali sangat
dikenal dunia dengan keindahan alamnya. Masyarakatnya juga yang masih memegang
teguh adat-istiadatnya dalam keseharian mereka. Saya banyak info dari teman
Indonesia saya, mengenai Bali", katanya menimpali perkataanku.
Kesannya ingin memuji es
kuwut yang sudah berkurang hampir setengah di mangkuknya. Dan mungkin juga
bermaksud berterimakasih untuk menyenangkanku.
Tetapi terus terang saja,
sosok Ali Kaliyev dalam persaanku memiliki 'keistimewaan' tersendiri. Aku
selalu merasa senang ingin melayaninya. Sejak perhadapan dengan wajahnya yang
'seperti' mengandung aura kebaikan. Bahkan suaranya, ketika sedang berucappun,
rasanya menembus hati. Aku terhipnotis.
"O ya, Tuan Ali,
mengenai maksudnya hendak berkunjung ke Desa muslim ..., Di Kabupaten Buleleng,
Bali bagian utara, memang ada sebuah Desa yang penduduknya banyak beragama Islam.
Desa Pegayaman namanya. Tradisi masyarakat Islam di Desa itu telah menyatu
dengan budaya lokal, misalnya tradisi maulidan, hari lebaran dan acara-acara
Islam lainnya. Biasanya tradisi itu berlangsung dengang saling bergotong royong
antara pemeluk agama disana. Kalau di sini, di Bali namanya tradisi Ngejot",
kataku kepada Ali kaliyev, mencoba memberikan penjelasan. Aku berusaha
menggunakan bahasa Inggris yang sedikit formal.
Berharap dia mendapat
gambaran tentang Desa Pegayaman di Kecamatan Sukasada itu. Agar makin besar
ketertarikannya untuk berkunjung. Saya juga merasa aneh dengan motif wisata Ali
Kaliyev ini, jika dibandingkan dengan turis lain. Selama aku banyak
berinteraksi dengan wisawatan mancanegara, tidak pernah menerima order untuk
tujuan wisata semacam minat Tuan Ali ini.
"Tuan Ali, aku yang akan
menemani langsung anda berkunjung kesana. Saya geratiskan biaya driver dan fee
sewa kendaraan. Cukup beli bahan bakar bensin saja selama kunjungan, pergi dan
pulang. Dan, di sekitar wilayah Buleleng ada teman pemilik villa, yang bisa
kita gunakan untuk penginapan beberapa hari. Garansi sewa villanya, cukup bayar
dengan standar pertemanan saja, tuan Ali," kataku serius.
Aku menawarkan jasa ringan
kepada Ali Kaliyev. Yang aku telah 'seperti saudara' dengannya, walau hanya
dalam pertemuan singkat. Aurah kepribadian yang memancar dari dirinya, sekali
lagi mendorongku bermurah hati kepadanya.
Ali Kaliyev terdiam cukup
lama. Lalu menatapku dengan lembut. "Alhamuddulillah, Tuan Wayan anda baik
sekali. Saya tidak tahu bagaimana berterimakasih, anda telah menerima saya
layaknya saudara. Jamuan di rumah pribadi anda dan tawaran layanan bisnis yang
sangat memudahkan urusan. Saya berdoa semoga Allah SWT, memberikan bayak rahmat
kepada anda dan keluarga anda, dan banyak berkah dengan perusahaan anda
ini," Ali meraih tanganku dan menyalaminya.
"Jika boleh, siang ini
kita berangkat. Saya akan kembali ke hotel untuk cek out, setelah itu kita
langsung menuju ke apa itu.. Bu le leng, di Desa itu," kata Ali Kaliyev,
mencoba mengingat nama-nama daerah yang aku sebutkan tadi.
Dari kota Denpasar ke
Buleleng, jika perjalanan normal, dapat ditempuh 2,5 jam. Tapi jika ramai
kendaraan di jalan, bisa 3 sampai 4 jam perjalanan. Banyak lajur yang bisa
ditempuh menunju ke wilayah bagian utara Bali itu.
Jalur klasik dan yang umum.
Jalur umum menempu Singaraja-Bedugul, lewat Kintamani. Yang kalsik, lewat
Petang (jembatan Tukad Bangkung), konon, jembatan terpanjang di Bali dan
tertinggi se Asia Tenggara.
Aku memilih jalur umum untuk
saudaraku Ali Kaliyev, yang kali pertamanya ke pulau Bali.
Selepas waktu shalat dhuhur,
dan setelah menikmati sate lilit dan bebek bengil, hidangan
pesanan istriku, kami meninggalakan kota Denpasar menuju Buleleng. Langit Kota
Denpasar cukup cerah, ketika kami meninggalkannya.
Kurang lebih 1,5 jam
perjalanan menempuh jalur Denpasar-Kintamani, mobil aku tepikan di sebuah kedai
kopi pinggir jalan, dekat danau. Hampir jelang sore, kabut tipis menaburi
bukit-bukit kecil di sekitar danau. Hembusan udara sejuk, menghilangkan penat
perjalanan. Kami memasan kopi hangat khas kintamani.
Ali Kaliyev sangat menikmati.
Raut wajahnya tidak berubah sejak awal perjalanan, tetap cerah dan segar.
Seolah seluruh wajahnya adalah seyum kebahagiaan.
"Pemandangan alam di
Bali memang Indah, masyaAllah," kata Ali Kaliyev sambil mengangkat
cangkir, untuk menyeruput kopi hangatnya.
"Daerah ini namanya
Kintamani, danau yang sebelah sana itulah danau Batur. Daerah ini, dijuluki
daerah berselimut kabut, terutama bulan november dan desember. Ini juga danau
terluas di pulau dewata atau pulau Bali. Gunung yang sebela kiri itu, namanya
gunung Batur. Sebelahnya lagi gunung Agung. Seperti dua gunung kembar
kan?" kataku sambil tersenyum dan menunjukkan arah tempat-tempat itu.
Sesekali Ali Kaliyev beranjak
meninggalkan kedai. Di luar, dia nampak sedang mengabadikan dengan
smartphonenya, hamparan danau dan dua gunung yang sedang berbaring disisinya,
berselimut kapas putih yang tipis.
"Ini wilayah pegunungan
di provinsi Bali Utara. Sebentar kita akan sedikit berbelok arah selatan
melewati daerah Kubutambahan di Boengkoelan. Kita bisa juga, melihat
pemandangan laut disitu, sebentar. Hanya sedikit melalui pesisir pantai, pendek
saja," kataku lagi. Kami berusaha tiba di wilayah tujuan Ali Kaliyev
sebelum malam tiba.
"Mungkin sekitar 2 jam
lagi dari sini kita akan tiba di Desa Pegayaman. Kita akan berbelok lagi, masuk
ke arah pegunungan di Buleleng Utara." Lanjutku sambil menyelesaikan
beberapa tegukan akhir kopi Kintamani yang tersisa dalam cangkir.
Udara dingin rasanya sudah
hampir menusuk ke tulang, ketika kami tiba di gerbang Desa Pagayaman Kecamatan
Sukasada. Gelap mulai merambah kebun-kebun warga. Beberapa pura besar dan kecil
kami lewati, sepanjang perjalanan. Kami tidak bisa mengenali waktu melalui
suara masjid.
Namun beberapa menit
berselang, tampak sebuah masjid di ujung Desa, tidak jauh dari gerbang. Sedang
membunyikan shwalat jelang azan magrib.
"Kita boleh singgah di
mesjid itu, mungkin saya akan shalat magrib disitu", kata Ali Kaliyev
tiba-tiba, saat mobil melintas depan bangunan ibadah warga Islam di Desa
Pagayaman.
Aku senang dengan permintaan
itu. Agar suadara Ali Kaliyev bisa merasakan langsung obyek wisata yang
diinginkannya ini. Berkunjung ke Desa Islam di pulau Bali.
Sebuah bagunan ibadah muslim.
Gerbangnya berarsitektur khas Bali, tapi mesjidnya bangunan khas Jawa kuno.
Beberapa warga sekitar nampak mulai berdatangan, untuk mengerjakan shalat
magrib berjamaah. Ali Kaliyev juga sedang tekun membasuh muka dengan air
wuduhnya.
Setelahnya, Ali Kaliyev tidak
langsung masuk ke dalam masjid. Dia menyempatkan diri memandang-mandang di
sekitar masjid. Mengamati warga yang sedang berduyung melangkah mendekati
masjid. Kamera smartphonenya dia aktivkan sesekali, mengabadikan momen dan
keadaan yang dia perhatikan.
Suara azan mulai
dikumandangkan dari dalam masjid. Suaranya kedengaran nyaring dari toa yang
bertengger di menara, depan kanan masjid.
Ali Kaliyev juga bergegas
masuk. Beberapa mata jamaah masjid sering memandang ke arahnya. Memperhatikan
sekujur tubuh Ali Kaliyev. Mungkin mereka bertanya, orang asing dari mana?
Setelah selesai berjamaah.
Beberapa orang meninggalkan masjid. Lainnya, masih tinggal. Ada yang sedang
duduk sendirian, memegang tasbih yang berputar-putar diantara telunjuk dan ibu
jari. Ada yang membaca al-Quran, suaranya halus, nyaris tidak kedengaran.
"Assalamualikum
mister!" sesorang menyapa Ali Kaliyev dan menyodorkan tangan untuk
bersalaman. Salam itu dibalas Ali Kaliyev, dan menyambut tangan sang penyapa.
Aku langsung mendekat keorang
tersebut. Ternyata imam jamaah sholat magrib tadi. Kami saling berkenalan
dengan bahasa daerah Bali. Aku menjelaskan siapa dan maksud kedatangan
wisatawan yang aku bawah ini.
Beliau menyebutkan namanya
Ketut Ahmad Suharso. Salah seorang tokoh agama dan tokoh masyarakat di Desa
Pagayaman dan sekaligus imam di masjid ini.
Kami duduk-duduk sejenak. Pak
Ketut atau bisa juga dipanggil Pak Harso, banyak menceritakan sejarah asal usul
masyarakat Islam di Desa Pagayaman. Sebuah buku diambilnya dari dalam rak
masjid. Diperlihatkan kepada kami. Buku tentang sejarah Desa Pagayaman, yang
beliau sendiri sebagai pengarangnya.
Ali Kaliyev sangat senang
mendapat penjelasan dari Pak Ketut, ketika kusampaikan ulang apa yang
dijelaskan oleh pak Ketut dalam obrolan itu.
"Saya bermaksud
mengundang bapak-bapak ke kediaman saya. Kita lanjutkan mengobrolnya di
rumah saya, bisa lebih pajang lebar tentang Desa Pagayaman," pak Ketut
menawarkan diri sebagai tuan rumah untuk kunjungan.
Dirumah Pak Ketut, kami
disuguhi kopi hitam gula aren dan kudapan khas Bali. Gorengan pisang
tanduk dan kue pisang rai. Pajang lebar Pak Ketut mengurai sejarah
keberadaan orang-orang Islam di Desa Pagayaman.
Usai shalat berjamaah isyah
di masjid yang sama, kami bertiga menikmati suguhan makan malam ibu Luh Gede
Mardewati istri Pak Ketut. Obrolan macam-macam tentang sejarah, dan
tradisi nyawa salam (warga/saudara muslim) Desa Pagayaman, berlanjut
hingga malam hampir larut.
Bermula dari sebuah sumpah Ki
Barak Panji Sakti, raja Buleleng untuk menaklukkan wilayah kerajaan Blambangan,
wilayah Jawa Timur. Dengan bekerjasama Kerajaan Mataram Islam Jawa Tengah yang
dipimpin Raja Amangkurat 1, abad 16.
Akhirnya Blambangan jatuh ke
tangan I Gusti Anglurah Panji Sakti, Raja Buleleng. 100 orang laskar tentara
muslim yang telah membantu, dibawa dari Blambangan. Diberi pemukiman di wilayah
hutan gatep, kemudian diberinama Desa Pegayaman. Nama itu dari kata 'gatep'
yang maknanya sama dengan 'gayam' dalam bahasa Jawa.
Agin sepoi kadang datang
menyapa melalui jendela kayu yang terbuka. Menyelusup ke ruang tengah rumah.
Cerita panjang pak Ketut aku simak seksama, ditemani suasana senyap Desa yang
sunyi. Ada suara burung malam kadang-kadang melintas di langit gelap. Suara
jangkrik yang mengkrikik sekali-kali, memecah sunyi.
Aku seolah terbawa pada
sebuah kisah panjang, masyarakat Islam di pulau Dewata di Desa Pagayaman ini.
Dan mulai memahami mengapa Ali Kaliyev ingin berwisata 'aneh' ke Bali.
Sesekali Ali Kaliyev
menyelah, "Islam, rahmatan lilalamin", dalam obrolan.
Akupun tidak lagi perlu
menghubungi sahabatku pemilik villa. Dengan rasa hormatnya yang tinggi kepada
Ali Kaliyev, seorang muslim Rusia yang sengaja berkunjung ke Desanya, Pak Ketut
merelakan satu bangunan home stay miliknya, untuk kami gunakan
isterahat malam ini. Bahkan selama yang dibutuhkan tuan Ali Kaliyev, selama ia
di Desanya. Tanpa perlu bayar sewa inap.
Aku sampai membatin: apakah
juga Pak Ketut tersihir oleh 'penampakan agung' wajah Ali Kaliyev. Entahlah,
aku belum sanggung menjawab pertanyaan batinku ini.
"Sayangnya belum masuk
perayaan maulid, lebaran idul fitri atau idul adha. Bapak-bapak bisa melihat
langsung tradisi nyawa salam di Desa ini. Dimana kami antara pemeluk
agama yang mayoritas dan minoritas bergotong royong dalam perayaan yang meriah
dan hikmat," kata Pak Ketut menutup obrolan yang menyenangkan, di malam
sunyi dan dingin itu.
Keesokan sorenya, setelah Ali
Kaliyev diajak berkeliling menikmati suasana kehidupan pedesaan. Kami
berpamitan dengan rendah hati kepada Pak Ketut dan keluarganya.
Kabut senja mulai turun saat
mobilku sudah hampir setengah jam meninggalkan gerbang Desa. Meninggalkan Desa
sejuk itu. "Kita ambil jalur singkat menuju kota Denpasar," kataku kepada
Ali Kaliyev.
"Mungkin kita akan tiba
agak larut di Kota.., " balik kata Ali Kaliyev lalu terpotong, seolah
sedang bertanya.
"Tidak terlalu larut
malam, mungkin kita bisa tempuh waktu 2 jam saja. Tidak melingkar seperti waktu
kita datang. Kita akan lewat jalan lain, jalur Begudul. Kalau malam, kendaraan
juga biasanya agak sepi di jalan-jalan protokol. Kecuali kalau masuk kota
Kabupaten, mungkin melambat lagi. Hanya saja, tuan Ali tidak bisa menikmati
pemandangan indah sepanjang jalan karena suasana malam," jawabku sambil
tertawa ringan.
"Sebenarnya kita akan
melewati dua danau. Danu Buyan di Wanagiri dan danu Beratan di Bedugul. Juga
sebuah perbukitan hutan palah yang lebat, di daerah Sangeh," sambungku
menjelaskan rute kembali ke Kota Denpasar.
Saat malam menjelang pukul
21.00, mobilku telah melewati batas kota. Dalam mobil, aku dan Ali Kaliyev
sedikit terlibat 'perdebatan' soal tempat menginap malam ini, di Denpasar.
Ali Kaliyev menghendaki
langsung diantar kembali ke hotel tempatnya semula. Sementara aku, sudah
meminta istriku untuk menyiapkan kamar di lantai dua untuk Ali Kaliyev, sampai
ia bertolak pulang ke negaranya. Meski nampak keberatan, Ali Kaliyev akhirnya
menerima permohonanku.
Visa kunjungan sekali pakai
yang digunakan Ali Kaliyev ke Bali, memang masih tersisa 10 hari lagi. Tetapi
dia harus meninggalkan Indonesia, besok. Ia mengejar sisa libur tahunannya
untuk berkumpul di Dagestan, dalam hajatan keluargan.
Sarapan pagi bulung buni,
kopi manis Bali dan camilan jeje lukis menjadi menu perpisahanku
dengan Ali Kaliyev. Pukul 11.00 Aeroflot airlines akan membawanya langsung ke
bandara Vnukovo.
"Vnukovo itu bandara
internasional, sekitar 15 kilo meter dari pusat kota Moskow", kata Ali
Kaliyev.
"Saya akan
mengenang-ngenang kebaikan saudaraku ini, Wayan Darmawan. Mengenang keindahan
pulau Bali, Jakarta, Jawa dan Indonesia, selama 12 jam dalam penerbangan ke
Moskow,"Ali Kaliyev menjabat tangan dan merangkul pundakku.
Di terminal Internasional
bandara I Gusti Ngurarai, terakhir kalinya aku melihat telapak tangan Ali
Kaliyev, melambai tanda berpisah. Lalu ia membalik badan dan menghilang di
balik lorong menuju pintu pesawat.
Aku seperti telah menemukan
seorang yang entah "dari mana", telah menjadi saudaraku dalam waktu
sekejap. Masih ingin rasanya bersama dia berkeliling di Pulau Bali.
Wajah teduhnya yang
memancarkan 'keperibadian misterius' membuat hati ingin selalu bertemu
denganya. Betul-betul dalam hati aku merasa, saudaraku itu telah
meninggalkanku. Aku seperti kelihangan sesuatu.
Dua hari setelah Ali Kaliyev
meninggalkan Bali, seperti biasa aku tenggelam kembali dengan rutinitas bisnis
rental mobil. Hampir 5 hari aku sibuk dengan urusan saudara Rusiaku itu.
Duduk di belakang meja kerja,
aku memandang berita di layar kaca TV. Terkabar: pihak kepolisian negara
Indonesia menangkap seorang gembong narkoba asal Ukraina, di negara Thailand.
Orang itu adalah otak clandestine laboratorium narkoba dan ganja hidroponik
yang beroperasi di Bali. Mataku fokus ke wajah tersangka.
"Roman Nagarenko,"
perasaanku berucap. Wajah itu mengingatkan seorang turis yang aku antar ke
villa matahari di Kuta Utara, 4 atau 5 Tahun lalu.
Aku menginggat persis raut
wajah itu. Hanya saja kini, wajah klimisnya yang dulu, berubah brewokan,
sebagiannya mulai memutih. Rambutknya acakan.
"Yaa.. Roman Nagarenko
si Ukraina," ingatan perasaanku memastikan kebenaran dari wajah gembong
nakotika yang di tangkap di Thailand itu. Sejenak aku terkesima dengan berita
itu.
"Roman Nagarenko datang
ke Bali, untuk ...," batinku taksanggup meneruskan.
Terngiang tiba-tiba wajah
saudara Rusiaku, Ali Kaliyev. Wajah yang "penuh pancaran cahaya
kebaikan". Namun mataku menatap wajah Roman Nagarenko. Kusam rautnya
membayang wajah kematian, dalam hukuman mati.
"Andai saja engkau masih
di sini saudaraku Ali Kaliyev, akan aku lanjutkan ceritaku, saat awal kita
berjumpa sepekan lalu". Bantinku dicampur aduk dua wajah asing yang
berbeda.
"Pulau Dewata, engkau
telah kedatangan manusia asing yang berbeda wajah, Oh..", gerutu batin
membawa aku kerelungnya paling dalam.
Diriku terhempas pada
sandaran kursi. Nafasku tertarik dan terhembus panjang.
SM. Januari 2025.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda