Rabu, 15 Agustus 2007

Syukur, Selalu Merasa Merdeka

Kalo saat ini umur anda sudah 30 tahun, atau berapa saja, itu berarti sejumlah itulah anda pernah merasakan pesta rakyat untuk memperingati hari kemerdekaan bangsa tercinta ini. Usia Indonesia saat ini sudah 62 tahun. Adalah sebuah kesyukuran bahwa setiap tanggal 17 agustus, masyarakat kita secara bersama-sama bersuka cita menggelar acara-acara mengenang detik-detik kemerdekaan itu.

62 tahun sudah masyarakat nusantara terbebas dari kekejaman penjajahan secara fisik. Semangat dan perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan ini, menjadi sangat penting artinya untuk dirasakan, diimajinasikan, dipikirkan dan direnungkan, untuk selanjutnya diaktualisasikan kembali dalam bentuk yang baru dalam situasi zaman kemerdekaan saat ini.

Bagi orang-orang kritis, kalimat semacam itu, akan terdengar sangat hambar sekali. Kaum yang berpikir kritis ini, seringkali berbendapat bahwa makna kemerdekaan itu jangan didangkalkan hanya dalam pengertiannya yang sederhana: fisik. Kita memang sudah merdeka, anak sd juga sudah tahu ini, tetapi secara fisik.

Tetapi kemerdekan lain, seperti merdeka dari penjajahan budaya, merdeka dari aroma bau busuk kemiskinan, merdeka dari keterbelakangan pendidikan dan tehnologi maju, merdeka dari kejahatan hantu narkoba, merdeka dari rasa cemas akan masa depan dari para pengagguran, merdeka dari keterjajahan ekonomi dan merdeka-merdeka yang lain, yang tidak kasatmata namun efek penindasannya sangat mengerikan bagi masa depan bangsa ini.

Namun syukur selalu, dalam kondisi yang demikian itu, masyarakat kita senantiasa optimis untuk selalu merasa merdeka dari "keterjajahan". Ini artinya meskipun kita terjajah secara non fisik kita tetap saja merasa merdeka. Artinya yang lain, bahwa masyarakat kita selalu optimis menjalani kenyataan perjalanan sejarah bangsa tercinta.

Tapi kita tidak perlu membesar-besarkan kalo kita sesungguhnya masih terjajah dalam pengertian yang sebenar-benarnya keterjajahan. Sebab toh kita sangat menikmati keterjajahan itu, dan bahwa banyak yang merenggut keuntungan dari keadaan kita yang demikian ini. He he sok kritis juga.

Label:

Senin, 13 Agustus 2007

Mayarakat Yang Rindu Agama

Diam-diam masyarakat dunia saat ini makin gandrung dengan hal-hal yang berbauh agama dan spritualitas. Larisnya para motivator-motivator SDM yang mengajak masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik dengan pendekatan moril, etika, dan nilai-nilai spritual, baik untuk bisnis maupun publik, dari organisasi hingga individual, bisa menjadi bukti, betapa masyarakat manusia tidak bisa melepaskan naluri kebertuhanannya.

Akhir-kahir ini banyak pakar SDM, para motivator sukses dan ahli-ahli manajemen, mencari, meneliti dan menjadikan studi kasus serta memuji pada Manager, CEO, Direktur dan apapun sebutan para pemimpin organisasi bisnis itu, yang sukses memimpin sebuah perusahaan dengan berbasis pada nilai-nilai moril, etika dan spritualitas. Pada leader ini ditempatkan sebagai manusia the best karena mampu terpilih sebagai manusia pilihan dari sekian banyak pimpinan organisasi bisnis.

Mereka menjadi manusia pilihan terbaik dalam lingkungan bisnis karena telah memperaktekkan kebenaran jiwa yang bersifat universal dalam lingkungan yang serba pragmatis dan berbasis pada keuntungan duniawi, dalam dunia bisnis. Apalagi bisnis dalam pengertiannya yang modern. Dalam dunia bisnis dianggap aneh seseorang ketika tidak berorintasi pada keuntungan materil.

Tetapi para pemimpin bisnis abad baru ini adalah berbeda sama sekali. Mereka tidak lagi mengarahkan organisasi bisnisnya pada pengejaran keuntungan demi keuntungan itu sendiri. Merka telah mengefektifkan organsiasi dan mengubah arah keuntungan untuk tujuan yang lebih muliah. Tujuan kemanusiaan dan tujuan moril, etik dan religius.

Mereka para pemimpin bisnis yang demikian inilah telah menjadi indikasi-indikasi dari masyarakat manusia yang sesungguhnya merindukan agama. Agama dalam pengertiannya yang tak terbatas.

Dalam masyarakat luaspun demikian adanya. Saat ini Dai, Ustad, Kiyai, Pendeta, pembicara agama dan sejenisnya menjadi laris manis. Masyarakat rela antri dan berdesak-desakan demi untuk mengisi kekosongan jiwa mereka. Kekosongan akan makna dan nilai-nilai tertinggi.

Terlepas gejala ini sekedar sebagai stimulan srituallisat saja, atau ikut-ikutan trand saja. Namun yang pasti sejarah telah menyimpan catatannya bahwa manusia tidak akan mungkin untuk dapat berpisah dengan Asal Muasalnya.

Label: