
Milad ke 53 Fakultas Hukum UMI, yang dilaksanakan 11 Januari 2025 lalu, menjadi momen indah angkatan 1997. Momen itu memperjumpakan beberapa sahabat seangkatan S1 di FH-UMI.
Pagi-pagi buta, kami sudah meninggalkan rumah, menuju ke kampus hijau UMI, untuk bergabung dengan angkatan lain, yang turut serta dalan jalan santai Silatnas Milad FH-UMI ke 53. Yang dalam jadwal, starnya pada pukul 06.30 pagi.
Saking semangatnya, seorang kawan angkatan 97 bahkan tiba dikampus setengah lima. Saya membayangkan beliau sholat subuh dulu di mesjid Umar Bin Khatab, depan Fakultas Hukum.
Saya tiba saat mendung sudah lewat. Awan langit mulai sedikit menampakkan cerahnya. Tapi udara pagi sedikit dingin. Teman-teman angkatan 1997, sudah berkumpul di jalanan parkir.
Saya menghampiri kawan-kawan yang sedang berdiri membentuk lingkaran. Hampir dua dekade berlalu, saya baru bertemu kembali wajah-wajah sahabat seangkatan di FH-UMI ini.
Saya menjabat tangan mereka satu persatu, tidak ada yang asing. Mekispun jarang bertemu, namun hati kami tetap karib rasanya.
Ada Awal, Anca, Didit, Rahmat, Aldi, Haerun, Anci, Amin dan Ari. Hanya sebagian kecil dari sekitar 40-an jumlah kawan-kawan yang masuk FH-UMI tahun 1997, ketika itu.
Di acara gerak jalan, seorang kawan datang terlambat, Awi. Budi, datang setelah kawan-kawan ngobrol bareng di sebuah cafe.
Beberapa kawan lain hanya sempat saling menyapa melalui Video Call, seperti Haedar dan kalau tidak salah, juga Sulmar. Atau juga seorang kawan perempuan, Egi dan Erna.
Kami hanya saling menyebut nama panggilan, sama ketika di masa-masa kuliah dulu, di FH-UMI. Ini keakraban khas kawan seangkatan, tanpa mengurangi rasa hormat kami masing-masing.
Mekipun sudah 'menuju tua', tapi canda dan obrolan ala mahasiswa S1, tidak bisa dilepaskan. Hal ini yang menjadi 'api semangat' dalam temu rindu seperti ini.
"Inimi yang kasi awet mudaki. Ketemu dengan teman-teman lama dan bercanda", kata seorang kawan di selah ngobrol di cafe kopi, usai jalan santai Silatnas.
Hampir separuh siang, kawan-kawan angkatan 1997 habiskan waktu berbagi cerita, di meja kopi panjang cafe. Gelak tawa dan keceriaaan memenuhi udara cafe, tentu berkelindan dengan kepul asap rokok yang mengabut.
Banyak cerita, kisah dan kejadian yang dikenang-kenang dalam obrolan yang penuh rasa persaudaraan dan keakraban.
Seluruh cerita dan kisah banyak mengandung kelucuaan yang menggelitik. Bahkan ada juga kelucuan yang menggelikan. Ada yang melankolis, mengenai kisa cinta yang 'romantis'. Tapi ada juga kisah cinta yang 'tragis'. Ada keisengan dan 'kenakalan remaja'.
Kadang juga diselingi kisah 'getir', bila tiba waktunya bayar SPP. Maka tibalah waktunya membuat 'lakon drama komedi'.
Banyak kenangan yang tidak bisa terhapus dalam memori, mengenai masa-masa kuliah S1 di FH-UMI.
Tapi yang paling berkesan, adalah kisa-kisa, ketika kawan-kawan anggatan 1997, berfungsi sebagai 'agen perubahan'. Mereka terlibat dalam aksi-aksi demontrasi, baik untuk merespon problem nasional, lokal maupun internal kampus.
Mengingat bahwa keberadaan angkatan 1997, adalah masa-masa transisi politik nasional, dari kekuasaan militerisme orde baru ke kekuasaan civil era reformasi.
Sehingga angkatan 1997 menjadi bagian dari proses dan dinamika transisi kekuasaan tersebut.
Usai mengerjakan shlat Dhuhur berjamaah, di Mesjid Umar Bin Khattab. Mesjid dalam lingkungan UMI, dan posisinya pas depan FH-UMI. Rahmat, terkenang binatang biawak, yang dulu memang sering muncul, ketika mesjid ini belum direnovasi sebesar sekarang.
Era kami 1997-2001, mesjid ini masih berukuran sedang, jika dibandingkan sekarang. Tetapi ukuran sedang itu, sudah sangat besar di era itu.
Lokasinya memang seperti rawah dahulu. Sehingga sering para biawak itu juga masuk ke mesjid. Mungkin untuk memastikan, apakah angkatan 1997 datang shalat atau tidak? hehe.
Setelah shalat dhuhur di mesjid UMI, kami bergeser untuk melanjutan nostalgia angkatan di meja makan.
Inisiatif awal di warung coto. Warena warungnya tutup, kami memutar haluan ke warung 'sunda tradisional' di bilangan hertasing.
Babak ke dua berbagi kisah kenangan kembali alot. Usai santap siang, kopi hitam hadir lagi menemani semangat silatnas rindu angkatan 1997.
Kali ini muncul inisiatif, untuk menggagas silaturahmi angkatan 1997, di 'sebuah pulau'. Sebuah gagasan awal yang baik, untuk terus merawat tali silaturahmi angkatan, yang memiliki akar historis yang tak terlupakan, dalam satu fase usia ketika menuntut ilmu di FH-UMI.
Siang makin mendekati sore. Kami berpamitan dalam rangkul dan jabat hati yang tulus.
Rangkulan itu, seolah seperti doa: semoga kita semua sehat wal afiat, untuk bersua kembali dalam cinta dan kasih sayangNya.
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda