SELEBRASI HARI PUISI DAN DEKLARASI HPSS
Para penggagas utama dan para penyair tengah bahagia, bahwa hari puisi Indonesia telah dicetuskan. Melalui SK Menteri Kebudayaan N0. 167/M/2025, hari puisi nasional ditetapkan 26 Juli. Pilihan penanggalan yang menandai sebuah ‘penguatan budaya berpuisi’ di tanah air.
Mungkin di alam abadinya, Khairil Anwar, sang legenda puisi
Indonesia modern, ‘turut berbahagia’ ketika hari ketika ia keluar dari rahim
bundanya, dipilih sebagai hari kenangan atas semangat dan aktivitas
kesuatraannnya yang teguh di awal sejarah bangsa indoensia modern, dari
bangsa dimana ia telah dilahirkan
(Medan, 26 juli 1922).
Hari ketika ‘sang binatang jalang’ itu pertamakali
melihat alam dunia di bumi Nusantara, kini menjadi penanda peneguhan tentang
‘puisi Indonesia modern’. Dan seterusnya akan dirayakan dalam ragam aktivitas
berpuisi diseluruh wilayah kepenyairan Indonesia modern, sejak penetapanya oleh
negara. Meskipun ‘kepergiannya’ ke dunia abadi (Jakarta, 28 April 1949), sering
menjadi penaggalan bagi para penyair dan sastrawan ‘berkahul’ atas sosok
kepriabadian dan karya-karya monumentalnya.
Khairil Anwar adalah nama yang telah melegenda dalam ingatan
semua generasi sekolahan bangsa ini. Aktivitas kepenyairannya yang ‘tiada
tanding’ dimasanya, telah membuat sosoknya menjadi pribadi pelopor puisi modern
Indonesia. Tercatat dalam periode produktifitasnya (1942-149), sang “Aku” ini
telah menghasilkan 94 tulisan (70 sajak, 4 saduran, 10 sajak terjemahan, 6
prosa dan 4 prosa terjemahan.
Kepeloporan sang kampiun sastra modern Indonesia ini, telah
mengilhami banyak pihak pegiat sastra untuk mendudukan ‘eksistensi kepenyairan
Khairil Anwar’ dalam rasa hormat dan penghargaan tinggi atas ‘kepahlawanannya’
dalam dunia sastra, untuk membuat basis legal-formal (penetapan hari puisi
nasional) bagi menguatkan kebudayaan bangsa, melalui ranah sastra.
Perayaan yang terselanggara merupakan ungkapan bahagia dan
kesyukuran, bahwa dunia puisi secara khusus dan sastra secara umum, kini
mendapat ‘legal standing’ baru dalam perjalanan untuk kemajuan dan kemartabatan
‘kebudayaan puisi’ bagi konstruksi kepribadian bangsa di masa depan.
Komite Sastra Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS),
bergandeng dengan Forum Sastra Kepulauan, Forum Sastra Indonesia Timur
(FOSAIT), Satu Pena. Kopi Makassar, IPMI, Pikom IMM FEB Unismuh, Anak Makassar
Voice. HIMAJEP FEB Unismuh. DE'Art Production FSD UNM, Teater Kita Makassar,
K-Apel, Komunitas Saweigading, Bengkel Sastra FBS UNM, Teater Kampus FSD
UNM, AKSARA FIP UNM, pada 28 Juli 2025,
bertempat di Gedung Saopanrita Universitas Negeri Makassar, menghadirkan
sejumlah penyair, budayawan dan seniman, baik dari kalangan umum maupun
mahasiswa, dalam acara peringatan hari puisi nasional, dan sekaligus melakukan
deklarasi Hari Puisi Sulawesi Selatan (HPSS).
Karya-karyanya yang berbentuk puisi adalah (1)
"Kekasih" (Pandji Poestaka, No. 15, Th. X, 1932), (2) "Di dalam
Taman" (Pandji Poestaka, No. 28, Th. X, 1932), (3) "Jangan
Kecewa" (Pandji Poestaka, No. 48, Th. X, 1932), (4) "Bunga
Melati" (Pandji Poestaka, No. 50, Th. X, 1932), (5) "Jangan Katakan"
(Pandji Poestaka, No. 52, Th. X, 1932), (6) "Jangan Sangkakak"
(Pandji Poestaka, No. 58, Th. X, 1932), (7) "Aku Tahu Tuan Tak Tahu"
(Pandji Poestaka, No. 62, Th. X, 1932), (8) "Dimana Gerangan Dinda
Utama?" (Pandji Poestaka, No. 62, Th. X, 1932), (9) "Jika Tidak"
(Pandji Poestaka, No. 732, Th. X, 1932), (10) "Keluh" (Pandji
Poestaka, No. 91, Th. X, 1932), (11) "Kecewa (Pandji Poestaka, No. 93, Th.
X, 1932), (12) "Bimbang" (Pandji Poestaka, No. 96, Th. X, 1932), (13)
"Keluh dan Sangka" (Pandji Poestaka, No. 99, Th. X, 1932), (14)
"Mudah Bestari" (Pudjangga Baroe, No. 3, Th. I, 1933), (15)
"Indonesia Tanah Airku" (Pudjangga Baroe, No. 3, Th. I, 1933), (16)
"Gubahan" (Pudjangga Baroe, No. 10, Th. VI, 1939), (17) "Ada
Hiburan" (Pudjangga Baroe, No. 8, Th. IV, 1937), (18) "O,
Manusia" (Pudjangga Baroe, No. 5, Th. IX, 1941), (19) "Betapa
Tidak" (Siasat, No. 71, Th. II, 1948), (20) "Penyapu Jala"
(Siasat, No. 71, Th. II, 1948), (21) "Buahnya" (Budaja, No. 4, Th.
II, 1947), (22) "Bukan" (Budaja, No. 4, Th. II, 1947), (23)
"Cahaya Hati" (Budaja, No. 1, Th. II, 1947), (24) "Gugur
Melati" (Budaja, No. 4, Th. II, 1947), (25) "Percayalah, Kawan"
(Sulawesi, No 1, Th. I, 1958), (26) "Pesan" (Sulawesi, No 1, Th. I,
1958), (27) "Bimbang" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952), (28)
"Ada Aku" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952), dan (29)
"Pesan" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952).
Karya-karyanya yang berbentuk prosa adalah (1) "Aku dan
Bantimurung (Budaja, No. 5, Th. III, 1948), (2) "Dalam Gelanggang"
(Budaja, No. 8, Th.III, 1948), (3) "Demikian Hendaknya" (Budaja, No.
8, Th. II, 1948), (4) "Di bawah Arus Gelombang Masa" (Budaja, No. 8,
Th. II, 1948), (5) "Jika Cinta Sudah Terjalin" (Budaja, No. 8, Th.
II, 1948), (6) "Kenang-kenangan (Budaja, No. 6, Th. II, 1948), (7) "Kisah
yang Bukan Kisah Tapi yang Kisah Pula" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (8)
"Lebur" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (9) "Mengembara (Budaja,
No. 12, Th. III, 1948), dan (10) "Manusia Dewa" Pudjangga Baroe,
No. 3, Th. XI, 1949).
Usai pembacaan deklarasi, dilakukan penyematan tanda tangan diatas
bentangan spanduk oleh senyumlah penyair yang hadir dalam acara.
Diantara acara diskusi buku kumpulan puisi bersama
"Sayap-sayap Indonesia" dan pembecaan teks deklarasi Hari Puisi
Sulawesi Selatan, diselah dengan pembacaan puisi oleh para penyair, juga
musikalisasi puisi.
SAYAP INDONESIA
1: TRADISI
Nusa-nusa
melukis diri di atas gulung ombak samudra Tradisi. Menitik rapi tak beraturan
bagai kembang pelangi. Garis-garis nilai, norma dan adat melentur warna hingga
utuh lukisan abadi. Tapi kini, memburam dalam pandang, walau tak lekang dalam
kala. Nyanyian Weda, tuah-tuah Upanishad, tarian Bissu-attoriolong dan
kalam-kalam Qurani dalam adat, melayang mengambang sunyi belantara hutan-hutan
angker nusantara.
Hiruk
pikuk perjalanan makin menjauh, gamang datang akrab tak ternyana. Mata nyalang
ke senjakala, terselip nanar rindu memendam luka hati mengangah. Harapan
perjalanan menguap diudara kering. Bait-bait modern konstitusi pelipur lara,
menjelma dengung mantra, membentur tembok berlumut ketidakmengertian.
Tradisi
tempat dahulu para raja, kesatria, rakyat jelata, pemuda, pemudi, hingga bayi
dalam ayunan, memandi rembulan dan mentari, mengolah asa dan raga, kini sunyi
sepi penghuni. Merayap asa basa air mata. Setiap tetes ratap makna yang tak
tertampung. Tardisi, rindu mendulang jangtung nusa yang berlayar. Riak
gelombang zaman memercik lemah kekopak mata meredup.
Di
lantai rumah kayu, tikar-tikar daun pandan sobek disemua sisi. Lego-lego bukan
lagi tempat menikmati tegukan makna sejati. Kaki-kaki berarak menjauh dari
zaman silam yang sepenuh arti tidak lagi terjamah akal. Cahaya Tradisi,
menyulut nyalah kuburan-kuburan tua di belakang rumah, menunggu peziarah.
Makassar,
20 juli 2024
SAYAP INDONESIA
2: MODERN
Memantul
gema merdeka dari tebing gunung-gunung api di lembah-lembah. Di meja
proklamasi, bayi republik menggeliat kemerah-merahan. Tangan-tangan
mengarak-tancap bendera modernisme ke pelosok-pelosok hingga jauh. Riang
gembira anak-anak bermandi cahaya bulan, diiring orde-orde berlarian girang
membawa obor mimpi: demokrasi, HAM, pluralisme, setara gender, infrastruktur,
pasar dan tambang-tambang… panggung festival pembangunan.
Jas
Eropa, peci hitam, dasi, kebaya, baju bodo, sarung dan kemeja, jelana jeans dan
kaos oblong, supermarket, mall, pasar swalayan, gedung dan rumah semen,
pabrik-pabrik, panorama alam, turis, komputer, internet, digital hingga AI dan
selaksa sewajah: potret baru lanskap kaca bening.
Anak-anak
mendandan diri sutra rasionalisme, reso dan batik nasionalisme. Mengapa api
masih merambat cepat pada rumput basah padang-padang hijau? Apakah akal sehat
dunia modern membuatmu sakit, oh republik. Kecerdasan abad ilmiah lunglai
membimbingmu berdiri kokoh. Apakah dinamisme itu permainan atau sungguhan?
Detak jam dinding mendengung bingung tanpa henti.
Lumpuh
bait sajak-sajak kuno menyusun kisahmu. Adab menahan tangan sang penyair,
karena kecerdasan buatan lebih berharga dari sepotong tuah kuno. Mari berdansa:
putar salsa, tanggo, dangdut gali lobang tutup lobang, gundul-guldul pacul,
angging mammiri. O, betapa kejam angin barat berhembus, musim tak lagi rapi
berganti. Cuaca zaman modern menjelma anomali dalam keranjang rotan buah tangan
Dewi Nawang Bulan.
Makassar,
20 Juli 2025








0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda