Senin, 28 Juli 2025

SELEBRASI HARI PUISI DAN DEKLARASI HPSS

Para penggagas utama dan para penyair tengah bahagia, bahwa hari puisi Indonesia telah dicetuskan. Melalui SK Menteri Kebudayaan N0. 167/M/2025, hari puisi nasional ditetapkan 26 Juli.  Pilihan penanggalan yang menandai sebuah ‘penguatan budaya berpuisi’ di tanah air.

Mungkin di alam abadinya, Khairil Anwar, sang legenda puisi Indonesia modern, ‘turut berbahagia’ ketika hari ketika ia keluar dari rahim bundanya, dipilih sebagai hari kenangan atas semangat dan aktivitas kesuatraannnya yang teguh di awal sejarah bangsa indoensia modern, dari bangsa  dimana ia telah dilahirkan (Medan, 26 juli 1922).

Hari ketika ‘sang binatang jalang’ itu pertamakali melihat alam dunia di bumi Nusantara, kini menjadi penanda peneguhan tentang ‘puisi Indonesia modern’. Dan seterusnya akan dirayakan dalam ragam aktivitas berpuisi diseluruh wilayah kepenyairan Indonesia modern, sejak penetapanya oleh negara. Meskipun ‘kepergiannya’ ke dunia abadi (Jakarta, 28 April 1949), sering menjadi penaggalan bagi para penyair dan sastrawan ‘berkahul’ atas sosok kepriabadian dan karya-karya monumentalnya.

Khairil Anwar adalah nama yang telah melegenda dalam ingatan semua generasi sekolahan bangsa ini. Aktivitas kepenyairannya yang ‘tiada tanding’ dimasanya, telah membuat sosoknya menjadi pribadi pelopor puisi modern Indonesia. Tercatat dalam periode produktifitasnya (1942-149), sang “Aku” ini telah menghasilkan 94 tulisan (70 sajak, 4 saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa dan 4 prosa terjemahan.

Kepeloporan sang kampiun sastra modern Indonesia ini, telah mengilhami banyak pihak pegiat sastra untuk mendudukan ‘eksistensi kepenyairan Khairil Anwar’ dalam rasa hormat dan penghargaan tinggi atas ‘kepahlawanannya’ dalam dunia sastra, untuk membuat basis legal-formal (penetapan hari puisi nasional) bagi menguatkan kebudayaan bangsa, melalui ranah sastra.

Perayaan yang terselanggara merupakan ungkapan bahagia dan kesyukuran, bahwa dunia puisi secara khusus dan sastra secara umum, kini mendapat ‘legal standing’ baru dalam perjalanan untuk kemajuan dan kemartabatan ‘kebudayaan puisi’ bagi konstruksi kepribadian bangsa di masa depan.

Komite Sastra Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS), bergandeng dengan Forum Sastra Kepulauan, Forum Sastra Indonesia Timur (FOSAIT), Satu Pena. Kopi Makassar, IPMI, Pikom IMM FEB Unismuh, Anak Makassar Voice. HIMAJEP FEB Unismuh. DE'Art Production FSD UNM, Teater Kita Makassar, K-Apel, Komunitas Saweigading, Bengkel Sastra FBS UNM, Teater Kampus FSD UNM,  AKSARA FIP UNM, pada 28 Juli 2025, bertempat di Gedung Saopanrita Universitas Negeri Makassar, menghadirkan sejumlah penyair, budayawan dan seniman, baik dari kalangan umum maupun mahasiswa, dalam acara peringatan hari puisi nasional, dan sekaligus melakukan deklarasi Hari Puisi Sulawesi Selatan (HPSS).

Peringatan hari puisi nasional ini diawali dengan diskusi buku kumpulan puisi berjudul “Sayap-sayap Indonesia”, dari sejumlah penyair Sulawesi Selatan. 3 pembicara masing-masing Mahrus Andis (Kritukus sastra dan Penyair, penulis), Aslan Abidin (Penyair utama Sulawesi Selatan, akademisi) dan Rusdin Tompo (Penyair, penulis dan ketua Satu Pena Sulawesi Selatan), memberikan review atas buku dan persepektif mendalam dan aktual atas dunia sastra secara umum.

Kemudian, sebuah peneguhan dunia puisi Sulawesi Selatan dalam deklarasi Hari Puisi Sulawesi Selatan (HPSS). Script deklarasi dibacakan langsung oleh ketua DKSS, Arifin Manggau. Isi deklarasi menyatakan poin utama, bahwa HPSS jatuh pada hari kelahiran penyair kenamaan Sulawesi Selatan, Abdul Muin Daeng Myala, 2 Januari.

Dalam catatn resmi, disebutkan bahwa A.M.Dg. Myala atau Abdul Muin Daeng Myala adalah sastrawan Indonesia kelahiran Makassar pada tanggal 2 Januari 1909. Penyair ini mempunyai nama lain A. M. Thahir. Dia tergolong sebagai penyair Angkatan Pujangga Baru. Pendidikannya hanyalah sekolah kelas II. Namun, berkat usaha kerasnya (belajar secara autodidak), pada tahun 1928 ia dipercaya menjadi guru HIS Muhammadiyah dan membantu majalah Poedjangga Baroe (Eneste, 1990:17). Pada tahun 1929 ia diangkat sebagai pekerja (buruh) di Dinas Perdagangan dan pada tahun 1930 ia kembali menjadi guru, di Holland Dinijah School, Makassar.

Karya-karyanya yang berbentuk puisi adalah (1) "Kekasih" (Pandji Poestaka, No. 15, Th. X, 1932), (2) "Di dalam Taman" (Pandji Poestaka, No. 28, Th. X, 1932), (3) "Jangan Kecewa" (Pandji Poestaka, No. 48, Th. X, 1932), (4) "Bunga Melati" (Pandji Poestaka, No. 50, Th. X, 1932), (5) "Jangan Katakan" (Pandji Poestaka, No. 52, Th. X, 1932), (6) "Jangan Sangkakak" (Pandji Poestaka, No. 58, Th. X, 1932), (7) "Aku Tahu Tuan Tak Tahu" (Pandji Poestaka, No. 62, Th. X, 1932), (8) "Dimana Gerangan Dinda Utama?" (Pandji Poestaka, No. 62, Th. X, 1932), (9) "Jika Tidak" (Pandji Poestaka, No. 732, Th. X, 1932), (10) "Keluh" (Pandji Poestaka, No. 91, Th. X, 1932), (11) "Kecewa (Pandji Poestaka, No. 93, Th. X, 1932), (12) "Bimbang" (Pandji Poestaka, No. 96, Th. X, 1932), (13) "Keluh dan Sangka" (Pandji Poestaka, No. 99, Th. X, 1932), (14) "Mudah Bestari" (Pudjangga Baroe, No. 3, Th. I, 1933), (15) "Indonesia Tanah Airku" (Pudjangga Baroe, No. 3, Th. I, 1933), (16) "Gubahan" (Pudjangga Baroe, No. 10, Th. VI, 1939), (17) "Ada Hiburan" (Pudjangga Baroe, No. 8, Th. IV, 1937), (18) "O, Manusia" (Pudjangga Baroe, No. 5, Th. IX, 1941), (19) "Betapa Tidak" (Siasat, No. 71, Th. II, 1948), (20) "Penyapu Jala" (Siasat, No. 71, Th. II, 1948), (21) "Buahnya" (Budaja, No. 4, Th. II, 1947), (22) "Bukan" (Budaja, No. 4, Th. II, 1947), (23) "Cahaya Hati" (Budaja, No. 1, Th. II, 1947), (24) "Gugur Melati" (Budaja, No. 4, Th. II, 1947), (25) "Percayalah, Kawan" (Sulawesi, No 1, Th. I, 1958), (26) "Pesan" (Sulawesi, No 1, Th. I, 1958), (27) "Bimbang" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952), (28) "Ada Aku" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952), dan (29) "Pesan" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952).

Karya-karyanya yang berbentuk prosa adalah (1) "Aku dan Bantimurung (Budaja, No. 5, Th. III, 1948), (2) "Dalam Gelanggang" (Budaja, No. 8, Th.III, 1948), (3) "Demikian Hendaknya" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (4) "Di bawah Arus Gelombang Masa" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (5) "Jika Cinta Sudah Terjalin" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (6) "Kenang-kenangan (Budaja, No. 6, Th. II, 1948), (7) "Kisah yang Bukan Kisah Tapi yang Kisah Pula" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (8) "Lebur" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (9) "Mengembara (Budaja, No. 12, Th. III, 1948), dan (10) "Manusia Dewa" Pudjangga Baroe, No. 3, Th. XI, 1949).

Usai pembacaan deklarasi, dilakukan penyematan tanda tangan diatas bentangan spanduk oleh senyumlah penyair yang hadir dalam acara.

Diantara acara diskusi buku kumpulan puisi bersama "Sayap-sayap Indonesia" dan pembecaan teks deklarasi Hari Puisi Sulawesi Selatan, diselah dengan pembacaan puisi oleh para penyair, juga musikalisasi puisi.

Dua diantara puisi yang termuat dalam buku antologi puisi “Sayap-sayap Indonesia, adalah: “Sayap Indonesia 1: Tradisi” dan “Sayap Indonesia 2: Modern”,  karya S. Muhtamar, berikut ini:

SAYAP INDONESIA 1: TRADISI

Nusa-nusa melukis diri di atas gulung ombak samudra Tradisi. Menitik rapi tak beraturan bagai kembang pelangi. Garis-garis nilai, norma dan adat melentur warna hingga utuh lukisan abadi. Tapi kini, memburam dalam pandang, walau tak lekang dalam kala. Nyanyian Weda, tuah-tuah Upanishad, tarian Bissu-attoriolong dan kalam-kalam Qurani dalam adat, melayang mengambang sunyi belantara hutan-hutan angker nusantara.

Hiruk pikuk perjalanan makin menjauh, gamang datang akrab tak ternyana. Mata nyalang ke senjakala, terselip nanar rindu memendam luka hati mengangah. Harapan perjalanan menguap diudara kering. Bait-bait modern konstitusi pelipur lara, menjelma dengung mantra, membentur tembok berlumut ketidakmengertian.

Tradisi tempat dahulu para raja, kesatria, rakyat jelata, pemuda, pemudi, hingga bayi dalam ayunan, memandi rembulan dan mentari, mengolah asa dan raga, kini sunyi sepi penghuni. Merayap asa basa air mata. Setiap tetes ratap makna yang tak tertampung. Tardisi, rindu mendulang jangtung nusa yang berlayar. Riak gelombang zaman memercik lemah kekopak mata meredup.

Di lantai rumah kayu, tikar-tikar daun pandan sobek disemua sisi. Lego-lego bukan lagi tempat menikmati tegukan makna sejati. Kaki-kaki berarak menjauh dari zaman silam yang sepenuh arti tidak lagi terjamah akal. Cahaya Tradisi, menyulut nyalah kuburan-kuburan tua di belakang rumah, menunggu peziarah.

Makassar, 20 juli 2024

 

SAYAP INDONESIA 2: MODERN

Memantul gema merdeka dari tebing gunung-gunung api di lembah-lembah. Di meja proklamasi, bayi republik menggeliat kemerah-merahan. Tangan-tangan mengarak-tancap bendera modernisme ke pelosok-pelosok hingga jauh. Riang gembira anak-anak bermandi cahaya bulan, diiring orde-orde berlarian girang membawa obor mimpi: demokrasi, HAM, pluralisme, setara gender, infrastruktur, pasar dan tambang-tambang… panggung festival pembangunan.

Jas Eropa, peci hitam, dasi, kebaya, baju bodo, sarung dan kemeja, jelana jeans dan kaos oblong, supermarket, mall, pasar swalayan, gedung dan rumah semen, pabrik-pabrik, panorama alam, turis, komputer, internet, digital hingga AI dan selaksa sewajah: potret baru lanskap kaca bening.

Anak-anak mendandan diri sutra rasionalisme, reso dan batik nasionalisme. Mengapa api masih merambat cepat pada rumput basah padang-padang hijau? Apakah akal sehat dunia modern membuatmu sakit, oh republik. Kecerdasan abad ilmiah lunglai membimbingmu berdiri kokoh. Apakah dinamisme itu permainan atau sungguhan? Detak jam dinding mendengung bingung tanpa henti.

Lumpuh bait sajak-sajak kuno menyusun kisahmu. Adab menahan tangan sang penyair, karena kecerdasan buatan lebih berharga dari sepotong tuah kuno. Mari berdansa: putar salsa, tanggo, dangdut gali lobang tutup lobang, gundul-guldul pacul, angging mammiri. O, betapa kejam angin barat berhembus, musim tak lagi rapi berganti. Cuaca zaman modern menjelma anomali dalam keranjang rotan buah tangan Dewi Nawang Bulan.

Makassar, 20 Juli 2025

 

 

 

 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda