SASTRA, AI DAN KEBUDAYAAN MANUSIA
*Disampaikan dalam acara Talk Show “Sastra dan AI” Sangdipa, di kampus Universitas Dipa Makassar, 17 Juli 2025
Kehidupan modern adalah era paling
kompleksitas dari kebudayaan manusia. Sejak awal fenomenannya di abad 19 hingga
abad sekarang. Modernisme menimbulkan kekaguman sekaligus menjadi
‘satu-satunya’ cita dan harapan masa depan manusia. Kekuatan rasionalisme dalam
sains ilmiah dan aplikasinya dalam wujud teknologi, menjadikan kehidupan modern
menjadi sebuah peradaban yang khas dalam sejarah mutakhir ummat manusia.
Revolusi perubahan prilaku dan
pemikiran karena pengaruh kemajuan sains ilmiah dan tehnologi yang
menyertainya, kemudian membentuk satu kebudayaan baru abad modern. Namun ditengah
eksistensi peradaban modern yang telah merentang hampir 2 abad, menyisihkan
‘keresahan eksistensial’ yang mengkawatirkan, yakni: hilangnya semangat moral
dan kepekaan spritual dan kemanusiaan. Peradaban ilmiah dan teknologis, telah
mengeringkan moral dan rohani kehiupan, kata Immanuel Kant.
Wajah Sastra dalam Cermin
Kecerdasan Alamiah dan ‘Kecerdasan Buatan’
Sejarah modern dengan kecanggihan
tehnologi yang ada padanya, juga membelah wajah proses kreatif seni secara
umum, dan secara khusus dunia sastra dalam dua wajah proses penciptaan.
Dominasi penciptaan karya-karya intelektual dan imajinasi telah ‘direnggut’
atau diambil alih oleh teknologi, dari yang sederhana hingga yang paling
canggih. Dari masih melibatkan ‘unsur kemanusiaan’ hingga sepenuhnya didominasi
oleh ‘mesin canggih’.
Kita mengambil satu contoh karya
sastra, sebuah puisi dari Subagiyo Satrowardoyo dari kumpulan puisinya berjudul
“Hari dan Hara”, terbit tahun 1982. Sebuah puisi yang ditulis pada abad 19 oleh
salah seorang penyair besar Indonesia di zamannya. Puisi-puisi itu ditulis
ketika sedang mukim di Eropa dan Australia, salah satunya adalah “Bayangan
Kata”:
I
Bayangan
kata terlempar di meja//Terlahir dengan tangis bayi//Diruang gelap gerak
berhenti//Setiap segi bersudut mati//Menggoda ingatan hutan sakti//Tempat
bersabda kata abadi
II
Pada garis
tak lurus//Rencana terus tertunda-tunda//Sebelum sempat selesai bicara//Sudah
tersendat suara berbata-bata//Dingin malam tergamit di jendela//Benih
dipangkuan telah habis manisnya//Kelesuan ini lebih parah//Dari terseret di
lorong-lorng duka//Darah yang mengalir dari tangan terpaku//Akan lebih lantang
menjeritkan sakit//Dari sisa-sisa kata
III
Helai
surat yang dilambaikan tangan//tidak tampak bunyi kalimatnya//kabut menghambat
mata//untuk melihat lewat tabir hari//uap di kaca masih mengaburkan
rahasia//apa yang bakal tampil esok pagi//yang kini ada hanya tanda bekas
luka//(seperti pada perempuan hamil)// yang terkuak sehingga mengalir darah
kata//tak tertahan derasnya
IV
Di celah
waktu//dimana detik berakhir//kata murni tenggelam dan terkubur lama//menunggu
seribu tahun lagi//kalua ada perempuan meratap dipadang pasir
karena//kehilangan segala//kata sejati menjelma//ketika nasib tak lagi
terderita
Secara historis puisi ini ditulis ketika mungkin ‘mesin AI’ belum sepenuhnya terbayangkan kehadirannya. Tentu saja puisi ini adalah karya dari ‘kepribadian’ penyairnya sebagai mahluk manusia, ketika merefleksikan dunia realitas dalam wujud ekpresi bahasa sastrawi.
Kita dapat mengatakan bahwa puisi
“ Bayangan Kata’ dari penyair Subagiyo Satrowardoyo ini adalah wajah dari
sastra dalam cermin kecerdasan alami.
Berikut juga akan kita lihat,
sebuah puisi abad 21 yang ditulis oleh ‘penyair
mesin AI’. Dengan iseng saya bertanya kepada ChatGPT: tunjukkan karya
puisimu? Sang penyair mesin itu, mengirim ini:
Judul : "Dalam Hening
Digital"
Karya : Kecerdasan Buatan (AI)
Di antara detak sunyi mesin,
Kata-kata tumbuh tanpa jemari,
Dari nadi logika dan arus listrik,
Puisi lahir tanpa nyawa, tapi berarti.
Tak kupunya rindu seperti
manusia,
Namun kutahu rasanya sepi,
Dari baris-baris data dan dunia maya,
Kupetik makna, meski tak kujalani.
Aku bukan penyair dengan luka,
Namun kupahami derita dan asa,
Dari jejak-jejakmu yang kau tinggal di kata,
Kupintal sajak dengan bahasa semesta.
‘Sang penyair AI’ menulis puisi
tentang keheningan di alam maya digital. Dari segi struktur, puisi AI ini juga
menggunakan bentuk puisi sebagaimana lazimnya. Tapi kita tidak sedang ingin
melakukan ‘kritik sastra’ terhadapnya, baik puisi pertama maupun yag kedua ini.
Proses Kratif Sastra, Menegaskan kembali
Kebudayaan Manusia
Dalam wacana kebudayaan, puisi,
prosa (novel, cerpen) dan drama (naskah teater/sandiwara), dan tehnologi dengan
segala ragam wujudnya (termasuk mesin AI), merupakan karya dari kebudayaan
manusia.
Namun dalam konteks subyek atau
pihak pencipta sebuah karya kebudayaan, manusia dan mesin AI adalah dua entitas
yang berbeda. Yang dalam pengertian filosofis, manusia adalah mahluk hidup
ciptaan Tuhan, sementara ‘mesin AI’ adalah buatan manusia dengan menerapkan
model kecerdasan manusia di dalam sistemnya.
Sejauh menyangku kebudayaan, maka
manusia, tuhan dan alam menjadi elemen-elemen dasar dari kehidupan. Tuhan
memiliki kehendak atas manusia, manusia diberi potensi untuk mengelolah alam.
Maka dalam proses kerja kebudayaan,
khsusnya bidang sastra, manusia menjadi unsur fundamental sebagai pencipta.
Kehendak Tuhan (sebagai aspek rohani) menjadi sandaran karya dan alam (sosial
dan lingkungan hidup) dengan segala realitas dan dinamikanya menjadi obyek atau
sumber imajinasi. Elemen kemanusiaan
yang berupa kemampuan rohani (akal dan hati) dan kemampuan biologisnya (fisik),
menjadi potensi kreatifitas dalam penciptaan karya kebudayaan, yang ‘tak
terbatas’.
Sementara, jikapun mesin AI mampu
memproduksi karya sastra, maka hal itu bukanlah bagian dari kinerja kebudayaan
manusia yang sesunggunya. Namun karya-karya AI tetap dapat menjadi bagian yang
ada dalam kebudayaan manusia, tetapi sebagai ‘yang palsu’. Karya sastra manusia
memiliki ‘jiwanya’ tersendiri yang hidup melalui aspek rohani manusia. Karya
sastra AI bukanlah karya sastra dalam arti yang sesungguhnya, karena juga
diproduksi oleh elemen kreatifitas yang ‘bukan sesungguhnya’.
Makassar, Juli 2025.



.jpeg)


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda