DARUL MUKHLISIN PADANG LAMPE: LEMBAH CINTA DAN GEMA RINDU YANG MEMANTUL (Catatan Kenangan ‘PQ 1 UMI 2026’)
Sejumlah 117 ( dosen dan
karyawan) dari 13 fakultas akan mengukuti program ‘pendidikan spritual’ di
pesantern Darul Muhklisin, Padang Lampe, Kabupaten Pangkep.
Makin jauh dari gerbang perbatasan
kota, ‘hutan beton kota besar’ makin hilang dari pandangan. Berganti hamparan sawah berselimut rerumputan hijau dan
jajaran gunung yang berdiri rapi, di kejauhan.
Arakan perjalanan menuju Padang Lampe, diselingi rehat kecil di sebuah Rest Area. Singgah sekedar, menikmati camilan roti khas masyarakat Maros, dan menyeruput
kopi yang terhidang gratis. Ada yang membuang hajat kecil, dan mungkin juga ada
yang mencuri kesempatan, menunaikan shalat duhanya.
Setelah melwati kota kabupaten Pangkep yang dibelah sungai panjang, dengan khas jembatan lengkung ala ‘kota-kota Eropa’ (yang nampaknya baru dibangun), rombongan bus membelok ke arah kanan.
Sebuah belokan jalan
menuju pabrik semen terbesar di Indonesia Timur, PT. Semen Tonasa (yang telah
merger menjadi Semen Indonesia). Sebelum sempat melewati halaman kantor semen
tonasa, rombongan bus berkelok ke arah kiri, menyusuri jalan yang agak
menyempit.
Melawati sebuah pasar, beberapa bangunan mesjid dan sekolah, yang
papan bicaranya menunjukkan: Jl, Poros Dusun Sambu, Desa Padang Lampe, Kecamatan Ma’rang.
Kurang lebih 2 setengah jam menempuh jalan, rombongan bus akhirnya tiba di lokasi Pesantren Darul Muhklisin. Pusat pendidikan 'spritual' ini, menempati sekitar 30 hektar lahan padang yang luas. Memiliki infrastruktur 'pelatihan spritual' cukup lengkap.
Padang luas yang dipagari gunung-gunung batu kapur menjulang
tinggi, disisi-sisi lembah.
Sebuah bangunan mesjid berukuran besar, dikitari kelas-kelas pembelajaran dan asrama, mini market, klinik kesehatan, wisma-wisma dan jalan-jalan penghubung yang mengitegrasikan ragam aktivitas di dalam kompleks, serta perkebunan untuk pendidikan dan wisata religi.
Sebuah kompleks pelatihan dan pendidikan religius yang terencana matang, berada jauh 'terpencil' dari riuh kota besar, dan dilingkupi suasana asri perdesaaan yang damai.Bus-bus memarkir diri di depan wisma dan mini market. Jejak kaki pertama peserta PQ 1 menandai hari pertama, di Padang Lampe.
Bagi peserta
yang pernah mengecap ‘pendidikan rohani’ disini ketika studi di Umi, mungkin
tidak dihantui rasa ketidakpastian. Namun bagi yang merasakan sebagai pengalaman pertamakali, tentu masih meraba-raba
dalam ‘kegelapan’.
Namun suasana hening lokasi pesantren, membawa damai hingga terlupa segala cemas yang mungkin masih bergelayut dalam benak.
Sejuk terasa air lembah yang meresap dari dari gunung-gunung membasu wajah, ketika wuduh pertama di mesjid Baiturrahman, jelang shalat dhuhur. Berbondong-bondong pejalan kaki memenuhi ruangan mesjid yang luas. Warna putih menghampar bagi kupu-kupu yang merapat berkelebat berlomba berebut ‘madu spritual’.
Sebuah pemandangan yang selalu hadir setiap waktu pelaksanaan ibadah di mesjid, yang tidak pernah sepi jamaah tersebut.
Usai Shalat dhuhur berjamaah, ada pengumuman untuk peserta
dosen dan karyawan, usai santap siang. Ada acara pembukaan Program PQ Angkatan
I oleh pihak rektorat.
Usai pembukaan, selajutnya adalah perjalanan ‘pelatihan rohani’ selama 7 hari 7 malam.
Dengan diselingi materi-materi, baik yang
berkenaan dengan Visi dan Misi Institusi UMI, Karakter Insan Akademik Berbasis PQ
dan Implementasinya, berkenaan Akidah dan Ahlak Islami, Syariat dan Fiqh, Pengobatan
ala Nabi SAW, dan ‘yang terkhusus’ istimewa mengenai Hakikat metode pencerahan
kalbu dan Asmaulhusna.
Sepanjang hari-hari itu, semua ibadah dari sholat, doa, tadarrus alquran, zikir dan shalawat dilaksanakan secara berjamaah, di dalam mesjid.
Hingga terasa, semarak lahir dan batin dalam ibadah dalam hamparan pakian serbah putih jamaah peserta PQ, dari mahasiswa, dosen hingga karyawan.
lantunan indah
zikir dan shalawat yang menggema, memantul-mantul di dinding mesjid, membuat
takzim hingga hati tertunduk syahduh di hadapan kebesaran dan keagunganNya.
Hingga mungkin, makna-makna terdalam (hikmah) dibalik semua perkataan suci yang terucapkan dan terdengarkan, akan menyelusup lembut ke dalam kalbu. Hingga hikmah suci itu menetap disana sebagai ilmu abadi.
Kita menyadari atapun tidak, 'jejak spritual' dari mereka, telah tertanam di dalam dada sebagai bibit, yang memerlukan perawatan.Hingga sering terdengar, ‘kelakar’ di dalam majelis: padang lampe ini merentang dalam dua padang abadi selanjutnya, yakni padang Arafa dan padang Mahsyar.
Bahkan, dikatakan oleh narasumber lainnya: boleh jadi
keberadaan kita disini menjadi ruang dan waktu kita yang terbaik selama hidup, karena sepenuhnya ruang-waktu itu digunakan hanya ibadah kepadaNya,
non-stop, tanpa selingan urusan-urusan duniawi yang melenakan.
Termasuk dalam urusan makan, yang posri dan
menunya telah ditentukan. Kita tidak mengkonsumsi seperti yang hazrat kita inginkan. Sebuah latihan pengendalian
hasrat yang mungkin sangat ideal, jika dapat dipenuhi dengan komitmen penuh.
Yang barangkali sebelumnya, kita begitu mudah melayani hasrat kita. Begitu, ada pembatasan melalui ‘metode pelatihan’, sang hazrat mungkin tetap meronta-ronta untuk dipenuhi.
Yang gagal mengendalikan, mungkin
juga akan gagal menuju ‘kedisplinan spritual’, yang diperlukan dalam proses pencerahan
qalbu. Sehingga, agaknya, memerlukan kesungguhan persiapan mental memasuki ‘pelatihan
spritual’ ini.
Dalam banyak cerita-cerita, mengenai pelatihan spritual yang diadakan oleh halaqah-halaqah beragam tariqah: urusan makan termasuk hal paling urgen. Ada yang hanya 'membolehkan' mengkonsumsi bubur kacang merah dan segelas air putih, setiap hari sepanjang 40 hari 40 malam.
Sebagaimana pengalaman, Syekh Nazim Adil Al-Qubrusi bersama Gurunya Syekh Abdullah Faiz Al-Dagetstani dari tariqah Naqsyabandi Al-Haqqani/Nazimiyah, ketika mereka proses pelatihan rohani dalam khalwat/suluk.
Sang guru hanya meminum air putih dan
muridnya mendapat jatah semangkuk sup hangat dan segelas air putih, setiap harinya selama proses khlawat. Mungkin
ini untuk pelatihan rohani yang ‘sepesifik’.
Berkumpul di pesantren Darul Mukhlisin Padang Lampe, tidak hanya membawa ‘kesadaran cinta ilahiyah’ kepada sang Khalik melalui sholat, zikir dan doa-doa, dan kecintaan pada kekasihNya Muhammad SAW dalam nyanyian-nyanyian lembut nan merdu shalwat-shalawat.
Tetapi juga, terjalinnya tali kasih sayang silaturahmi antar insan akademia UMI. Melalui intensitas pengenalan antar personal, baik dalam ngaral dan ngidul dan basa-basi pribadi maupun dalam dialog intelektual.
InsyaAllah menjadi basis dan modalitas bagi Sumber Daya Manusia UMI masa depan dalam komitmen dan integritas PQ yang kokoh.
Disetiap waktu malam ketika beranjak tua, disepertiga malam, desah kerinduan pada sang Khalik, memecah hening dan kesuyian malam yang panjang: melalui shalat tahajjud dan shalat tasbih, zikir, shalawat dan tilawah alquran.
Bintang-bintang dan desir angin, gerimis dan bahkan hujan lebat, menjadi saksi atas Cinta yang dinyatakan itu.
Bahkan jika matahari, mulai menandakan kehadirannya di ufuk
fajar: nanyian Cinta Ilahi dan Cinta Rasululaah SAW itu makin utuh menggema. Seolah ingin
merobohkan dinding-dinding mesjid yang berdiri perkasa. Namun melunakkan hati bagi yang melantunkannya dalam kejujuran dan keihlasan.
Bahkan padang hijau yang berembun beningpun, tidak pernah memejam mata memandang, dan menjadi penyimak yang sangat setia dalam kegembiraan Perayaan Cinta Ilahi, ini.
Hutan-hutan
gelap di lereng dan puncak-puncak gunung, tiada letih melempar senyum manis dalam kesenangannya menjadi saksi atas senandung Cinta Abadi yang dilantunkan itu.
Alam semesta, baik pada waktu siang bersama siulan-siulan burung yang terbawa udara sejuk, maupun ketika malam pekat dengan cericit jangkrik, turut menyadi saksi 'Perjalanan Cinta Abadi' dibalik kerudung diam dan kebisuannya.
Demikianlah, Pencerahan Qalbu Pesantren Padang Lampe, telah memberi ‘banyak hal’ yang tidak bisa terbayarkan.
Menjadi ‘hutang budi’ yang harus dibayar
dalam ‘kejujuran merawat’ apa yang telah di-ole-ole-kan para guru yang tulus:
ustad dan Kiyai Padang Lampe.
Ketika usai tunai shalat dhuha, pada hari ke 7, hari 'terakhir' PQ. Peserta diminta berkempul untuk acara penutupan. Terdengar desas-desus ditengah sebagian jamaah, seolah bertanya: mengapa perjalanan ini demikian singkat, ingin rasanya lebih lama lagi.
Namun, hari ke 7 terakhir, adalah akhir 'sementara'. Dalam acara penutupan, ada testimoni-testimoni dari peserta, ada ucapan terimakasih dari penitia dan sambutan-sambutan dari unsur pimpinan Pesantren. Terakhir salam-salam dan jabat hati antar para guru dan para murid.Menjabat tangan dan memeluk tubuh para guru, menimbulkan haru di hati. Doa mengalir tanpa kata-kata: semoga beliau-beliau senantiasa diberi kesehatan dan kesejahteraan dan berkah kemuliaan yang sempurna limpahanya dari Allah SWT dan makin meruah cinta dari kekasihNya, Muhammad SAW.Pelukan ‘guru-murid’ pada hari penutupan, telah menyimpan dalam dekapnya: rindu. Yang
mungkin akan membawa kita kembali ke 'Lembah Cinta' Padang Lampe. Semata, hanya demi CintaNya, suatu ketika.























.jpeg)







.jpeg)

.jpeg)





.jpeg)







.jpeg)



.jpeg)




.jpeg)

