Minggu, 25 Januari 2026

DARUL MUKHLISIN PADANG LAMPE: LEMBAH CINTA DAN GEMA RINDU YANG MEMANTUL (Catatan Kenangan ‘PQ 1 UMI 2026’)

Seperti sebuah kelombang kecil yang berarak menuju samudera, rombongan peserta Pencerahan Qalbu (PQ) Universitas Muslim Indonesia (UMI) beranjak meninggalkan kampus, saat pagi mulai mendekati siang. 

Sejumlah 117 ( dosen dan karyawan) dari 13 fakultas akan mengukuti program ‘pendidikan spritual’ di pesantern Darul Muhklisin, Padang Lampe, Kabupaten Pangkep.

Mungkin, segera setelah matahari memperlihatkan wajahnya, bus-bus angkutan telah bersetia, menunggu para peserta di halaman universitas. 

Dan satu persatu peserta juga tiba, dengan segala pesiapan. Siap untuk meninggalkan hiruk pikuk metropolitan, menuju ke lembah sunyi padang lampe, Pesanten Darul Muhlisisn, Pusat pendidikan spritual milik Yayasan Badan Wakaf UMI.

Iringan bus yang membawa para ‘pejuang PQ 1’, perlahan melewati demarkasi kota metro Makassar. Seolah sebuah simbol: bahwa perjalanan ini, adalah perjalanan dari ‘yang ramai’ ke ‘yang sunyi’. 

Makin jauh dari gerbang perbatasan kota, ‘hutan beton kota besar’ makin hilang dari pandangan. Berganti  hamparan sawah berselimut rerumputan hijau dan jajaran gunung yang berdiri rapi, di kejauhan.

Arakan perjalanan menuju Padang Lampe, diselingi rehat kecil di sebuah Rest Area. Singgah sekedar, menikmati camilan roti khas masyarakat Maros, dan menyeruput kopi yang terhidang gratis. Ada yang membuang hajat kecil, dan mungkin juga ada yang mencuri kesempatan, menunaikan shalat duhanya.

Setelah melwati kota kabupaten Pangkep yang dibelah sungai panjang, dengan khas jembatan lengkung ala ‘kota-kota Eropa’ (yang nampaknya baru dibangun), rombongan bus membelok ke arah kanan. 

Sebuah belokan jalan menuju pabrik semen terbesar di Indonesia Timur, PT. Semen Tonasa (yang telah merger menjadi Semen Indonesia). Sebelum sempat melewati halaman kantor semen tonasa, rombongan bus berkelok ke arah kiri, menyusuri jalan yang agak menyempit.

Melawati sebuah pasar, beberapa bangunan mesjid dan sekolah, yang papan bicaranya menunjukkan: Jl, Poros Dusun Sambu, Desa Padang Lampe, Kecamatan Ma’rang.

Kurang lebih 2 setengah jam menempuh jalan, rombongan bus akhirnya tiba di lokasi Pesantren Darul Muhklisin. Pusat pendidikan 'spritual' ini, menempati sekitar 30 hektar lahan padang yang luas. Memiliki infrastruktur 'pelatihan spritual' cukup lengkap. 

Padang luas yang dipagari gunung-gunung batu kapur menjulang tinggi, disisi-sisi lembah.

Sebuah bangunan mesjid berukuran besar, dikitari kelas-kelas pembelajaran dan asrama, mini market, klinik kesehatan, wisma-wisma dan jalan-jalan penghubung yang mengitegrasikan ragam aktivitas di dalam kompleks, serta perkebunan untuk pendidikan dan wisata religi. 

Sebuah kompleks pelatihan dan pendidikan religius yang terencana matang, berada jauh 'terpencil' dari riuh kota besar, dan dilingkupi suasana asri perdesaaan yang damai.

Bus-bus memarkir diri di depan wisma dan mini market. Jejak kaki pertama peserta PQ 1 menandai hari pertama, di Padang Lampe. 

Bagi peserta yang pernah mengecap ‘pendidikan rohani’ disini ketika studi di Umi, mungkin tidak dihantui rasa ketidakpastian. Namun bagi yang merasakan sebagai pengalaman pertamakali, tentu masih meraba-raba dalam ‘kegelapan’.

Namun suasana hening lokasi pesantren, membawa damai hingga terlupa segala cemas yang mungkin masih bergelayut dalam benak. 

Sejuk terasa air lembah yang meresap dari dari gunung-gunung membasu wajah, ketika wuduh pertama di mesjid Baiturrahman, jelang shalat dhuhur. Berbondong-bondong pejalan kaki memenuhi ruangan mesjid yang luas. Warna putih menghampar bagi kupu-kupu yang merapat berkelebat berlomba berebut ‘madu spritual’.

Sebuah pemandangan yang selalu hadir setiap waktu pelaksanaan ibadah di mesjid, yang tidak pernah sepi jamaah tersebut.

Usai Shalat dhuhur berjamaah, ada pengumuman untuk peserta dosen dan karyawan, usai santap siang. Ada acara pembukaan Program PQ Angkatan I oleh pihak rektorat.

Usai pembukaan, selajutnya adalah perjalanan ‘pelatihan rohani’ selama 7 hari 7 malam. 

Dengan diselingi materi-materi, baik yang berkenaan dengan Visi dan Misi Institusi UMI, Karakter Insan Akademik Berbasis PQ dan Implementasinya, berkenaan Akidah dan Ahlak Islami, Syariat dan Fiqh, Pengobatan ala Nabi SAW, dan ‘yang terkhusus’ istimewa mengenai Hakikat metode pencerahan kalbu dan Asmaulhusna.

Sepanjang hari-hari itu, semua ibadah dari sholat, doa, tadarrus alquran, zikir dan shalawat dilaksanakan secara berjamaah, di dalam mesjid. 

Hingga terasa, semarak lahir dan batin dalam ibadah dalam hamparan pakian serbah putih jamaah peserta PQ, dari mahasiswa, dosen hingga karyawan. 

lantunan indah zikir dan shalawat yang menggema, memantul-mantul di dinding mesjid, membuat takzim hingga hati tertunduk syahduh di hadapan kebesaran dan keagunganNya.

Para guru, ustad dan kiyai Pesantren Darul Mukhlisin padang Lampe, begitu tulus rasanya memberikan bimbingan melalui kepemimpinan mereka dalam sholat, dalam zikir, shalawat, mengaji dan doa-doa. 

Hingga mungkin, makna-makna terdalam (hikmah) dibalik semua perkataan suci yang terucapkan dan terdengarkan, akan menyelusup lembut ke dalam kalbu. Hingga hikmah suci itu menetap disana sebagai ilmu abadi. 

Kita menyadari atapun tidak, 'jejak spritual' dari mereka, telah tertanam di dalam dada sebagai bibit, yang memerlukan perawatan.  

Hingga sering terdengar, ‘kelakar’ di dalam majelis: padang lampe ini merentang dalam dua padang abadi selanjutnya, yakni padang Arafa dan padang Mahsyar

Bahkan, dikatakan oleh narasumber lainnya: boleh jadi keberadaan kita disini menjadi ruang dan waktu kita yang terbaik selama hidup, karena sepenuhnya ruang-waktu itu digunakan hanya ibadah kepadaNya, non-stop, tanpa selingan urusan-urusan duniawi yang melenakan.

Termasuk dalam urusan makan, yang posri dan menunya telah ditentukan. Kita tidak mengkonsumsi seperti yang hazrat kita inginkan. Sebuah latihan pengendalian hasrat yang mungkin sangat ideal, jika dapat dipenuhi dengan komitmen penuh.

Yang barangkali sebelumnya, kita begitu mudah melayani hasrat kita. Begitu, ada pembatasan melalui ‘metode pelatihan’, sang hazrat mungkin tetap meronta-ronta untuk dipenuhi. 

Yang gagal mengendalikan, mungkin juga akan gagal menuju ‘kedisplinan spritual’, yang diperlukan dalam proses pencerahan qalbu. Sehingga, agaknya, memerlukan kesungguhan persiapan mental memasuki ‘pelatihan spritual’ ini.

Dalam banyak cerita-cerita, mengenai pelatihan spritual yang diadakan oleh halaqah-halaqah beragam tariqah: urusan makan termasuk hal paling urgen. Ada yang hanya 'membolehkan' mengkonsumsi bubur kacang merah dan segelas air putih, setiap hari sepanjang 40 hari 40 malam. 

Sebagaimana pengalaman, Syekh Nazim Adil Al-Qubrusi bersama Gurunya Syekh Abdullah Faiz Al-Dagetstani dari tariqah Naqsyabandi Al-Haqqani/Nazimiyah, ketika mereka proses pelatihan rohani dalam khalwat/suluk. 

Sang guru hanya meminum air putih dan muridnya mendapat jatah semangkuk sup hangat dan segelas air putih, setiap harinya selama proses khlawat. Mungkin ini untuk pelatihan rohani yang ‘sepesifik’.

Berkumpul di pesantren Darul Mukhlisin Padang Lampe, tidak hanya membawa ‘kesadaran cinta ilahiyah’ kepada sang Khalik melalui sholat, zikir dan doa-doa, dan kecintaan pada kekasihNya Muhammad SAW dalam nyanyian-nyanyian lembut nan merdu shalwat-shalawat. 

Tetapi juga, terjalinnya tali kasih sayang silaturahmi antar insan akademia UMI. Melalui intensitas pengenalan antar personal, baik dalam ngaral dan ngidul dan basa-basi pribadi maupun dalam dialog intelektual. 

InsyaAllah menjadi basis dan modalitas bagi Sumber Daya Manusia UMI masa depan dalam komitmen dan integritas PQ yang kokoh.

 
Padang Lampe, tanah yang subur. Menumbuhkan pohon buah-buahan yang beragam. Membawa berkah rasa manis bagi yang mencicipinya.  Gunung-gunung yang selalu setia menemaninya, juga memendam bahan tambang untuk mensejahterakan manusia. 

Sisi yang berbeda, pesantren Darul Mukhlisin membawah kesejahteraan bagi rohani manusia. 

Disetiap waktu malam ketika beranjak tua, disepertiga malam, desah kerinduan pada sang Khalik, memecah hening dan kesuyian malam yang panjang: melalui shalat tahajjud dan shalat tasbih, zikir, shalawat dan tilawah alquran. 

Bintang-bintang dan desir angin, gerimis dan bahkan hujan lebat, menjadi saksi atas Cinta yang dinyatakan itu.

Bahkan jika matahari, mulai menandakan kehadirannya di ufuk fajar: nanyian Cinta Ilahi dan Cinta Rasululaah SAW itu makin utuh menggema. Seolah ingin merobohkan dinding-dinding mesjid yang berdiri perkasa. Namun melunakkan hati bagi yang melantunkannya dalam kejujuran dan keihlasan. 

Bahkan padang hijau yang berembun beningpun, tidak pernah memejam mata memandang, dan menjadi penyimak yang sangat setia dalam kegembiraan Perayaan Cinta Ilahi, ini. 

Hutan-hutan gelap di lereng dan puncak-puncak gunung, tiada letih melempar senyum manis dalam kesenangannya menjadi saksi atas senandung Cinta Abadi yang dilantunkan itu.

Alam semesta, baik pada waktu siang bersama siulan-siulan burung yang terbawa udara sejuk, maupun ketika malam pekat dengan cericit jangkrik, turut menyadi saksi 'Perjalanan Cinta Abadi' dibalik kerudung diam dan kebisuannya. 

Demikianlah, Pencerahan Qalbu Pesantren Padang Lampe, telah memberi ‘banyak hal’ yang tidak bisa terbayarkan. 

Menjadi ‘hutang budi’ yang harus dibayar dalam ‘kejujuran merawat’ apa yang telah di-ole-ole-kan para guru yang tulus: ustad dan Kiyai Padang Lampe.

Ketika usai tunai shalat dhuha, pada hari ke 7, hari 'terakhir' PQ. Peserta diminta berkempul untuk acara penutupan. Terdengar desas-desus ditengah sebagian jamaah, seolah bertanya: mengapa perjalanan ini demikian singkat, ingin rasanya lebih lama lagi

Namun, hari ke 7 terakhir, adalah akhir 'sementara'. Dalam acara penutupan, ada testimoni-testimoni dari peserta, ada ucapan terimakasih dari penitia dan sambutan-sambutan dari unsur pimpinan Pesantren. Terakhir salam-salam dan jabat hati antar para guru dan para murid.

Menjabat tangan dan memeluk tubuh para guru, menimbulkan haru di hati. Doa mengalir  tanpa kata-kata: semoga beliau-beliau senantiasa diberi kesehatan dan kesejahteraan dan berkah kemuliaan yang sempurna limpahanya dari Allah SWT dan makin meruah cinta dari kekasihNya, Muhammad SAW.

Pelukan ‘guru-murid’ pada hari penutupan, telah menyimpan dalam dekapnya: rindu. Yang mungkin akan membawa kita kembali ke 'Lembah Cinta' Padang Lampe. Semata, hanya demi CintaNya, suatu ketika.


 

 

 

 

 

 

 

   

   

 







Rabu, 14 Januari 2026

FILSAFAT SENI*

*Disampaikan dalam 'PENGUATAN MATERI' Pra-program 'Uji Kelulusan' Keangggota Sanggar Seni Dipanegara (Sangdipa) Angkatan 24, di Universitas Dipa Makassar, Januari 2026.

Filsafat seni merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas hakikat seni, keindahan, serta pengalaman estetis manusia. Seni tidak hanya dipahami sebagai aktivitas kreatif semata, melainkan sebagai ekspresi reflektif yang mengandung nilai filosofis, kultural, dan bahkan spiritual. Dalam konteks kehidupan manusia, seni hadir sebagai media komunikasi gagasan, perasaan, serta pandangan hidup suatu masyarakat. Oleh karena itu, filsafat seni berupaya menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu seni, bagaimana seni bermakna, dan apa peran seni dalam kehidupan manusia.

Seiring perkembangan zaman, konsep seni mengalami pergeseran makna. Seni tidak lagi terbatas pada karya-karya klasik yang mengutamakan keindahan, tetapi juga mencakup karya-karya kontemporer yang menantang norma, nilai, dan struktur sosial. Filsafat seni menjadi kerangka teoritis penting untuk memahami dinamika tersebut secara kritis dan mendalam.

Hakikat Filsafat Seni

Secara umum, filsafat seni membahas hakikat seni (ontology of art), pengetahuan dan pengalaman estetis (epistemology of art), serta nilai-nilai yang terkandung dalam karya seni (axiology of art). Pertanyaan ontologis menyoroti apa yang membedakan seni dari objek biasa, sementara aspek epistemologis membahas bagaimana manusia memahami dan menilai karya seni. Adapun dimensi aksiologis menempatkan seni dalam kaitannya dengan nilai keindahan, moral, sosial, dan budaya.

Filsafat seni juga mengkaji hubungan antara seniman, karya seni, dan penikmat seni. Dalam konteks ini, makna karya seni tidak selalu bersifat tunggal, melainkan terbuka terhadap berbagai interpretasi sesuai latar belakang sosial dan kultural penikmatnya. Dengan demikian, seni dipahami sebagai proses dialogis antara pencipta, karya, dan masyarakat.

Filosof tentang Seni

Sejarah filsafat seni tidak dapat dilepaskan dari pemikiran para filsuf klasik hingga modern. Plato memandang seni sebagai tiruan realitas (mimesis) yang berada dua tingkat dari kebenaran sejati. Pandangan ini membuat seni dianggap berpotensi menyesatkan karena lebih menekankan pada penampakan daripada kebenaran ide. Berbeda dengan Plato, Aristoteles memberikan penilaian lebih positif dengan menyatakan bahwa seni memiliki fungsi katarsis, yakni pembersihan emosi yang bermanfaat bagi perkembangan psikologis dan moral manusia.

Pada era modern, Immanuel Kant mengemukakan bahwa penilaian estetis bersifat subjektif tetapi memiliki klaim universal. Keindahan, menurut Kant, dinikmati tanpa kepentingan praktis dan tidak bergantung pada manfaat tertentu. Sementara itu, Leo Tolstoy memandang seni sebagai sarana komunikasi emosi yang tulus antara seniman dan masyarakat. John Dewey kemudian menekankan bahwa seni merupakan bagian integral dari pengalaman hidup manusia dan tidak terpisah dari konteks sosialnya.

Beberapa Aliran

Perkembangan pemikiran filsafat seni melahirkan berbagai aliran. Formalisme menekankan unsur bentuk dan struktur karya seni sebagai aspek utama penilaian estetis. Ekspresionisme melihat seni sebagai ungkapan emosi dan pengalaman batin seniman. Realisme menempatkan seni sebagai representasi realitas sosial, sedangkan simbolisme memandang seni sebagai sistem tanda yang sarat makna. Dalam konteks postmodernisme, seni dipahami secara plural dan terbuka, tanpa batasan definisi tunggal, serta sering kali bersifat kritis terhadap narasi besar dan otoritas nilai.

Seni dan Nilai

Dalam filsafat seni terdapat perdebatan mengenai hubungan seni dengan nilai moral dan sosial. Sebagian pandangan menekankan kebebasan seni dari kepentingan moral (art for art’s sake), sementara pandangan lain melihat seni sebagai media kritik sosial dan transformasi nilai. Dalam masyarakat tertentu, seni memiliki fungsi edukatif, religius, dan ideologis yang kuat.

Dalam konteks Indonesia, seni tidak dapat dipisahkan dari tradisi, kearifan lokal, dan spiritualitas. Seni tradisional Nusantara sering kali mengandung nilai kosmologis dan etis yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga sebagai sarana pelestarian identitas budaya dan nilai sosial.

Penutup

Filsafat seni memberikan landasan konseptual untuk memahami seni sebagai fenomena manusia yang kompleks dan multidimensional. Seni tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga makna, nilai, dan refleksi atas realitas kehidupan. Melalui kajian filsafat seni, manusia diajak untuk mengapresiasi karya seni secara kritis, memahami konteks penciptaannya, serta menempatkan seni sebagai bagian integral dari kehidupan sosial, budaya, dan spiritual. Dengan demikian, filsafat seni berperan penting dalam membentuk kesadaran estetis dan kemanusiaan yang lebih mendalam.


Sabtu, 20 September 2025

KAJANG : EKSPEDISI SELAYANG PANDANG TANATOA

Seperti sebuah mimpi yang tiba-tiba muncul dari balik selimut tidur. Ajakan mengunjungi kampung Ammatoa di Kajang, membuat memori tentang wilayah adat penuh 'cerita' mistis, sejarah kehidupan manusia, hukum adat, ritual, seni, dan keindahan hutan, menyeruak seketika. 

Puluhan tahun, hal yang hanya diketahui melalui kabar-kabar orang kebanyakan. Tanpa pernah secara langsung masuk ke Tanatoa, Kampung Adat Ammatoa. 

Maka, tanpa pikir panjang, tawaran wisata tradisi diterima. 

Beranjak dari 'rumah gunung', sebutan akrab yang disematkan kepada rumah tempat tinggal orang tua yang ada di Pabbentengan. Lokasinya, kira-kira sekitar satu jam perjalanan menuju hutan adat Tanatoa Kajang, melingkar ke arah timur. Kabupaten Bulukumba. Dimana, saudara yang berkunjung dari negeri seberang laut, datang menghabiskan waktu libur kantor sekaligus 'libur' sekolahan (dampak demontrasi anarkis, 25 Agustus 2025). Kami bersua dalam ramah tamah, bersama orang tua, saudara-saudari, kemanakan dan sanak famili. 

Mobil melaju bersama angin kecil yang berlari-lari lemah. Awan kelabu menggelantung di langit Butta Panrita Lopi, saat perjalanan dimulai. Dan, ketika matahari sendu sedang ingin naik di tenga langit. Musim kemarau basah kata lembaga prakiraan cuaca. Canda riang membuat susana perjalanan ke Tanatoa Kajang, makin meriah. Meski ada rasa khawatir, hujan mungkin akan turun. 

Konstruk jalan dearah pegunungan yang mendaki, kadang berkelok-kelok dan kadang jalur melurus. Dari balik kaca, nampak persawahan sedang menghijua dan di kejauhan Gunung Lompo Battang, kelihatannya sedang baring rebahan. 

Ketika mulai berbelok menuju timur, sebelum pasar besar Tanete, hutan-hutan karet seperti sedang menunggu setia disisi kiri dan kanan jalanan. Jutaan pohon karet bagai barisan penyabut tamu yang berpakaian seragam baju adat klasik berwarna hijau lumut kering. Berbaris rapi, tinggi pohon yang sama dan rimbunan dedaun yang nampak serupa semua. 

Melintasi hutan-hutan karet, kami seolah sedang mintasi sejarah kapitalisme kolonial ere sebelum kemerdekaan. Kantor-kantor administrasi perkebunan karet milik PT. London-sumatera, dan pos-pos penjaga ditengah-tengah hutan karet, dan barak-barak perumahan karyawan, dikitaran hutan yang sunyi, seperti sedang membisikkan cerita lanjutan jejak kapitalisme eropa di Tana Kajang, bumi ma' kumba bulu'. 

Perjalanan kami, makin jauh ke arah timur, mungkin makin mendekati pesisir pantai dan pelabuhan tua Tanah Kajang. Tetapi arah jalan menuju Tanatoa tempat yang kini menjadi Hutan 'purba' yang dilindungi, makin menyusup ke dalam ke arah perbukitan yang makin tersembunyi oleh pohon-pohon perkebunan penduduk. Jalanan makin penyempit dan banyak pecabangan, sepertinya kami sedang berada di wilayah yang dapat diakses dari berbagai arah mata angin. 

Setelah melewati beberapa persimpangan, yang 'membingungkan', oleh penduduk setempat, kami ditunjukan arah tertentu, hingga nampaklah didepan mata sebuah gerbang bertulis 'Anda Memasuki Wilayah Adat Ammatoa'.

Awan hitam yang menghantar kami sejak awal perjalanan, kelihatan makin menebal. Percik gerimis sesekali menghempaskan buliran kecilnya di kaca mobil. Hembusan udara serasa agak sejuk, seolah hawa hutan 'purba Ammatoa', sedang menyambut kedatangan kami. Ada rasa ritmis menggelayut, ketika memasuki kawasan 'mitos-sakral' ini. Seseorang diantara kami, tak lupa mengucapkan 'salam keselamatan'. 

Cerita masa lalu tetang Tanatoa Kajang yang penuh mistis, kemampuan ilmu-ilmu tradisional orang-orang Kajang, dikenal bukan hanya di Sulawesi, tetapi juga di penjuru nusantara. Membuat kami penuh 'kewaspadaan' spritual. Ekspetasi kami, kajang sekarang, seperti yang kami sering dengar tentang keberadaannya di masa lalu, penuh 'misteri' dalam tradisi asli. 

Mobil menepi dan memasuki semacam area parkir. Desainnya rapi menggunakan papin-blok beton semen. Ada empat bangunan tradisional, yang memiliki fungsi berbeda. Dua bangunan seperti diperuntukkan untuk rehat tamu yang berkunjung. Dua bangunan lain, tempat pajangan suvenir khas masyarakat Kajang dan satu bangunan untuk sumber informasi tentang kawasan Adat Ammatoa. 

Tempat ini, sepertinya ujung depan kawasan adat. Sebuah jalanan berbatu sungai, tertata rapi, menjulur masuk ke dalam kawasan adat. Mungkin, akses keluar masuk bagi masyarakat kawasan jika ada berbagai keperluan, yang berhubungan dengan luar kawasan. 

Semua pendatang wajib mengenakan pakaian berwarna hitam. Ada penyewaan sarung hitam disediakan. 

Kawasan ini, selayang pandang nampak tertata rapi, memberi kesan adanya pengelolaan secara terorganisir terhadap kawasan Masyarakat Adat di Tanatoa Kajang, oleh masyarakat, sebagai kawasan wisata. 


Oleh seorang 'pemandu', kami diberi tahu, batasan untuk penggunaan alat komunikasi dan alat rekam gambar dan video. Terdapat pagar batu tidak jauh dari lokasi 'depan', menjadi wilayah larangan pengambilan gambar. 

Seperti sebuah insyarat: masih adanya kepercayaan lama mengenai 'pamali' berlaku tidak 'sopan' pada wilayah yang di 'sakralkan'. Sebagai tamu, kami harus menghargai 'adat' tersebut, meskipun terselip ketidakmengertian dalam pikiran. 

Dengan kaki-kaki telanjang, kami menyurusi jalananan berbatu. Berjalan menunduk mengamati setiap pijakan yang berbatu-batu, jangan sampai tersandung batu, sesekali menikmati hutan-gutan kebun di sekitar. Matahari di kawasan malah sedikit terik. Tetapi jalanan tetap teduh terlindung rindang  pepohonan yang besar-besar tinggi menjulang.


Sebuah bangunan rumah khas Kajang nampak dikelilingi pagar batu yang, sekali lagi sangat rapi. Seperti bangunan 'percontohan' rumah adat kajang, yang dikonstruksi khusus, untuk digunakan oleh pengunjung yang datang. 

Mungkin juga dapat difungsikan sebagai media pembelajaran arsitektur tradisional khas rumah masyarakat adat Tanatoa Kajang.

Berjalan beberapa meter dari rumah 'percontohan' itu, jalanan agak menurun. Ada anak sungai kecil yang memintas. Sebuah konstruksi jembatan kayu yang nampak baru saja dibuat, menjadi pengubung menyeberangi si anak sungai. 

Pada sisi kanan jembatan, sebuah area permandian, dengan pancuran air yang terbuat dari bambu melintang. Disampingnya sebuah sumur, juga menjadi tempat khusus bagi masyarakat kawasan adat untuk memenuhi kebutuhan air untuk segala keperluan rumah tangga, dan mungkin juga untuk ternak dan kebun. Beberapa warga adat nampak sedang beraktivitas mandi dan mencuci disana. 

Saya merasa sayang ini bukan ekpedisi ilmiah. Dimana setiap 'hal' dapat diteliti dan diperoleh informasi tentangnya. Apakah sumur itu juga sumur yang usianya setua Tanatoa, sehingga bersifat 'purba', dan apakah ada cerita mitologis dari keberadaan sumur tersebut bagi manusia kawasan Adat Tanatoa? 

Tidak ada Jawaban. Ekpedisi ini hanya kunjungan untuk melihat-lihat, mengenai rasa penasaran tentang tanah Ammatoa Kajang. Sekedarnya datang melintas pandang, dalam kawasan yang merupakan kawasan hutan adat, dengan sejarah panjang kehidupan mengenai mitos 'asal muasal dunia dan asal mula manusia'. 


Mataku mencoba mencari yang mungkin dapat disebut situs-situs mitologis dalam kawasan, baik berupa tempat 'pemujaan untuk ibadah', atau petilasan kuno nenek moyang manusia Tanatoa, atau hal serupa itu lainnya. Pandang tidak menemukan yang dicarinya. 

Yang berkesan, ternyata kami dapat dengan mudah bertemu dengan penguasa utama Tanatoa, yakni sang Ammatoa. Sosok yang tak pernah terbayang rupanya dan hanya mengenalnya lewat cerita-cerita 'kekeramatan' figurnya. 

Ketika sedang, mengamati rumah adat yang berjejer rapi, sesorang berpakaian adat, bercelana putih sampai lutut, dengan kain hitam di selempang, berikat kepala warna hitam khas adat Kajang, keluar dari sebuah rumah seserhana dan berjalan berpapasan. Beliau menyapa dengan bahasa Konjo, yang kurang lebih maksudnya: Mau bertemu dengan Ammatoa? 

Beliau menunjukkan rumah Ammatoa, yang baru saja ia tinggalkan. Setelah berunding sesaat, dengan tanpa ada perasaan apapun, langsung saja kami menuju ke rumah yang ditunjukkan itu. 

Sebelum menaiki anak tangga pertama, terdapat sebua gentong air untuk cuci kaki. Suatu yang membawa ingatanku ke hal serupa di era ketika kakek buyut masih hidup. Didekat tangga rumah-rumah panggung mereka, selalu tersedia guci besar tempat menampung air, untuk dipaki membasu kaki jika hendak naik ke rumah. Di kawasan ini, pemandangan ini masih ditemukan. 

Dengan sedikit bumbu teori, bahwa kebudayaan itu adalah simbol-simbol. Maka sesungguhnya dalam simbolitas tradisi: rumah adalah tempat suci, memasukinya juga harus dengan raga yang suci. Bandingkan dengan masyarakat modern, yang bebas menggunakan sepatu dan sendal masuk ke dalam rumah. Rumah tidak lagi diberi harga sebagai 'ruang suci untuk beribadah'. 

Bagi masyarakat Tradisi, ruang selalu diberi makna sakral. Bagi manusia modern, ruang hanya bermakna profan saja. 

Satu persatu anak tangga kami pijak. Saya tidak menghitung jumlahnya, hingga sampai di anak tangga puncak. Kaki melangkah melewati batas pintu dan tangga. 

Di dalam rumah, sebarisan orang sedang duduk, dengan gaya bersila, agak merapat dibagian dinding rumah, sehingga bagian tengah nampak kosong. Bagian tengah mungkin sengaja di kosongkan untuk ditempati mereka yang berkunjung ke dalam rumah. 

Kami mengucapkan Assalamu'alaikum wr wb, dijawab dengan Walaikumsalam oleh orang dalam rumah hampir serentak. 

Kami dipersilahkan duduk. Sebagai tamu, kami menempati ruang tengah yang dikosongkan itu. Para tuan rumah duduk membentuk segitiga. Sementara kami persis di bagian tengah sudut bentuk segitiga mereka para tuan rumah. 

Tidak ada kursi, ruangan kosong tanpa perabotan apapun, kecuali tempat penyimpanan kebutuhan pokok, dibagian atas sudut dan sisi atas rumah, dekat atap. Ada gelantungan dan tempat seperti 'rak' penyimpanan. 

Lantai rumah panggung sederhana itu, terbuat dari belahan-belahan bambu yang halus. Bagian yang ditempati para tuan rumah diberi alas tikar daun pandan, sebagian ada dari anyaman rotan yang sangat halus.

Sesaat dari kedatangan kami, nampaknya tuan rumah (Ammatoa) dan para jajaran pembantunya (Puto), baru saja menyelesaikan perjamuan makan siang. Masih tersisa piring dan gelas-gelas yang belum dirapikan, bahkan masih ada yang lain nampak buru-buru menyelesaikan suapan terakhirnya. 

Figur yang duduk pas di sudut ruang, adalah tokoh utama masyarakat adat Kajang, Ammatoa. Pakaian khas hitam dan penutup kepala juga warna hitam. Beberapa peralatan dan gelas minum serta cemilan kacang goreng nampak di sebuah toples kaca. Terletak disamping dan dihadapan beliau. 

Sang Amma menanyakan asal daerah kami, dan menanyakan maksud kedatangan. Kami memang hanya berkunjung untuk 'rekreasi', sekaligus secara spekulatif saya menyampaikan maksud juga ingin mengetahui sejarah Tanatoa dan prinsip hidupnya dalam Pasang ri Kajang

Seorang Puto yang duduk disamping kanan Ammatoa, mempersilahkan kami merapat lebih dekat ke Amma dalam perbincangan.  Dan bincang-bincang dengan tokoh sentral yang telah mengundang penasaran bertahun-tahun itu, akhirnya berlangsung jua. Tentu dalam bahasanya saja, yakni bahasa Konjo. Walau saya menggunakan bahasa makassar, karena kurang lincah memakai bahasa Konjo, namun pembicaraan kami bersambung karena, dua bahasa itu seperti saudara kembar siam. 

Inti pembicaraan Ammatoa adalah penjelasan tentang asal usul manusia yang bermula di Tanatoa; seluruh raja di Nusantara juga bagian dari asal usul mereka dari Tanatoa; pasang ri kajang teridiri dari 8 hukum (pasal), namun hanya sebagian saja yang masih berlaku dalam kawasan adat, karena ada hukum negara; pasang berlaku untuk semua manusia di dalam dan diluar kawasan; Ammatoa sekarang adalah pimpinan yang ke 21 (atau 22?); tugas utama Ammatoa adalah menjalankan hukum adat dan mendoakan semua manusia; dan seorang Amma harus 'lebih miskin' dari masyarakatnya.

Ammatoa berbicara dengan penjelasan sederhana dan berulang-ulang. Beliau suka menyelingi pembicaraannya dengan tawa riang, sesekali juga dengan ketegasan yang nampak dari raut wajah dan posisi duduknya. Kelihatannya beliau orang yang rileks dan ramah. Tidak terasa ada kalimat yang ditekankan dengan tendensi tertentu. Beliau memiliki kelembutan yang khas, sebagai penghulu masyarakat Adat di Tanatoa Kajang.  

Keberuntungan lain dari kunjungan ke Ammatoa yang tak terduga ini, adalah: Ammatoa hadir lengkap dengan segenap 'menteri-menterinya' di hadapan kami. Karena ada kabar dari seorang putonya, bahwa ada tamu penting dari Gowa, seorang Sombayya ri Gowa. 

Setelah usai hajat kami bersama Sang Amma. Dipersilahkanlah salah seorang Sombayya ri Gowa bersama Permaisurinya itu, untuk mendekat dan menghadap Ammatoa. Kehadiran mereka dihantar langsung oleh karaeng Kajang (salah seorang puto, yang diberi gelar karaeng). 

Bersama tamu kerajaaan itu, hadir juga salah seorang dari turunan kerajaan di Jawa Timur. Rombongan mereka datang secara khusus untuk meminta restu dan doa dari Ammatoa, agar hajat-hajat besar mereka di masa depan dapat terwujud. 

Setelah beberapa lama perbincangan mereka dan ritual restu dan doa-doa dari Ammatoa telah usai, mereka pun Pamit. Kami juga menyertai untuk pamit undur diri dari rumah Ammatoa.  Tamu kerajaan masih harus menyelesaiakan satu ritual mandi di sumur tua. Sumur yang terletak didekat anak sungai yang kami lintasi dalam perjalan kedatangan tadi.

Menuruni tangga rumah panggung sederhana Ammatoa, saya dihinggapi renung tak berkesudahan:

Sudah 'ribuan' tahun mungkin sejarah perjalanan Tanatoa Kajang. Di abad 22 kini, kami masih sempat bertemu generasi akhir dari rangkaian silsilah panjang kepemimpinan Ammatoa di Tanatoa Kajang ini, sejak abad pertama keberadaan dimasa silam, yang entah. 

Di abad ini, isi pasang tidak lagi bisa sempurna dilaksanakan, karena besarnya arus perubahan  masyarakat modern. Banyak tanda-tanda risau terbaca, yang memberi isyarat bahwa mungkin jejak nilai-nilai pasang dan masyarakat adat dengan sistem hidupnya, akan menjadi 'kenangan' menjelma program-program wisata kebudayaan. 

Benteng terakhir ada dalam jiwa dan raga Ammatoa yang memimpin komunitas kamase-masea ini, Sang pemegang amanah kedaulatan dari Yang Maha Berkehendak (tu rea a'ra'na), Tuhan Penguasa Alam. 

* * *

Matahari sudah melewati tengah-tengah langit, mulai agak condong ke Barat. Kami menelusuri kembali jalan bebatuan, meninggalkan tanah sunyi Ammatoa. Meninggalkan suara-suara burung dan gemericik air sungai kecilnya bersama desir angin sepoi yang menerpa dedaunan bambu yang memecah sunyi dengan gereseknya. Kami pulang ke rumah gunung. 

Menikmati malam dirumah, juga dengan suasana dingin malam, bersama secangkir kopi Borong yang hangat. Ngobrol dalam keriuhan kunjungan ke rumah sang penguasa kawasan adat yang dihormati. 

Masih tersisa jejak tradisi dari kampung Kajang, selapis bundaran kue uhu-uhu khas sedekah oleh-oleh dari masyarakat Tanatoa, menemani seruputan kopi malam yang hampir larut. Untuk memulai perjalan pulang keesokan hari menuju kota Daeng.  

Kembali ke Makassar melalui jalur tidak biasa: melingkar dari arah Kabupaten Sinjai Barat, terus ke arah Timur disisi-sisi punggung Gunung Lompobattang. Melewati batas wilayah Sinjai bagian tengah dengan lajur jalan kecil dan meliuk-liuk di tebing-tebing jerjal pegunungan. Kadang-kadang menimbulkan rasa cemas, menyisir sisi-sisi gunung yang curam. 

Sepanjang jalan nampak banyak pemandangan alam pegunungan, persawahan, sungai-sungai, kebun-kebun sayur penduduk dan taman-taman bunga pekarangan rumah, membuat perjalanan, meski sedikit diselingi rasa was-was, namun tertutupi oleh indahnya suasana pegunungan. 

Jelang memasuki perbatasan kabupaten Gowa, kabut tebal dan desir angin yang membawa air hujan, muncul mendadak di puncak-puncak pegunungan, membuat laju kendaraan dalam kewaspadaan tinggi. Pemandangan yang terhalang kabut tebal, jalanan yang licin karena hujan, dan makin ramainya kendaraan berpapasan. 

Makin terasa bagai sebuah ekspedisi betulan, dari kunjungan bersejarah di tanah yang konon asal muasal penciptaan bumi ini, Tanatoa Kajang. 

Membawa kenangan akan sebuah kehidupan tradisi yang masih bertahan di balik sunyi hutan perawan di tengah hiruk-pikuk peradaban dunia modern yang makin gegap gempita. 

Apakah peradaban Tradisi akan hilang ditelan dan dimusnahkan zaman, atau cahaya kecilnya justru akan berbalik memberi cahaya baru bagi arah zaman yang sedang menuju pada kegelapan spritual?

Tidak ada orang modern yang mau mendekam sendirian dalam hutan belantara, dan mendoakan seluruh manusia, sebagaimana Ammatoa (Manusia Tradisi), dan berusaha merawat kehidupan melalui hubungan harmonis dengan alam, manusia dan  Yang Maha Memiliki Berkehendak. 

Manusia modern justru sibuk dengan pengetahuan, untuk membuat cara-cara baru dan tehnologi canggih untuk merenggut keperawanan alam, demi kesejahteraan dunia semata. Tetapi menimbulkan kerusakan alam yang tidak mungkin lagi dapat diperbaiki dan tentu mengorbankan kehidupan, melalui ragam bencana alam dan sosial, yang menimpa manusia. 

Apakah justru, manusia akan merindukan kembali Tradisi, yang telah mereka korbankan melalui pembangunan? 

Beberapa ekor monyet liar di hutan Ammatoa, yang kami dapati saat perjalanan pulang, juga tidak bisa menjawab. Mereka hanya bergelantungan berlompatan riang gembira menikmati rumah kehidupannya yang masih asri dan lestari, di Tanatoa. 

Mahluk itu berbahagia karena praktik pengetahuan suci dari kosmologi tradisional Ammatoa, bahwa alam adalah ibu kehidupan yang memberikan kasih sayang. Ia adalah cermin sifat ilahi.