Sabtu, 20 September 2025

KAJANG : EKSPEDISI SELAYANG PANDANG TANATOA

Seperti sebuah mimpi yang tiba-tiba muncul dari balik selimut tidur. Ajakan mengunjungi kampung Ammatoa di Kajang, membuat memori tentang wilayah adat penuh 'cerita' mistis, sejarah kehidupan manusia, hukum adat, ritual, seni, dan keindahan hutan, menyeruak seketika. 

Puluhan tahun, hal yang hanya diketahui melalui kabar-kabar orang kebanyakan. Tanpa pernah secara langsung masuk ke Tanatoa, Kampung Adat Ammatoa. 

Maka, tanpa pikir panjang, tawaran wisata tradisi diterima. 

Beranjak dari 'rumah gunung', sebutan akrab yang disematkan kepada rumah tempat tinggal orang tua yang ada di Pabbentengan. Lokasinya, kira-kira sekitar satu jam perjalanan menuju hutan adat Tanatoa Kajang, melingkar ke arah timur. Kabupaten Bulukumba. Dimana, saudara yang berkunjung dari negeri seberang laut, datang menghabiskan waktu libur kantor sekaligus 'libur' sekolahan (dampak demontrasi anarkis, 25 Agustus 2025). Kami bersua dalam ramah tamah, bersama orang tua, saudara-saudari, kemanakan dan sanak famili. 

Mobil melaju bersama angin kecil yang berlari-lari lemah. Awan kelabu menggelantung di langit Butta Panrita Lopi, saat perjalanan dimulai. Dan, ketika matahari sendu sedang ingin naik di tenga langit. Musim kemarau basah kata lembaga prakiraan cuaca. Canda riang membuat susana perjalanan ke Tanatoa Kajang, makin meriah. Meski ada rasa khawatir, hujan mungkin akan turun. 

Konstruk jalan dearah pegunungan yang mendaki, kadang berkelok-kelok dan kadang jalur melurus. Dari balik kaca, nampak persawahan sedang menghijua dan di kejauhan Gunung Lompo Battang, kelihatannya sedang baring rebahan. 

Ketika mulai berbelok menuju timur, sebelum pasar besar Tanete, hutan-hutan karet seperti sedang menunggu setia disisi kiri dan kanan jalanan. Jutaan pohon karet bagai barisan penyabut tamu yang berpakaian seragam baju adat klasik berwarna hijau lumut kering. Berbaris rapi, tinggi pohon yang sama dan rimbunan dedaun yang nampak serupa semua. 

Melintasi hutan-hutan karet, kami seolah sedang mintasi sejarah kapitalisme kolonial ere sebelum kemerdekaan. Kantor-kantor administrasi perkebunan karet milik PT. London-sumatera, dan pos-pos penjaga ditengah-tengah hutan karet, dan barak-barak perumahan karyawan, dikitaran hutan yang sunyi, seperti sedang membisikkan cerita lanjutan jejak kapitalisme eropa di Tana Kajang, bumi ma' kumba bulu'. 

Perjalanan kami, makin jauh ke arah timur, mungkin makin mendekati pesisir pantai dan pelabuhan tua Tanah Kajang. Tetapi arah jalan menuju Tanatoa tempat yang kini menjadi Hutan 'purba' yang dilindungi, makin menyusup ke dalam ke arah perbukitan yang makin tersembunyi oleh pohon-pohon perkebunan penduduk. Jalanan makin penyempit dan banyak pecabangan, sepertinya kami sedang berada di wilayah yang dapat diakses dari berbagai arah mata angin. 

Setelah melewati beberapa persimpangan, yang 'membingungkan', oleh penduduk setempat, kami ditunjukan arah tertentu, hingga nampaklah didepan mata sebuah gerbang bertulis 'Anda Memasuki Wilayah Adat Ammatoa'.

Awan hitam yang menghantar kami sejak awal perjalanan, kelihatan makin menebal. Percik gerimis sesekali menghempaskan buliran kecilnya di kaca mobil. Hembusan udara serasa agak sejuk, seolah hawa hutan 'purba Ammatoa', sedang menyambut kedatangan kami. Ada rasa ritmis menggelayut, ketika memasuki kawasan 'mitos-sakral' ini. Seseorang diantara kami, tak lupa mengucapkan 'salam keselamatan'. 

Cerita masa lalu tetang Tanatoa Kajang yang penuh mistis, kemampuan ilmu-ilmu tradisional orang-orang Kajang, dikenal bukan hanya di Sulawesi, tetapi juga di penjuru nusantara. Membuat kami penuh 'kewaspadaan' spritual. Ekspetasi kami, kajang sekarang, seperti yang kami sering dengar tentang keberadaannya di masa lalu, penuh 'misteri' dalam tradisi asli. 

Mobil menepi dan memasuki semacam area parkir. Desainnya rapi menggunakan papin-blok beton semen. Ada empat bangunan tradisional, yang memiliki fungsi berbeda. Dua bangunan seperti diperuntukkan untuk rehat tamu yang berkunjung. Dua bangunan lain, tempat pajangan suvenir khas masyarakat Kajang dan satu bangunan untuk sumber informasi tentang kawasan Adat Ammatoa. 

Tempat ini, sepertinya ujung depan kawasan adat. Sebuah jalanan berbatu sungai, tertata rapi, menjulur masuk ke dalam kawasan adat. Mungkin, akses keluar masuk bagi masyarakat kawasan jika ada berbagai keperluan, yang berhubungan dengan luar kawasan. 

Semua pendatang wajib mengenakan pakaian berwarna hitam. Ada penyewaan sarung hitam disediakan. 

Kawasan ini, selayang pandang nampak tertata rapi, memberi kesan adanya pengelolaan secara terorganisir terhadap kawasan Masyarakat Adat di Tanatoa Kajang, oleh masyarakat, sebagai kawasan wisata. 


Oleh seorang 'pemandu', kami diberi tahu, batasan untuk penggunaan alat komunikasi dan alat rekam gambar dan video. Terdapat pagar batu tidak jauh dari lokasi 'depan', menjadi wilayah larangan pengambilan gambar. 

Seperti sebuah insyarat: masih adanya kepercayaan lama mengenai 'pamali' berlaku tidak 'sopan' pada wilayah yang di 'sakralkan'. Sebagai tamu, kami harus menghargai 'adat' tersebut, meskipun terselip ketidakmengertian dalam pikiran. 

Dengan kaki-kaki telanjang, kami menyurusi jalananan berbatu. Berjalan menunduk mengamati setiap pijakan yang berbatu-batu, jangan sampai tersandung batu, sesekali menikmati hutan-gutan kebun di sekitar. Matahari di kawasan malah sedikit terik. Tetapi jalanan tetap teduh terlindung rindang  pepohonan yang besar-besar tinggi menjulang.


Sebuah bangunan rumah khas Kajang nampak dikelilingi pagar batu yang, sekali lagi sangat rapi. Seperti bangunan 'percontohan' rumah adat kajang, yang dikonstruksi khusus, untuk digunakan oleh pengunjung yang datang. 

Mungkin juga dapat difungsikan sebagai media pembelajaran arsitektur tradisional khas rumah masyarakat adat Tanatoa Kajang.

Berjalan beberapa meter dari rumah 'percontohan' itu, jalanan agak menurun. Ada anak sungai kecil yang memintas. Sebuah konstruksi jembatan kayu yang nampak baru saja dibuat, menjadi pengubung menyeberangi si anak sungai. 

Pada sisi kanan jembatan, sebuah area permandian, dengan pancuran air yang terbuat dari bambu melintang. Disampingnya sebuah sumur, juga menjadi tempat khusus bagi masyarakat kawasan adat untuk memenuhi kebutuhan air untuk segala keperluan rumah tangga, dan mungkin juga untuk ternak dan kebun. Beberapa warga adat nampak sedang beraktivitas mandi dan mencuci disana. 

Saya merasa sayang ini bukan ekpedisi ilmiah. Dimana setiap 'hal' dapat diteliti dan diperoleh informasi tentangnya. Apakah sumur itu juga sumur yang usianya setua Tanatoa, sehingga bersifat 'purba', dan apakah ada cerita mitologis dari keberadaan sumur tersebut bagi manusia kawasan Adat Tanatoa? 

Tidak ada Jawaban. Ekpedisi ini hanya kunjungan untuk melihat-lihat, mengenai rasa penasaran tentang tanah Ammatoa Kajang. Sekedarnya datang melintas pandang, dalam kawasan yang merupakan kawasan hutan adat, dengan sejarah panjang kehidupan mengenai mitos 'asal muasal dunia dan asal mula manusia'. 


Mataku mencoba mencari yang mungkin dapat disebut situs-situs mitologis dalam kawasan, baik berupa tempat 'pemujaan untuk ibadah', atau petilasan kuno nenek moyang manusia Tanatoa, atau hal serupa itu lainnya. Pandang tidak menemukan yang dicarinya. 

Yang berkesan, ternyata kami dapat dengan mudah bertemu dengan penguasa utama Tanatoa, yakni sang Ammatoa. Sosok yang tak pernah terbayang rupanya dan hanya mengenalnya lewat cerita-cerita 'kekeramatan' figurnya. 

Ketika sedang, mengamati rumah adat yang berjejer rapi, sesorang berpakaian adat, bercelana putih sampai lutut, dengan kain hitam di selempang, berikat kepala warna hitam khas adat Kajang, keluar dari sebuah rumah seserhana dan berjalan berpapasan. Beliau menyapa dengan bahasa Konjo, yang kurang lebih maksudnya: Mau bertemu dengan Ammatoa? 

Beliau menunjukkan rumah Ammatoa, yang baru saja ia tinggalkan. Setelah berunding sesaat, dengan tanpa ada perasaan apapun, langsung saja kami menuju ke rumah yang ditunjukkan itu. 

Sebelum menaiki anak tangga pertama, terdapat sebua gentong air untuk cuci kaki. Suatu yang membawa ingatanku ke hal serupa di era ketika kakek buyut masih hidup. Didekat tangga rumah-rumah panggung mereka, selalu tersedia guci besar tempat menampung air, untuk dipaki membasu kaki jika hendak naik ke rumah. Di kawasan ini, pemandangan ini masih ditemukan. 

Dengan sedikit bumbu teori, bahwa kebudayaan itu adalah simbol-simbol. Maka sesungguhnya dalam simbolitas tradisi: rumah adalah tempat suci, memasukinya juga harus dengan raga yang suci. Bandingkan dengan masyarakat modern, yang bebas menggunakan sepatu dan sendal masuk ke dalam rumah. Rumah tidak lagi diberi harga sebagai 'ruang suci untuk beribadah'. 

Bagi masyarakat Tradisi, ruang selalu diberi makna sakral. Bagi manusia modern, ruang hanya bermakna profan saja. 

Satu persatu anak tangga kami pijak. Saya tidak menghitung jumlahnya, hingga sampai di anak tangga puncak. Kaki melangkah melewati batas pintu dan tangga. 

Di dalam rumah, sebarisan orang sedang duduk, dengan gaya bersila, agak merapat dibagian dinding rumah, sehingga bagian tengah nampak kosong. Bagian tengah mungkin sengaja di kosongkan untuk ditempati mereka yang berkunjung ke dalam rumah. 

Kami mengucapkan Assalamu'alaikum wr wb, dijawab dengan Walaikumsalam oleh orang dalam rumah hampir serentak. 

Kami dipersilahkan duduk. Sebagai tamu, kami menempati ruang tengah yang dikosongkan itu. Para tuan rumah duduk membentuk segitiga. Sementara kami persis di bagian tengah sudut bentuk segitiga mereka para tuan rumah. 

Tidak ada kursi, ruangan kosong tanpa perabotan apapun, kecuali tempat penyimpanan kebutuhan pokok, dibagian atas sudut dan sisi atas rumah, dekat atap. Ada gelantungan dan tempat seperti 'rak' penyimpanan. 

Lantai rumah panggung sederhana itu, terbuat dari belahan-belahan bambu yang halus. Bagian yang ditempati para tuan rumah diberi alas tikar daun pandan, sebagian ada dari anyaman rotan yang sangat halus.

Sesaat dari kedatangan kami, nampaknya tuan rumah (Ammatoa) dan para jajaran pembantunya (Puto), baru saja menyelesaikan perjamuan makan siang. Masih tersisa piring dan gelas-gelas yang belum dirapikan, bahkan masih ada yang lain nampak buru-buru menyelesaikan suapan terakhirnya. 

Figur yang duduk pas di sudut ruang, adalah tokoh utama masyarakat adat Kajang, Ammatoa. Pakaian khas hitam dan penutup kepala juga warna hitam. Beberapa peralatan dan gelas minum serta cemilan kacang goreng nampak di sebuah toples kaca. Terletak disamping dan dihadapan beliau. 

Sang Amma menanyakan asal daerah kami, dan menanyakan maksud kedatangan. Kami memang hanya berkunjung untuk 'rekreasi', sekaligus secara spekulatif saya menyampaikan maksud juga ingin mengetahui sejarah Tanatoa dan prinsip hidupnya dalam Pasang ri Kajang

Seorang Puto yang duduk disamping kanan Ammatoa, mempersilahkan kami merapat lebih dekat ke Amma dalam perbincangan.  Dan bincang-bincang dengan tokoh sentral yang telah mengundang penasaran bertahun-tahun itu, akhirnya berlangsung jua. Tentu dalam bahasanya saja, yakni bahasa Konjo. Walau saya menggunakan bahasa makassar, karena kurang lincah memakai bahasa Konjo, namun pembicaraan kami bersambung karena, dua bahasa itu seperti saudara kembar siam. 

Inti pembicaraan Ammatoa adalah penjelasan tentang asal usul manusia yang bermula di Tanatoa; seluruh raja di Nusantara juga bagian dari asal usul mereka dari Tanatoa; pasang ri kajang teridiri dari 8 hukum (pasal), namun hanya sebagian saja yang masih berlaku dalam kawasan adat, karena ada hukum negara; pasang berlaku untuk semua manusia di dalam dan diluar kawasan; Ammatoa sekarang adalah pimpinan yang ke 21 (atau 22?); tugas utama Ammatoa adalah menjalankan hukum adat dan mendoakan semua manusia; dan seorang Amma harus 'lebih miskin' dari masyarakatnya.

Ammatoa berbicara dengan penjelasan sederhana dan berulang-ulang. Beliau suka menyelingi pembicaraannya dengan tawa riang, sesekali juga dengan ketegasan yang nampak dari raut wajah dan posisi duduknya. Kelihatannya beliau orang yang rileks dan ramah. Tidak terasa ada kalimat yang ditekankan dengan tendensi tertentu. Beliau memiliki kelembutan yang khas, sebagai penghulu masyarakat Adat di Tanatoa Kajang.  

Keberuntungan lain dari kunjungan ke Ammatoa yang tak terduga ini, adalah: Ammatoa hadir lengkap dengan segenap 'menteri-menterinya' di hadapan kami. Karena ada kabar dari seorang putonya, bahwa ada tamu penting dari Gowa, seorang Sombayya ri Gowa. 

Setelah usai hajat kami bersama Sang Amma. Dipersilahkanlah salah seorang Sombayya ri Gowa bersama Permaisurinya itu, untuk mendekat dan menghadap Ammatoa. Kehadiran mereka dihantar langsung oleh karaeng Kajang (salah seorang puto, yang diberi gelar karaeng). 

Bersama tamu kerajaaan itu, hadir juga salah seorang dari turunan kerajaan di Jawa Timur. Rombongan mereka datang secara khusus untuk meminta restu dan doa dari Ammatoa, agar hajat-hajat besar mereka di masa depan dapat terwujud. 

Setelah beberapa lama perbincangan mereka dan ritual restu dan doa-doa dari Ammatoa telah usai, mereka pun Pamit. Kami juga menyertai untuk pamit undur diri dari rumah Ammatoa.  Tamu kerajaan masih harus menyelesaiakan satu ritual mandi di sumur tua. Sumur yang terletak didekat anak sungai yang kami lintasi dalam perjalan kedatangan tadi.

Menuruni tangga rumah panggung sederhana Ammatoa, saya dihinggapi renung tak berkesudahan:

Sudah 'ribuan' tahun mungkin sejarah perjalanan Tanatoa Kajang. Di abad 22 kini, kami masih sempat bertemu generasi akhir dari rangkaian silsilah panjang kepemimpinan Ammatoa di Tanatoa Kajang ini, sejak abad pertama keberadaan dimasa silam, yang entah. 

Di abad ini, isi pasang tidak lagi bisa sempurna dilaksanakan, karena besarnya arus perubahan  masyarakat modern. Banyak tanda-tanda risau terbaca, yang memberi isyarat bahwa mungkin jejak nilai-nilai pasang dan masyarakat adat dengan sistem hidupnya, akan menjadi 'kenangan' menjelma program-program wisata kebudayaan. 

Benteng terakhir ada dalam jiwa dan raga Ammatoa yang memimpin komunitas kamase-masea ini, Sang pemegang amanah kedaulatan dari Yang Maha Berkehendak (tu rea a'ra'na), Tuhan Penguasa Alam. 

* * *

Matahari sudah melewati tengah-tengah langit, mulai agak condong ke Barat. Kami menelusuri kembali jalan bebatuan, meninggalkan tanah sunyi Ammatoa. Meninggalkan suara-suara burung dan gemericik air sungai kecilnya bersama desir angin sepoi yang menerpa dedaunan bambu yang memecah sunyi dengan gereseknya. Kami pulang ke rumah gunung. 

Menikmati malam dirumah, juga dengan suasana dingin malam, bersama secangkir kopi Borong yang hangat. Ngobrol dalam keriuhan kunjungan ke rumah sang penguasa kawasan adat yang dihormati. 

Masih tersisa jejak tradisi dari kampung Kajang, selapis bundaran kue uhu-uhu khas sedekah oleh-oleh dari masyarakat Tanatoa, menemani seruputan kopi malam yang hampir larut. Untuk memulai perjalan pulang keesokan hari menuju kota Daeng.  

Kembali ke Makassar melalui jalur tidak biasa: melingkar dari arah Kabupaten Sinjai Barat, terus ke arah Timur disisi-sisi punggung Gunung Lompobattang. Melewati batas wilayah Sinjai bagian tengah dengan lajur jalan kecil dan meliuk-liuk di tebing-tebing jerjal pegunungan. Kadang-kadang menimbulkan rasa cemas, menyisir sisi-sisi gunung yang curam. 

Sepanjang jalan nampak banyak pemandangan alam pegunungan, persawahan, sungai-sungai, kebun-kebun sayur penduduk dan taman-taman bunga pekarangan rumah, membuat perjalanan, meski sedikit diselingi rasa was-was, namun tertutupi oleh indahnya suasana pegunungan. 

Jelang memasuki perbatasan kabupaten Gowa, kabut tebal dan desir angin yang membawa air hujan, muncul mendadak di puncak-puncak pegunungan, membuat laju kendaraan dalam kewaspadaan tinggi. Pemandangan yang terhalang kabut tebal, jalanan yang licin karena hujan, dan makin ramainya kendaraan berpapasan. 

Makin terasa bagai sebuah ekspedisi betulan, dari kunjungan bersejarah di tanah yang konon asal muasal penciptaan bumi ini, Tanatoa Kajang. 

Membawa kenangan akan sebuah kehidupan tradisi yang masih bertahan di balik sunyi hutan perawan di tengah hiruk-pikuk peradaban dunia modern yang makin gegap gempita. 

Apakah peradaban Tradisi akan hilang ditelan dan dimusnahkan zaman, atau cahaya kecilnya justru akan berbalik memberi cahaya baru bagi arah zaman yang sedang menuju pada kegelapan spritual?

Tidak ada orang modern yang mau mendekam sendirian dalam hutan belantara, dan mendoakan seluruh manusia, sebagaimana Ammatoa (Manusia Tradisi), dan berusaha merawat kehidupan melalui hubungan harmonis dengan alam, manusia dan  Yang Maha Memiliki Berkehendak. 

Manusia modern justru sibuk dengan pengetahuan, untuk membuat cara-cara baru dan tehnologi canggih untuk merenggut keperawanan alam, demi kesejahteraan dunia semata. Tetapi menimbulkan kerusakan alam yang tidak mungkin lagi dapat diperbaiki dan tentu mengorbankan kehidupan, melalui ragam bencana alam dan sosial, yang menimpa manusia. 

Apakah justru, manusia akan merindukan kembali Tradisi, yang telah mereka korbankan melalui pembangunan? 

Beberapa ekor monyet liar di hutan Ammatoa, yang kami dapati saat perjalanan pulang, juga tidak bisa menjawab. Mereka hanya bergelantungan berlompatan riang gembira menikmati rumah kehidupannya yang masih asri dan lestari, di Tanatoa. 

Mahluk itu berbahagia karena praktik pengetahuan suci dari kosmologi tradisional Ammatoa, bahwa alam adalah ibu kehidupan yang memberikan kasih sayang. Ia adalah cermin sifat ilahi.