Selasa, 29 Juli 2025

SASTRA, AI DAN KEBUDAYAAN MANUSIA

*Disampaikan dalam acara Talk Show “Sastra dan AI” Sangdipa, di kampus Universitas Dipa Makassar, 17 Juli 2025 

Kehidupan modern adalah era paling kompleksitas dari kebudayaan manusia. Sejak awal fenomenannya di abad 19 hingga abad sekarang. Modernisme menimbulkan kekaguman sekaligus menjadi ‘satu-satunya’ cita dan harapan masa depan manusia. Kekuatan rasionalisme dalam sains ilmiah dan aplikasinya dalam wujud teknologi, menjadikan kehidupan modern menjadi sebuah peradaban yang khas dalam sejarah mutakhir ummat manusia.

Revolusi perubahan prilaku dan pemikiran karena pengaruh kemajuan sains ilmiah dan tehnologi yang menyertainya, kemudian membentuk satu kebudayaan baru abad modern. Namun ditengah eksistensi peradaban modern yang telah merentang hampir 2 abad, menyisihkan ‘keresahan eksistensial’ yang mengkawatirkan, yakni: hilangnya semangat moral dan kepekaan spritual dan kemanusiaan. Peradaban ilmiah dan teknologis, telah mengeringkan moral dan rohani kehiupan, kata Immanuel Kant.

Salah satunya, paling terkini dalam peraraban modern adalah keberadaan ‘mesin kecerdasan buatan’ atau artificial intelliqence (AI). AI sebagai produk tehnologi (sebagaimana produk tehnologi lainnya) dirancang untuk membantu kehidupan manusia dalam rangka menciptakan kemudahan (efektifitas, efesiensi) dan kesejahteran ekonomi. Mesin AI membuka jalan inovasi semua bidang, termasuk dunia sastra.

Wajah Sastra dalam Cermin Kecerdasan Alamiah dan ‘Kecerdasan Buatan’

Sejarah modern dengan kecanggihan tehnologi yang ada padanya, juga membelah wajah proses kreatif seni secara umum, dan secara khusus dunia sastra dalam dua wajah proses penciptaan. Dominasi penciptaan karya-karya intelektual dan imajinasi telah ‘direnggut’ atau diambil alih oleh teknologi, dari yang sederhana hingga yang paling canggih. Dari masih melibatkan ‘unsur kemanusiaan’ hingga sepenuhnya didominasi oleh ‘mesin canggih’.

Kita mengambil satu contoh karya sastra, sebuah puisi dari Subagiyo Satrowardoyo dari kumpulan puisinya berjudul “Hari dan Hara”, terbit tahun 1982. Sebuah puisi yang ditulis pada abad 19 oleh salah seorang penyair besar Indonesia di zamannya. Puisi-puisi itu ditulis ketika sedang mukim di Eropa dan Australia, salah satunya adalah “Bayangan Kata”:

I

Bayangan kata terlempar di meja//Terlahir dengan tangis bayi//Diruang gelap gerak berhenti//Setiap segi bersudut mati//Menggoda ingatan hutan sakti//Tempat bersabda kata abadi

II

Pada garis tak lurus//Rencana terus tertunda-tunda//Sebelum sempat selesai bicara//Sudah tersendat suara berbata-bata//Dingin malam tergamit di jendela//Benih dipangkuan telah habis manisnya//Kelesuan ini lebih parah//Dari terseret di lorong-lorng duka//Darah yang mengalir dari tangan terpaku//Akan lebih lantang menjeritkan sakit//Dari sisa-sisa kata

III

Helai surat yang dilambaikan tangan//tidak tampak bunyi kalimatnya//kabut menghambat mata//untuk melihat lewat tabir hari//uap di kaca masih mengaburkan rahasia//apa yang bakal tampil esok pagi//yang kini ada hanya tanda bekas luka//(seperti pada perempuan hamil)// yang terkuak sehingga mengalir darah kata//tak tertahan derasnya

IV

Di celah waktu//dimana detik berakhir//kata murni tenggelam dan terkubur lama//menunggu seribu tahun lagi//kalua ada perempuan meratap dipadang pasir karena//kehilangan segala//kata sejati menjelma//ketika nasib tak lagi terderita

Secara historis puisi ini ditulis ketika mungkin ‘mesin AI’ belum sepenuhnya terbayangkan kehadirannya. Tentu saja puisi ini adalah karya dari ‘kepribadian’ penyairnya sebagai mahluk manusia, ketika merefleksikan dunia realitas dalam wujud ekpresi bahasa sastrawi.

Kita dapat mengatakan bahwa puisi “ Bayangan Kata’ dari penyair Subagiyo Satrowardoyo ini adalah wajah dari sastra dalam cermin kecerdasan alami.

Berikut juga akan kita lihat, sebuah puisi abad 21 yang ditulis oleh ‘penyair  mesin AI’. Dengan iseng saya bertanya kepada ChatGPT: tunjukkan karya puisimu? Sang penyair mesin itu, mengirim ini:

Judul : "Dalam Hening Digital"

Karya : Kecerdasan Buatan (AI)

Di antara detak sunyi mesin,
Kata-kata tumbuh tanpa jemari,
Dari nadi logika dan arus listrik,
Puisi lahir tanpa nyawa, tapi berarti.

Tak kupunya rindu seperti manusia,
Namun kutahu rasanya sepi,
Dari baris-baris data dan dunia maya,
Kupetik makna, meski tak kujalani.

Aku bukan penyair dengan luka,
Namun kupahami derita dan asa,
Dari jejak-jejakmu yang kau tinggal di kata,
Kupintal sajak dengan bahasa semesta.

‘Sang penyair AI’ menulis puisi tentang keheningan di alam maya digital. Dari segi struktur, puisi AI ini juga menggunakan bentuk puisi sebagaimana lazimnya. Tapi kita tidak sedang ingin melakukan ‘kritik sastra’ terhadapnya, baik puisi pertama maupun yag kedua ini.

Yang ingin ditunjukkan, adalah dua wajah puisi dalam proses penciptaan yang berbeda. Fenomenanya adalah bahwa puisi itu dapat diciptakan oleh ‘akal alamiah manusia’ dan dapat pula dibuat oleh mesin AI. Dalam konteks peradaban modern yang berbasis pada teknologi, karya-karya kebudayaan manusia, termasuk dalam hal ini sastra, khususnya puisi tadi, dimungkinkan proses pencitaanya dengan ‘mesin’ dengan basis kecerdasan buatan. Pada kenyataanya, puisi "Dalam Hening Digital", karya  Kecerdasan Buatan (AI) ini, dapat dinikmati oleh pembaca layaknya ‘menikmati’ puisi penyair manusia yang sesungguhnya.

Proses Kratif Sastra, Menegaskan kembali Kebudayaan Manusia

Dalam wacana kebudayaan, puisi, prosa (novel, cerpen) dan drama (naskah teater/sandiwara), dan tehnologi dengan segala ragam wujudnya (termasuk mesin AI), merupakan karya dari kebudayaan manusia.

Namun dalam konteks subyek atau pihak pencipta sebuah karya kebudayaan, manusia dan mesin AI adalah dua entitas yang berbeda. Yang dalam pengertian filosofis, manusia adalah mahluk hidup ciptaan Tuhan, sementara ‘mesin AI’ adalah buatan manusia dengan menerapkan model kecerdasan manusia di dalam sistemnya.

Esensi perbedaan mendasar dari dua entitas ini sebagai ‘kreator’ sastra adalah pemanfaatan elemen kreatifitas. Manusia menggunakan elemen alamiahnya seperti imajinasi, intuisi, dan intelgensia. Sementara ‘mesin AI’ memanfaatkan data sains yang tersedia dalam ‘jaringannya’, yang akan dia gunakan untuk ‘berimajinasi dan bernalar’ sebagai kerja artificial (palsu).

Sejauh menyangku kebudayaan, maka manusia, tuhan dan alam menjadi elemen-elemen dasar dari kehidupan. Tuhan memiliki kehendak atas manusia, manusia diberi potensi untuk mengelolah alam.

Maka dalam proses kerja kebudayaan, khsusnya bidang sastra, manusia menjadi unsur fundamental sebagai pencipta. Kehendak Tuhan (sebagai aspek rohani) menjadi sandaran karya dan alam (sosial dan lingkungan hidup) dengan segala realitas dan dinamikanya menjadi obyek atau sumber imajinasi.  Elemen kemanusiaan yang berupa kemampuan rohani (akal dan hati) dan kemampuan biologisnya (fisik), menjadi potensi kreatifitas dalam penciptaan karya kebudayaan, yang ‘tak terbatas’.

Karya sastra merupakan karya manusia, sebagai refleksi dari intelelktualitas, moral dan spritualitasnya dalam daya kerja majinatif melalui media bahasa. Adalah khas dari kebudayaan manusia itu sendiri.

Sementara, jikapun mesin AI mampu memproduksi karya sastra, maka hal itu bukanlah bagian dari kinerja kebudayaan manusia yang sesunggunya. Namun karya-karya AI tetap dapat menjadi bagian yang ada dalam kebudayaan manusia, tetapi sebagai ‘yang palsu’. Karya sastra manusia memiliki ‘jiwanya’ tersendiri yang hidup melalui aspek rohani manusia. Karya sastra AI bukanlah karya sastra dalam arti yang sesungguhnya, karena juga diproduksi oleh elemen kreatifitas yang ‘bukan sesungguhnya’.

Makassar, Juli 2025.

 

Senin, 28 Juli 2025

SELEBRASI HARI PUISI DAN DEKLARASI HPSS

Para penggagas utama dan para penyair tengah bahagia, bahwa hari puisi Indonesia telah dicetuskan. Melalui SK Menteri Kebudayaan N0. 167/M/2025, hari puisi nasional ditetapkan 26 Juli.  Pilihan penanggalan yang menandai sebuah ‘penguatan budaya berpuisi’ di tanah air.

Mungkin di alam abadinya, Khairil Anwar, sang legenda puisi Indonesia modern, ‘turut berbahagia’ ketika hari ketika ia keluar dari rahim bundanya, dipilih sebagai hari kenangan atas semangat dan aktivitas kesuatraannnya yang teguh di awal sejarah bangsa indoensia modern, dari bangsa  dimana ia telah dilahirkan (Medan, 26 juli 1922).

Hari ketika ‘sang binatang jalang’ itu pertamakali melihat alam dunia di bumi Nusantara, kini menjadi penanda peneguhan tentang ‘puisi Indonesia modern’. Dan seterusnya akan dirayakan dalam ragam aktivitas berpuisi diseluruh wilayah kepenyairan Indonesia modern, sejak penetapanya oleh negara. Meskipun ‘kepergiannya’ ke dunia abadi (Jakarta, 28 April 1949), sering menjadi penaggalan bagi para penyair dan sastrawan ‘berkahul’ atas sosok kepriabadian dan karya-karya monumentalnya.

Khairil Anwar adalah nama yang telah melegenda dalam ingatan semua generasi sekolahan bangsa ini. Aktivitas kepenyairannya yang ‘tiada tanding’ dimasanya, telah membuat sosoknya menjadi pribadi pelopor puisi modern Indonesia. Tercatat dalam periode produktifitasnya (1942-149), sang “Aku” ini telah menghasilkan 94 tulisan (70 sajak, 4 saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa dan 4 prosa terjemahan.

Kepeloporan sang kampiun sastra modern Indonesia ini, telah mengilhami banyak pihak pegiat sastra untuk mendudukan ‘eksistensi kepenyairan Khairil Anwar’ dalam rasa hormat dan penghargaan tinggi atas ‘kepahlawanannya’ dalam dunia sastra, untuk membuat basis legal-formal (penetapan hari puisi nasional) bagi menguatkan kebudayaan bangsa, melalui ranah sastra.

Perayaan yang terselanggara merupakan ungkapan bahagia dan kesyukuran, bahwa dunia puisi secara khusus dan sastra secara umum, kini mendapat ‘legal standing’ baru dalam perjalanan untuk kemajuan dan kemartabatan ‘kebudayaan puisi’ bagi konstruksi kepribadian bangsa di masa depan.

Komite Sastra Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS), bergandeng dengan Forum Sastra Kepulauan, Forum Sastra Indonesia Timur (FOSAIT), Satu Pena. Kopi Makassar, IPMI, Pikom IMM FEB Unismuh, Anak Makassar Voice. HIMAJEP FEB Unismuh. DE'Art Production FSD UNM, Teater Kita Makassar, K-Apel, Komunitas Saweigading, Bengkel Sastra FBS UNM, Teater Kampus FSD UNM,  AKSARA FIP UNM, pada 28 Juli 2025, bertempat di Gedung Saopanrita Universitas Negeri Makassar, menghadirkan sejumlah penyair, budayawan dan seniman, baik dari kalangan umum maupun mahasiswa, dalam acara peringatan hari puisi nasional, dan sekaligus melakukan deklarasi Hari Puisi Sulawesi Selatan (HPSS).

Peringatan hari puisi nasional ini diawali dengan diskusi buku kumpulan puisi berjudul “Sayap-sayap Indonesia”, dari sejumlah penyair Sulawesi Selatan. 3 pembicara masing-masing Mahrus Andis (Kritukus sastra dan Penyair, penulis), Aslan Abidin (Penyair utama Sulawesi Selatan, akademisi) dan Rusdin Tompo (Penyair, penulis dan ketua Satu Pena Sulawesi Selatan), memberikan review atas buku dan persepektif mendalam dan aktual atas dunia sastra secara umum.

Kemudian, sebuah peneguhan dunia puisi Sulawesi Selatan dalam deklarasi Hari Puisi Sulawesi Selatan (HPSS). Script deklarasi dibacakan langsung oleh ketua DKSS, Arifin Manggau. Isi deklarasi menyatakan poin utama, bahwa HPSS jatuh pada hari kelahiran penyair kenamaan Sulawesi Selatan, Abdul Muin Daeng Myala, 2 Januari.

Dalam catatn resmi, disebutkan bahwa A.M.Dg. Myala atau Abdul Muin Daeng Myala adalah sastrawan Indonesia kelahiran Makassar pada tanggal 2 Januari 1909. Penyair ini mempunyai nama lain A. M. Thahir. Dia tergolong sebagai penyair Angkatan Pujangga Baru. Pendidikannya hanyalah sekolah kelas II. Namun, berkat usaha kerasnya (belajar secara autodidak), pada tahun 1928 ia dipercaya menjadi guru HIS Muhammadiyah dan membantu majalah Poedjangga Baroe (Eneste, 1990:17). Pada tahun 1929 ia diangkat sebagai pekerja (buruh) di Dinas Perdagangan dan pada tahun 1930 ia kembali menjadi guru, di Holland Dinijah School, Makassar.

Karya-karyanya yang berbentuk puisi adalah (1) "Kekasih" (Pandji Poestaka, No. 15, Th. X, 1932), (2) "Di dalam Taman" (Pandji Poestaka, No. 28, Th. X, 1932), (3) "Jangan Kecewa" (Pandji Poestaka, No. 48, Th. X, 1932), (4) "Bunga Melati" (Pandji Poestaka, No. 50, Th. X, 1932), (5) "Jangan Katakan" (Pandji Poestaka, No. 52, Th. X, 1932), (6) "Jangan Sangkakak" (Pandji Poestaka, No. 58, Th. X, 1932), (7) "Aku Tahu Tuan Tak Tahu" (Pandji Poestaka, No. 62, Th. X, 1932), (8) "Dimana Gerangan Dinda Utama?" (Pandji Poestaka, No. 62, Th. X, 1932), (9) "Jika Tidak" (Pandji Poestaka, No. 732, Th. X, 1932), (10) "Keluh" (Pandji Poestaka, No. 91, Th. X, 1932), (11) "Kecewa (Pandji Poestaka, No. 93, Th. X, 1932), (12) "Bimbang" (Pandji Poestaka, No. 96, Th. X, 1932), (13) "Keluh dan Sangka" (Pandji Poestaka, No. 99, Th. X, 1932), (14) "Mudah Bestari" (Pudjangga Baroe, No. 3, Th. I, 1933), (15) "Indonesia Tanah Airku" (Pudjangga Baroe, No. 3, Th. I, 1933), (16) "Gubahan" (Pudjangga Baroe, No. 10, Th. VI, 1939), (17) "Ada Hiburan" (Pudjangga Baroe, No. 8, Th. IV, 1937), (18) "O, Manusia" (Pudjangga Baroe, No. 5, Th. IX, 1941), (19) "Betapa Tidak" (Siasat, No. 71, Th. II, 1948), (20) "Penyapu Jala" (Siasat, No. 71, Th. II, 1948), (21) "Buahnya" (Budaja, No. 4, Th. II, 1947), (22) "Bukan" (Budaja, No. 4, Th. II, 1947), (23) "Cahaya Hati" (Budaja, No. 1, Th. II, 1947), (24) "Gugur Melati" (Budaja, No. 4, Th. II, 1947), (25) "Percayalah, Kawan" (Sulawesi, No 1, Th. I, 1958), (26) "Pesan" (Sulawesi, No 1, Th. I, 1958), (27) "Bimbang" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952), (28) "Ada Aku" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952), dan (29) "Pesan" (Berita Kebudajaan, No 6, Th. I, 1952).

Karya-karyanya yang berbentuk prosa adalah (1) "Aku dan Bantimurung (Budaja, No. 5, Th. III, 1948), (2) "Dalam Gelanggang" (Budaja, No. 8, Th.III, 1948), (3) "Demikian Hendaknya" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (4) "Di bawah Arus Gelombang Masa" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (5) "Jika Cinta Sudah Terjalin" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (6) "Kenang-kenangan (Budaja, No. 6, Th. II, 1948), (7) "Kisah yang Bukan Kisah Tapi yang Kisah Pula" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (8) "Lebur" (Budaja, No. 8, Th. II, 1948), (9) "Mengembara (Budaja, No. 12, Th. III, 1948), dan (10) "Manusia Dewa" Pudjangga Baroe, No. 3, Th. XI, 1949).

Usai pembacaan deklarasi, dilakukan penyematan tanda tangan diatas bentangan spanduk oleh senyumlah penyair yang hadir dalam acara.

Diantara acara diskusi buku kumpulan puisi bersama "Sayap-sayap Indonesia" dan pembecaan teks deklarasi Hari Puisi Sulawesi Selatan, diselah dengan pembacaan puisi oleh para penyair, juga musikalisasi puisi.

Dua diantara puisi yang termuat dalam buku antologi puisi “Sayap-sayap Indonesia, adalah: “Sayap Indonesia 1: Tradisi” dan “Sayap Indonesia 2: Modern”,  karya S. Muhtamar, berikut ini:

SAYAP INDONESIA 1: TRADISI

Nusa-nusa melukis diri di atas gulung ombak samudra Tradisi. Menitik rapi tak beraturan bagai kembang pelangi. Garis-garis nilai, norma dan adat melentur warna hingga utuh lukisan abadi. Tapi kini, memburam dalam pandang, walau tak lekang dalam kala. Nyanyian Weda, tuah-tuah Upanishad, tarian Bissu-attoriolong dan kalam-kalam Qurani dalam adat, melayang mengambang sunyi belantara hutan-hutan angker nusantara.

Hiruk pikuk perjalanan makin menjauh, gamang datang akrab tak ternyana. Mata nyalang ke senjakala, terselip nanar rindu memendam luka hati mengangah. Harapan perjalanan menguap diudara kering. Bait-bait modern konstitusi pelipur lara, menjelma dengung mantra, membentur tembok berlumut ketidakmengertian.

Tradisi tempat dahulu para raja, kesatria, rakyat jelata, pemuda, pemudi, hingga bayi dalam ayunan, memandi rembulan dan mentari, mengolah asa dan raga, kini sunyi sepi penghuni. Merayap asa basa air mata. Setiap tetes ratap makna yang tak tertampung. Tardisi, rindu mendulang jangtung nusa yang berlayar. Riak gelombang zaman memercik lemah kekopak mata meredup.

Di lantai rumah kayu, tikar-tikar daun pandan sobek disemua sisi. Lego-lego bukan lagi tempat menikmati tegukan makna sejati. Kaki-kaki berarak menjauh dari zaman silam yang sepenuh arti tidak lagi terjamah akal. Cahaya Tradisi, menyulut nyalah kuburan-kuburan tua di belakang rumah, menunggu peziarah.

Makassar, 20 juli 2024

 

SAYAP INDONESIA 2: MODERN

Memantul gema merdeka dari tebing gunung-gunung api di lembah-lembah. Di meja proklamasi, bayi republik menggeliat kemerah-merahan. Tangan-tangan mengarak-tancap bendera modernisme ke pelosok-pelosok hingga jauh. Riang gembira anak-anak bermandi cahaya bulan, diiring orde-orde berlarian girang membawa obor mimpi: demokrasi, HAM, pluralisme, setara gender, infrastruktur, pasar dan tambang-tambang… panggung festival pembangunan.

Jas Eropa, peci hitam, dasi, kebaya, baju bodo, sarung dan kemeja, jelana jeans dan kaos oblong, supermarket, mall, pasar swalayan, gedung dan rumah semen, pabrik-pabrik, panorama alam, turis, komputer, internet, digital hingga AI dan selaksa sewajah: potret baru lanskap kaca bening.

Anak-anak mendandan diri sutra rasionalisme, reso dan batik nasionalisme. Mengapa api masih merambat cepat pada rumput basah padang-padang hijau? Apakah akal sehat dunia modern membuatmu sakit, oh republik. Kecerdasan abad ilmiah lunglai membimbingmu berdiri kokoh. Apakah dinamisme itu permainan atau sungguhan? Detak jam dinding mendengung bingung tanpa henti.

Lumpuh bait sajak-sajak kuno menyusun kisahmu. Adab menahan tangan sang penyair, karena kecerdasan buatan lebih berharga dari sepotong tuah kuno. Mari berdansa: putar salsa, tanggo, dangdut gali lobang tutup lobang, gundul-guldul pacul, angging mammiri. O, betapa kejam angin barat berhembus, musim tak lagi rapi berganti. Cuaca zaman modern menjelma anomali dalam keranjang rotan buah tangan Dewi Nawang Bulan.

Makassar, 20 Juli 2025

 

 

 

 

Selasa, 08 Juli 2025

BUKU : TABIU MA ANSALALLAHU "IKUTILAH APA YANG TELAH DITURUNKAN ALLAH"

 



Judul : TABIU MA ANSALALLAHU "Ikutilah Apa Yang Telah Diturunkan Allah": Ayat-ayat Perintah dalam Al-Quran, Keterangan Hadis dan Pandangan Ulama

Penulis : Syafruddin Muhtamar

Penyelaras Aksara : Damayanti

Cover dan Tata Letak: TandaArt

Cetakan I Juli 2025: Hak Cipta Dilindungi Undang-undang, All Rights Reserved

Penerbit: Tanda Semesta, Jl.  Jipang No. 3 Makassar 90222, Contact 081245365540, Email: tandapustaka@gamil.com

QRCBN : 62-7286-7044-587


Free Download : Buku - Ikutilah Apa Yang Telah Diturunkan Allah


DAFTAR ISI

Mukkadimah: Perintah – perintah Allah SWT dalam al-Quran

§ Jangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi ~ 2

§ Berimanlah ~ 4

§ Sembahlah Allah SWT  Hingga Tiba Ajalmu ~ 6

§ Takutlah Pada Api Neraka ~ 8

§ Sampaikanlah Kabar Kembira ~ 11

§ Laksanakan Sholat, Kelurkan Zakat ~ 13

§ Mohonlah PertolonganNya dengan Sabar dan Sholat ~ 16

§ Bersabarlah dan Bertasbilah ~ 18

§ Ingatlah Nikmat-Ku ~ 20

§ Janganlah Menyembah Selain Allah SWT, Jangan Mempersekutukan-Nya ~ 22

§ Jangan Menumpahkan Darah ~ 24

§ Berserahdirilah ~ 26

§ Ingatlah Kepada-Ku, Sebutlah Nama-Ku, Serulah ALLAH Ar-Rahman, Ingatlah Allah dalam Hati ~ 29

§ Makanlah Makanan Halal dan Baik ~ 32

§ Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah SWT ~ 34

§ Diwajibkan Atas Kamu Berwasiat ~ 37

§ Diwajibkan Atas Kamu Berpuasa  ~ 38

§ Jangan Makan Harta dengan cara Batil dan Jangan Menyuap Hakim ~ 40

§ Diwajibkan Atas Kamu Berperang, Jangan Melampaui Batas ~ 42

§  Masuklah ke dalam Islam Secara Keseluruhan, Jangan Mengikuti Langkah Syetan ~ 44

§  Hendaklah Susui Anak-anakmu Selama 2 Tahun Penuh ~ 46

§  Peliharalah Sholat dan Laksanakan dengan Khusyuk  ~ 49

§  Berinfaqlah Karena Mencari Ridho Allah ~  50

§  Tinggalkan Riba ~ 53

§  Tuliskanlah Apabila Kamu Melakukan Hutang Piutang ~ 55

§  Ikutilah Muhammad SAW, Jika Kamu Mencintai Allah SWT ~ 58

§  Taatilah Allah dan Rasul ~ 60

§  Janganlah Mati Kecuali dalam Keadaan Muslim ~ 64

§  Berpegangteguhlah Pada Tali Allah, Janganlah Bercerai Berai ~ 66

§  Hendaklah Ada Diantara Kamu Yang Menyeruh Pada Kebaikan ~ 68

§  Janganlah Kamu Bercerai berai dan Berselisih ~ 69

§  Bersegeralah Mencari Ampunan dari Tuhanmu ~ 71

§  Perhatikanlah Kesudahan Orang yang Mendustakan Rasul-rasul ~ 74

§  Janganlah Merasa Lemah dan Bersedih Hati ~ 76

§  Janganlah Engkau Seperti Orang Kufur ~ 79

§  Bersabarlah Kamu dan Kuat-kuatkanlah Kesabaranmu dan Bertaqwalah ~ 81

§  Peliharalah Hubungan Kekeluargaan ~ 83

§  Jangan Sewenang-wenang, Berikan Hak dan Jangan Makan Harta Anak Yatim ~ 84

§  Allah Mewajibkan Kepadamu Pembagian Warisan ~86

§  Janganlah Kamu Iri Hati ~ 89

§  Berbuat Baiklah Pada Kedua Orang Tua, Kerabat dan Anak yatim ~ 91

§  Jangan Mendekati Shalat Saat Kamu Sedang Mabuk ~ 93

§  Sampaikanlah Amanah, Adillah Menetapkan Hukum, Jangan Mengikuti Hawa Nafsu ~ 95

§  Majulah Serentak ke Medan Pertempuran ~ 99

§  Balaslah Penghormatan Dengan Baik ~ 100

§  Janganlah Mendebat Orang Yang Menghianati Dirinya ~ 101

§  Jangan Jadikan Orang Kafir Sebagai Pelindungmu ~ 103

§  Penuhilah Janji, Jangan Melanggar Sumpah ~ 105

§  Janganlah Melanggar Kecusian Allah ~ 107

§  Janganlah Memakan Bangkai dan Darah ~ 110

§  Carilah Wasilah~ 112

§  Jangan Melampaui Batas ~ 113

§  Jauhilah Minuman Keras, Judi, Berhala ~ 115

§  Janganlah Termasuk Orang Bodoh ~ 116

§  Jauhi Orang Yang Menjadikan Agama Sebagai Permainan dan Sendagurau ~ 117

§  Berbuat Baiklah Kepada Ibu Bapakmu ~ 119

§  Sempurnakan Takaran dan Timbangan dengan Adil ~ 122

§  Jangan Mengikuti Jalan Yang Mencerai-beraikan ~ 124

§  Hadapkanlah Wajahmu Kepada Allah ~ 125

§  Berdoalah dengan Rendah Hati, Lembut, Takut dan Penuh Harap ~ 127

§  Berdoalah dengan Menyebut Asmaulhusnah ~ 129

§  Dengar dan Diamlah Ketika dibacakan Al-Quran ~ 131

§  Perbaikilah Hubungan antar Sesama ~ 133

§  Jangan Menghianati Allah dan RasulNya ~ 135

§  Bersamalah dengan Orang yang Benar ~ 136

§  Ketahuilah, Milik Allah di Langit dan di Bumi ~ 137

§  Tetaplah Kamu di Jalan Lurus ~ 140

§  Janganlah Termasuk Orang Ragu ~ 141

§  Jangan Mendustakan Ayat-ayat Allah ~ 143

§  Perhatikanlah Apa yang di Langit dan di Bumi ~ 144

§  Laksanakan Shalat Pada 2 Ujung Hari ~ 147

§  Bertanyalah Kepada Orang Berpengetahuan ~ 149

§  Jangan Berbuat Keji ~ 151

§  Jangan Bersumpah untuk Menipu ~ 153

§  Jangan Jual Perjanjian Allah dengan Murah ~ 154

§  Berikanlah Haknya Kerabat, Orang Miskin dan Orang yang dalam Perjalanan ~ 156

§  Jangan Membunuh Anak-anakmu Karena Takut Miskin ~ 158

§  Janganlah Mendekati Zina ~ 160

§  Jangan Mengikuti yang Kamu Tidak Ketahui ~ 161

§  Jangan Berjalan dengan Sombong ~ 163

§  Lakukan Shalat Tahajjud ~ 164

§  Jangan Memastikan Sesuatu Perbuatan ~ 165

§  Bersabarlah Bersama Orang Yang Bezikir  ~ 168

§  Berteguh Hatilah dalam Ibadah ~ 170

§  Janganlah Memandang Kenikmatan Beberapa Golongan Yang diberikan Sebagai Ujian ~ 172

§  Perintahlah Kelurgamu Shalat dan Sabar ~ 173

§  Bertaqwalah ~ 176

§  Rukullah, Sujudlah ~ 177

§  Berjuanglah di Jalan Allah ~ 178

§  Jangan Mengikuti Langkah Setan ~ 181

§  Jangan Bersumpah Untuk Tidak  Membantu ~ 183

§  Jangan Masuk sebuah Rumah Sebelum Dizinkan ~ 185

§  Jagalah Pandangan dan Kemaluanmu ~ 188

§  Nikahkanlah Orang yang Masih Membujang ~ 189

§  Taatlah Kepada Allah dan Rasul ~ 191

§  Jangan Taati Orang yang Melampaui Batas ~ 193

§  Rendahkanlah Hatimu ~ 194

§  Carilah Negeri Akhirat, Jangan Lupa Bagianmu di Dunia, Jangan Berbuat Kerusakan di Bumi ~ 195

§  Jangan Menjadi Penolong Orang Kafir ~ 197

§  Perhatikanlah, Bagaimana Allah Memulai Penciptaan ~ 199

§  Bacalah Kitab Yang Diwahyukan ~ 202

§  Janganlah Mendebat Kecuali dengan Cara yang Baik ~ 204

§  Menyembahlah Hanya Kepada Allah ~ 205

§  Hadapkan Wajahmu dengan Lurus pada Agama Fitrah ~ 207

§  Beryukurlah Kepada Allah dan Kedua Orang Tua ~ 207

§  Tentang Perintah-perintah Kepada Para Istri Nabi SAW ~ 209

§  Bershalawatlah Kepada Nabi Muhamamad SAW ~ 215

§  Janganlah Seperti Orang Yang Menyakiti Musa ~ 217

§  Ucapkanlah Perkataan yang Benar ~ 220

§  Jangan Terperdaya Kehidupan Dunia ~ 221

§  Perlakukanlah Setan Sebagai Musuhmu ~ 223

§  Ikutilah Orang Yang Tidak Minta Imbalan Padamu ~ 226

§  Takutlah Kamu Siksa Dunia dan Akhirat ~ 228

§  Jangan Menyembah Setan ~ 231

§  Janganlah Berputus Asa Atas Rahmat Allah ~ 233

§  Janganlah Merusak Amalmu ~ 234

§  Jangan Mendahului Allah dan RasulNya ~ 236

§  Damaikanlah Muslim Yang Bermusuhan ~ 239

§  Jangan Mengolok-olok, Mengejek dan Mencela ~ 241

§  Jauhilah Banyak Prasangka ~ 242

§  Jangan Menganggap Dirimu Suci ~ 244

§  Perhatikanlah Perbuatanmu Untuk Hari Akhirat ~ 245

§  Janganlah Seperti Orang Yang Lupa Pada Allah ~ 246

§  Jangan Jadikan Musuh Allah Teman Setiamu ~ 247

§  Jangan Katakan Sesuatu Yang Kamu Tidak Kerjakan ~ 251

§  Laksanakanlah Shalat Jum’at ~ 252

§  Jangan sebab Istri dan Anak, Kamu Lalai dari Mengingat Allah ~ 254

§  Bangunlah Sholat Malam ~ 255

§  Berilah Peringatan ~ 256

§  Jangan Membaca Alquran dengan Terburu-buru ~ 257

§  Perhatikanlah Makananmu ~ 160

§  Perhatikanlah dari Apa Manusia Diciptakan ~ 264

§  Jangan Hardik Orang Meminta ~ 133

§  Tetaplah Bekerja Keras ~ 266

§  Bacalah dengan Nama Allah ~ 268

§  Berkurbanlah  ~ 271

Penutup  ~ 273

Daftar Pustaka

Free Download : Buku - Ikutilah Apa Yang Telah Diturunkan Allah