Rabu, 29 Januari 2025

Buku: Kumpulan Khutbah Jumat, Hari Raya Id dan Ceramah-ceramah Ramadhan Muhammad Tahir HN

 

Judul : Kumpulan Khutbah, Hari Raya Id dan Ceramah-ceramah Ramadhan

Penulis : Muhammad Tahir, HN.

Penerbit : Tanda Pustaka

Cetakan I : Januari 2025


DAFTAR ISI

Pengantar : Menulis Tangan dengan Bahasa Arab dan Latin Untuk Materi Khutbah dan Ceramah-ceramah Keagamaan, oleh: Dr. Syafruddin Muhtamar, S.H., M.H.

Kumpulan-kumpulan tulisan tangan ini berisi tema khutbah dan ceramah yang beragam. Secara umum, berisi tentang :

1. Ciri-ciri Orang Beriman

2. Mensyukuri Nikmat Allah SWT

3. Bagaimana Mendapat Perlindungan Allah SWT di Akhirat

4. Tujuan Berpuasa Bagi Orang-orang Bertaqwa

5. Mengapa Manusia Harus Bertaqwa

6. Maulid Nabi SAW

7. Pesan-pesan Dari Nabi SAW

8. Puasa Sunnah 10 Muharram dan Hari Arafah

9. Obat Pembersih Hati

10. Kewajiban Mencari Nafkah

11. Amalan-amalan Bakti di Bulan Ramadhan

12. Hidup Di Dunia Tidak Abadi

13. Dua Peristiwa di Bulan Zulhijjah

14. Kisah-kisah Bencana Dalam al-Quran

15. Macam-macam Doa yang dianjurkan

16. Tata Cara dan Doa Memandikan Jenazah

17. Dan lain-lain, sebagainya.


Tentang Penulis


Muhammad Tahir, HN., BALahir di Desa Biccoing, Kecamatan Tonra, Kabupaten Bone / 22 April  1944. Dari seorang ayah bernama Haji Nurdin, dan Ibu bernama Hj. Fatimang. Ketika masih belum usia sekolah, beliau sudah dibawa oleh kedua orangtuanya merantau, ke Tanah Melayu, Sumatera, Provinsi Riau. Menikah dengan Marwah Binti Muhammad Idris (alm.), dikaruniai 6 orang anak dengan beberapa orang cucu.

Menempuh Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah, tahun 1954 dan tamat tahun 1960. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) tahun 1960 dan tamat  tahun 1963. Selanjutnya, masuk  Sekolah Menengah Atas (Aliyah) tahun 1963, tamat tahun 1966. Pendidikannya berlanjut ke Perguruan Tinggi, di Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang, Sumatera Selatan tahun 1966, yang gelar diplomanya diraih tahun 1969.

Setelah selesai dari Perguruan Tinggi, beliau menjadi tenaga pengajar atau guru di Yayasan IBA, dari tahun 1969 sampai tahun 1971. Setelah itu, tahun 1971 sampai 1974, memilih menjadi wiraswasta.

Sambil berwiraswasta, beliau kembali mengajar tahun 1975 sampai 1985, di Madrasah Tnasawiyah. Setelah kembali ke Sulawesi Selatan, beliau menjadi pengurus sebuah koperasi, KUD Beringin, dari tahun 1987 sampai 1996. 

Kegiatan menyampaikan khotbah dan ceramah-ceramah, telah ditekuninya sejak tahun 80-an di tanah Melayu Riau, hingga tahun 2000-an di Tanah Bugis.



 


Selasa, 14 Januari 2025

MENGEJA UJAR BATIN SYHARIAR TATO DALAM EPISODENYA ‘MENGEJAR TAPAK ALLAH’


Setiap disodori untuk 'membicarakan karya seorang sastrawan', saya selalu merasa 'berat'. Saya lebih menyukai sebuah karya sebagai santapan untuk 'kenimatan rohani' saja. Tanpa harus menilainya secara rasional-metodologi, untuk memberikan kesimpulan mengenai 'baik' atau 'kurang baik'nya karya tersebut, dan lain-lain.

Saya hanya penikmat tradisonal karya sastra. Sastra salah satunya, dapat menjadi sumber untuk mencari 'kebahagiaan jiwa primordial'. 

Ketika ketua IPMI menyodorkan "Mengejar Tapak Allah -- Siluet Cinta" karya Syahriar Tato, untuk dibaca dan 'dibincangkan', saya terpaku pada dua kata pada judul itu:  ALLAH dan Cinta. Tapi hatiku jatuh kepada, puisi-puisi yang di beri judul "Mengejar Tapak Allah".

Lalu pikiran saya bertanya: apakah ini puisi-puisi sufistik atau religius? Dan terbayang olehku, seketika masthnawi dan rubaiyat-nya Syekh Jalalunddin Rumi, yang sering dikomentari sebagai 'samudera kebijaksanaan yang tiada bertepi'. Diwan --nya Al-Hallaj, atau puisi-puisi cintanya Rhabiatul al-Adawiyah. Atau dalam sastra sufi melayu, Hamzah Fansuri, dll.

Maka tentu tidak mudah memberikan semacam 'penilaian' atas puisi-puisi yang dikategorikan sebagai puisi sufistik/religius itu. Menggali makna dibalik kata, kalimat, frase, dan diksi yang digunakan sang penyair sufi, membutuhkan persepktif mengenai apa yang disebut 'jalan spritual'.

Yang secara umum, biasanya penyair sufi adalah juga seorang 'pejalan spritual', yang kemudian mensastrakan 'kisah indah, getir dan pilu' perjalanan rohaninya. Sehingga puisi atau sastra dan media seni secara umum, menjadi sarana estetik mentransformasikan pengelaman rohani atau religius mereka.

Dan, sastra yang dihasilkan baik dalam bentuk sajak, puisi, pantun, maupun kisah-cerita, menjadi 'ujar-ujar' batin sang penyair. Dan 'mengejanya' dalam rangka memberi nilai kontekstual dan rasional, adalah sebuah usaha yang absurd, karena 'sifat absurditas' dari sastra yang lahir dari Rahim 'jalan spritual' itu sendiri.

Namun absurditas katakanlah dalam puisi sufistik, merupakan 'makanan sehat' bagi jiwa yang kering. Absurditas disini lebih tepat dimaknai sebagai 'hikmah tersembunyi dan tak terkatakan'.

Maka, untuk memulai 'mengeja' batin sang penyair dalam 'episode mengejar tapak Allah', dapat dimulai dengan suatu adigium/perspektif dunia sufistik, yang menyebut "awal agama adalah mengenal ALLAH".

Eksistensi Allah lebih dahulu dari agamaNya atau perintah SyariatNya.

Maka mengenal ALLAH melalui 'jalan spritual' adalah tujuan setiap syariat yang dibebankan kepada mahluk.

Yang umum kita pahami, bahwa 'Jalan spiritual' melewati syariat, tariqah, hakikat lalu makrifat. Menurut para ahli, 'perjalanan' itu dimuali dengan niat dan/atau himmah yang kuat, apakah berdasar pada cinta, harap atau juga rasa takut.


Melalui 'jalan' Cinta, Harap dan Takut

"Episode Mengejar Tapak Allah" membentangkan sebanyak 81 rangkaian bagian puisi. Yang jika berdasarkan 'teori jalan spiritual' tersebut, apakah setiap bentangan puisi-puisi ini adalah gambaran jalan cinta, jalan harap atau jalan rasa takut, sang penyair?

Sehingga, judul "Mengejar Tapak Allah' tergambar pada setiap bagian 'etape-etape perjalanan' sebagai suatu usaha estetik dari suatu niat/himmah untuk 'berlari' menuju 'tapak' Allah.

Kata 'mengejar' secara umum diartikan sebagai berlari, memburu atau berusaha dan berkeinginan keras. Maka 'mengejar dalam judul dapat ditafsirkan sebagai 'usaha atau keinginan keras untuk mendekat' kepada Allah melalui 'tapakNya'.

Kata 'tapak' juga multi tafsir menurut leksikonnya: dapat diartikan sebagai bidang tanah; kaki; bisa juga bekas sesuatu yang tertinggal. Maka 'tapak Allah' dalam judul dapat dimaknai secara langsung sebagi 'tanah allah', 'kaki allah' atau 'bekas yang tertinggal dari Allah'.

Nampaknya maksud sang penyair melalui judul "Mengejar Tapak Allah" dapat dimaknai, sedang berusaha dan berniat dalam kesungguhan yang dalam, untuk mendekat kepada Allah melalui tapakNya. Tafsir ini dapat dikonfirmasi melaui 2 bagian dalam puisi (P) panjangnya, awal  dan akhir. (P. no. 1 dan P. no. 81).

Kita mulai dari etape akhir dari episode 'perjalanan sang penyair' ketika sang ia menutup puisinya:

Sepasang kaki fanaku yang kerdil//Berlari melintasi ruang dan waktu//dengan tasbih ditangan erat tergenggam//berlari menyusur bentang fanaku//...//mengejar tapakmu Ya Rahman//kebatas kuasa malaikat dan waliullah//kebatas harapan ummatmu yang pilihan. (P. No. 81)

Setelah sang penyair memulainya dengan pengakuan penghambaan, sebagai mahluk yang tidak berdaya. Dan karenanya tidak menemukan jalan apapun, kecuali memenuhi panggilan untuk datang kepadaNya:

Ya Rabba'Arsy//Aku hanyalah debu sebesar zarra//Yang telah engkau panggil//Dengan isyarat bintang//tidak lain untuk bersujud ke tapakMu. (P. No. 1)

Untuk mengetahui 'tapak Allah" yang dimaksudkan penyair dalam judul, dan merupakan batas akhir dari perjalanan spritualnya dalam usaha mendekat kepada Allah, maka 'tapak Allah' dapat saja kita maknai sebagai, nama-nama Agung Allah SWT, yang banyak disebutkan sang penyair dalam panjang episode perjalanan batinnya: Ya Allah (rab arsy) (P. No. 1 dan 45); Ya Mutakabbir (Yang Maha Megah, yang memiliki kebesaran) (P. No. 3); Ya Kabir (P. No. 3); ya Rahman (P. No. 6); Ya Gaffar (P. No. 8); ya Rahim (P. No. 9); ya Khalid (P. No. 12); ya Mujib (P. No. 19); Ya Qayyum (P. No. 26); ya Hafiz (P. No. 27); ya Malik (P. No. 28); ya al -- Awal (P. No. 30); ya Ragib (P. No. 33 dan 34); ya Attawwab (P. No. 35); ya Muqaddim (P. No. 38).

Nama-nama Agung itulah menjadi 'tapak' bagi menyair melakukan episode perjalanan rohaninya untuk mendekat kepada Allah SWT. Dihadapan nama-nama itu sang penyair bersimpuh dalam cinta, dalam harap dan mungkin juga rasa takut: mengungkapkan 'keresahan jiwanya' dari apa yang telah meresahkannya dalam kehidupan.

Melalui nama-nama itu sang penyair menyadarkan batinnya yang rapuh, untuk meraih energi batin sejati, dengan berkata:

Aku menggenangi batinku dengan 99 namaMu//menyebut satu persatu asmaMu//diatas gebalan sajadah putihMu//sambil menyerap energy fajar//yang diselimuti embun pagi//hanya kepadaMu ya Allah kami bersujud. (P. No. 13)

Ada keluhan menarik sang penyair di tengah episode perjalanan rohaninya ini, yang menggambarkan betapa sang penyair dapat saja terjebak olehnya. Bahkan pada umumnya manusia yang hendak melakukan perjalanan rohani, dan sangat mengkhawatirkan jiwa, sang penyair menulis:

Ya Allah//Di dalam kegelapan//Aku melihat iblis//Tengah memasang Jebakan//bagi langkah-langkahku//Perangkap bagi siapapun. (P. No. 40)

Dalam tradisi sufistik, perjalanan rohani adalah perjalanan 'menuju Cahaya' dan tentu dalam prosesnya sang penempuh jalan (salik), dia harus melewati 'tahap-tahap kegelapan'. Terminologi sufi menyebut, nafs/ego adalah kegelapan, disanalah iblis ini memainkan peranannya dalam jebakan yang sedemikian rupa, hingga tidak mudah untuk lolos darinya, tanpa melalui suatu 'pertolongan keberkahan' dalam perjalanan itu.

Namun jika, nafs telah dilampaui, sejak dari nafs al-ammarah, nafs lamawaa, hingga ketahap akhir nafs al mutmainnah, maka olehNya, disibaklah secara perlahan "cahaya' yang menjadi tujuan utama perjalanan itu. Oleh sebagian orang menyebut, pada tahap itulah, ada "pertemuan denganNya". 'Pertemuan' dengan Allah SWT.

Dalam episode perjalanan spiritual "Mengejar Tapak Allah" ini, sang penyair juga 'memberi kesan atau isyarat' telah 'tiba' pada tahap 'perjumpaan', sebagaimana digambarkannya dalam bagian akhir puisi, menjelang ditutup, sang penyair berujar:

Diketika kululuh//dikedalaman dekap pasrah nuraniku//Diketika ubunku dingin//menyentuh padang ilalang putih//Diketika seribu malam//seribu bintang bertabur cinta// Diketika itu kutemukan Engkau// ya Allah ya Rabbi// ... //Kupeluk Engkau ya Rahman//dan peluklah aku//Aku milikmu//dalam fana dan baqaku. (P. No. 80)


Pentutup

Rangkaian puisi-puisi dalam "Mengejar Tapak Allah" karya Syahriar Tato, meskipun tidak dimaksudkan sebagai suatu perjalanan rohani secara 'kronologis', secara keseluruhan dapat dikatakan pusi-puisi yang termuat, sebagai 'puisi zikir'. Mengingat banyaknya 'nama-nama Agung Allah SWT' yang disebutkan, dan menjadi awal dan akhir dari 'hasrat batin penyairnya', maka usaha estetik ini adalah sebuah 'ritual zikir' dalam bahasa puitik.

Nama-nama agung asmaulhusna yang disebutkan, sekaligus menjadi 'muatan nilai' paling fundamental dari puisi-puisi yang disajikan. Karena nama itulah, sesungguhnya yang diperlukan secara fitrawi dari jiwa primordial manusia, sebagai 'debu sebiji zarra' yang disebutkan penyairnya.

Nama-nama itu menjadi semacam 'asupan gizi paling lezat' dari jiwa kita yang kerontang dari 'sejuknya titik-titik hujan surgawi'.

Penyair sudah menyuguhkan kepada pembaca sebuah 'tawaran nilai' paling angun dalam pusi-pisinya ini.

Mengenai absurditas 'perjumpaan' penyair dalam "Mengejar Tapak Allah" nya ini. Adalah sisi lain yang mugkin 'tetap bersoal', dalam pengertian 'perjumaan hakiki', sebagai buah perjalanan rohani, yang bersifat 'makrifat'.

Maka, biarlah hal tersebut, menjadi milik sang penyair, dan/atau milik pribadi-pribadi yang 'menempu jalan rohani' dalam kehidupannya.

SM. 9/1/2025

Minggu, 12 Januari 2025

BERBAGI KISAH KENANGAN DI MEJA KOPI (SILATNAS MILAD KE 53 FH-UMI)

Milad ke 53 Fakultas Hukum UMI, yang dilaksanakan 11 Januari 2025 lalu, menjadi momen indah angkatan 1997. Momen itu memperjumpakan beberapa sahabat seangkatan S1 di FH-UMI. 

Pagi-pagi buta, kami sudah meninggalkan rumah, menuju ke kampus hijau UMI, untuk bergabung dengan angkatan lain, yang turut serta dalan jalan santai Silatnas Milad FH-UMI ke 53. Yang dalam jadwal, starnya pada pukul 06.30 pagi.

Saking semangatnya, seorang kawan angkatan 97 bahkan tiba dikampus setengah lima. Saya membayangkan beliau sholat subuh dulu di mesjid Umar Bin Khatab, depan Fakultas Hukum. 

Saya tiba saat mendung sudah lewat. Awan langit mulai sedikit menampakkan cerahnya. Tapi udara pagi sedikit dingin. Teman-teman angkatan 1997, sudah berkumpul di jalanan parkir. 

Saya menghampiri kawan-kawan yang sedang berdiri membentuk lingkaran. Hampir dua dekade berlalu, saya baru bertemu kembali wajah-wajah sahabat seangkatan di FH-UMI ini. 

Saya menjabat tangan mereka satu persatu, tidak ada yang asing. Mekispun jarang bertemu, namun hati kami tetap karib rasanya.


Ada Awal, Anca, Didit, Rahmat, Aldi, Haerun, Anci, Amin dan Ari. Hanya sebagian kecil dari sekitar 40-an jumlah kawan-kawan yang masuk FH-UMI tahun 1997, ketika itu. 

Di acara gerak jalan, seorang kawan datang terlambat, Awi. Budi, datang setelah kawan-kawan ngobrol bareng di sebuah cafe. 

Beberapa kawan lain hanya sempat saling menyapa melalui Video Call, seperti Haedar dan kalau tidak salah, juga Sulmar. Atau juga seorang kawan perempuan, Egi dan Erna.

Kami hanya saling menyebut nama panggilan, sama ketika di masa-masa kuliah dulu, di FH-UMI. Ini keakraban khas kawan seangkatan, tanpa mengurangi rasa hormat kami masing-masing. 

Mekipun sudah 'menuju tua', tapi canda dan obrolan ala mahasiswa S1, tidak bisa dilepaskan. Hal ini yang menjadi 'api semangat' dalam temu rindu seperti ini.

"Inimi yang kasi awet mudaki. Ketemu dengan teman-teman lama dan bercanda", kata seorang kawan di selah ngobrol di cafe kopi, usai jalan santai Silatnas.


Hampir separuh siang, kawan-kawan angkatan 1997  habiskan waktu berbagi cerita, di meja kopi panjang cafe. Gelak tawa dan keceriaaan memenuhi udara cafe, tentu berkelindan dengan kepul asap rokok yang mengabut.

Banyak cerita, kisah dan kejadian yang dikenang-kenang dalam obrolan yang penuh rasa persaudaraan dan keakraban. 

Seluruh cerita dan kisah banyak mengandung kelucuaan yang menggelitik. Bahkan ada juga kelucuan yang menggelikan. Ada yang melankolis, mengenai kisa cinta yang 'romantis'. Tapi ada juga kisah cinta yang 'tragis'. Ada keisengan dan 'kenakalan remaja'.

Kadang juga diselingi kisah 'getir', bila tiba waktunya bayar SPP. Maka tibalah waktunya membuat 'lakon drama komedi'. 

Banyak kenangan yang tidak bisa terhapus dalam memori, mengenai masa-masa kuliah S1 di FH-UMI.   

Tapi yang paling berkesan, adalah kisa-kisa, ketika kawan-kawan anggatan 1997, berfungsi sebagai 'agen perubahan'. Mereka terlibat dalam aksi-aksi demontrasi, baik untuk merespon problem nasional, lokal maupun internal kampus.

Mengingat bahwa keberadaan angkatan 1997, adalah masa-masa transisi politik nasional, dari kekuasaan militerisme orde baru ke kekuasaan civil era reformasi. 

Sehingga angkatan 1997 menjadi bagian dari proses dan dinamika transisi kekuasaan tersebut. 

Usai mengerjakan shlat Dhuhur berjamaah, di Mesjid Umar Bin Khattab. Mesjid dalam lingkungan UMI, dan posisinya pas depan FH-UMI.  Rahmat, terkenang binatang biawak, yang dulu memang sering muncul, ketika mesjid ini belum direnovasi sebesar sekarang. 

Era kami 1997-2001, mesjid ini masih berukuran sedang, jika dibandingkan sekarang. Tetapi ukuran sedang itu, sudah sangat besar di era itu. 

Lokasinya memang seperti rawah dahulu. Sehingga sering para biawak itu juga masuk ke mesjid. Mungkin untuk memastikan, apakah angkatan 1997 datang shalat atau tidak? hehe. 
Setelah shalat dhuhur di mesjid UMI, kami bergeser untuk melanjutan nostalgia angkatan di meja makan. 

Inisiatif awal di warung coto. Warena warungnya tutup, kami memutar haluan ke warung 'sunda tradisional' di bilangan hertasing.

Babak ke dua berbagi kisah kenangan kembali alot. Usai santap siang, kopi hitam  hadir lagi menemani semangat silatnas rindu angkatan 1997. 

Kali ini muncul inisiatif, untuk menggagas silaturahmi angkatan 1997, di 'sebuah pulau'. Sebuah gagasan awal yang baik, untuk terus merawat tali silaturahmi angkatan, yang memiliki akar historis yang tak terlupakan, dalam satu fase usia ketika menuntut ilmu di FH-UMI.

Siang makin mendekati sore. Kami berpamitan dalam rangkul dan jabat hati yang tulus. 

Rangkulan itu, seolah seperti doa: semoga kita semua sehat wal afiat, untuk bersua kembali dalam cinta dan kasih sayangNya. 



   

Minggu, 05 Januari 2025

Buku: HASRAT TAK BERNALAR (Tragedi Mei 2004 UMI Makassar)


Judul : HASRAT TAK BERNALAR (Tragedi Mei 2004 UMI Makassar)

Penulis: Shaff Muhtamar

Pengantar : Prof. Dr. Hambali Talib, SH., MH.

Penerbit : Ombak Yogyakarta


DAFTAR ISI :

I. Tutut Pembuka

Kembali ke diri, Menilik Akar Kekerasan

Bayang Hitam Kekerasan di Jalan Raya


II. Tutur Tragedi

Rebutan Belanja di Pasar Politik

Putuslah Asa Membakar Loreng

Tidak Ada Mimpi Buruk Malam ini

Tugu Sederhana Berubin Merah Darah

Demo Gado-gado

Tilik Sandi Datang Melapor

Yang Tak Nyana Yang Tersandera

Tamu Terhormat Berseragam Coklat

Ada tangan Hantu Melempar Batu 

Dll ...


III. Tutur Penutup

Negara Berbaju Loreng: sebuah ingatan sejarah

Pentas Kekerasan Tanpa Lelah, dan Layar Segera Ditutup

Kronologis Tragedi Mei UMI

Jumat, 03 Januari 2025

CERPEN: Ali Kaliyev Dan Roman Nagarenko

 

Aku banyak mengenal wisatawan asing di pulau Bali. Mereka datang dari berbagai negara di dunia. Selama bertahun-tahun, karena sering bertemu, aku menjadi peka mengenali asal usul kebangbangsaan orang-orang itu. Baik dari postur badan, warna kulit, maupun rambut mereka.

Sekitar 4 atau 5 tahun lalu (tidak pasti dalam ingatan), aku bertemu Roman Nagarenko. Seorang warga Ukraina. Mengenakan kaos berwarna jingga cerah, ketat membalut badan tegapnya yang berotot. Mengenakan celana jeans coklat susu panjang, sedikit longgar.

Roman bertanya dalam bahasa inggris yang tidak lancar, tetapi mudah bagiku memahami maksudnya.

Waktu itu, Roman bermaksud menggunakan jasa rental mobil miliku. Untuk penggunaan 2 hari, lepas kunci, kuberi sewa dengan kesepakatan Rp. 200.000,-. Roman menambahkan Rp. 200.000,- dan meminta aku langsung yang menyopirinya. Aku bilang ada driver khusus. Roman meng-oke-kan saja.

Mengingat lokasi tujuannya, daerah wisata pavorit, hitung-hitung mengambil rehat.  Sejenak menjauh dari kebisingan di pusat kota Bali, maka kurelakan diriku menjadi sopir, menuju ke selatan Kota. 

Langit Kota Denpasar berwarna kelabu gelap, ketika mobil kulajukan ke arah Kabupaten Kuta Utara. Di sepanjang jalan, nampak gumpalan-gumpalan awan tipis membawa mendung.

Sejak meninggalkan jalan nakula, hingga beberapa menit hampir tiba di jalan pemelisan agung, Roman Nagarenko tidak banyak bicara. Hanya sesekali, memberi isyarat jika laju kendaraan berjalan dalam kecepatan tinggi. Si Ukraina ini, sepertinya seseorang yang penuh kewaspadaan.

Tetapi, dengan seseorang di smartphonenya, Roman bicara tanpa jedah panjang. Kedengarannya sangat cerewet dan mendominasi lawan bicaranya, yang entah di mana. Mereka memakai bahasa Ukraina sangat pasih. Aku tidak banyak perduli arti bahasa mereka.

Hanya kupandangi, titik-titik air hujan yang berjatuhan di atas kaca mobil. Ada gerimis. Tiba-tiba ada kilatan api memanjang di awan kelabu yang juga makin menebal. Sedikit ada rasa cemas yang menggelayut. Apakah segera akan datang petir menyambar dan hujan lebat di Kuta Utara? Bulan november di Bali memasang sedang memasuki awal musim penghujan.

"Stop, stop ..." Roman menunjuk ke sebelah kiri ke sebuah gerbang perumahan. Di depan sebuah dinding bertuliskan "Villa Matahari", aku hentikan kendaraan.

Roman memandang kiri dan kanan dalam mobil. Merabah-rabah kedua kantong belakang dan depan celananya. Meraih sebuah tas tangan kulit berwarna hitam, yang tergelatak disampingnya. Dia sedang memastikan tidak ada yang tertinggal, ketika meninggalkan mobil.

Seorang wanita berambut halus agak kemerahan sedang menunggunya, di loby kantor perumahan villa matahari. Dari balik kaca, mereka nampak sedang berbicara satu sama lain, sambil berdiri. Tangan keduanya saling begerak. Telapak tangan mereka bolak-balik di udara. Saling terseyum satu sama lain. Sesekali, tampak tertawa senang. Beberapa saat kemudian, wanita itu mempersilahkan Roman duduk di sebuah kursi kayu antik dalam ruangan yang berdidinding kaca.

"Disitu aku terakhir melihat wajah si Ukraina ini", kataku kepada Ali Kaliyev, seorang warga Rusia. Aku sedang basah-basih perkenanalan saja.

Menceritakan seorang warga Ukraina yang pernah aku kenal. Aku menceritakannya, karena sedang hangat berita perang antara Rusia dan Ukraina. Ali Kaliyev sama sekali tidak menanggapi ceritaku tentang orang Ukraina itu.

"Saya sudah hampir dua minggi di Indonesia. Saya tiba di Jakarta tanggal 5. Langsung dijemput oleh kerabat seorang sahabat Indonesia saya di Rusia. Sahabat saya itu seorang tenaga kerja asing di sana. Saya minta diantar ke Hotel, tapi kerabat sahabat Indonesia saya ini, sudah menyiapkan rumahnya untuk isterahat," cerita Ali Kaliyev dalam bahasa inggris dialek Rusia.

Ini adalah kunjungan pertamakali Ali Kaliyev di bumi pertiwi Indonesia. Menurut pengakuannya, dia menyukai berlibur setiap tahun di negara-negara muslim. Setiap liburan tahunan itu, ia sering membawa serta istri dan anaknya.

"Kami menyukai berwisata spiritual bersama keluarga. Melihat-lihat dan mengambil pengetahuan dan keberkahan dari tempat-tempat bersejarah dan disucikan oleh kaum muslim di berbagai negara. Kami mengunjungi makam-makam para waliyullah dari tariqah Naqsyabandiyah. Seperti ke kota Tashkent dan Samargand di negeri Usbekistan. Kebetulan tidak terlalu jauh dari negeri kami. Bersiarah ke makam  Syah Bahauddin Naqsybandi dan makamnya Syekh Abdul Khaliq al-Ghujdawani di Ghujdawan, dekat Bukhara. Pernah juga ke Yaman dan Pakistan, bahkan Negara India dan Srilangka, negeri tempat turunya nabi Adam AS." Ali Kaliyev sedikit berpanjang-lebar mengenai kunjungan wisatanya di beberapa negara Islam.

"Kemarin di Jakarta, saya mengunjungi Masjid Itiqlal. Ziarah ke makam tokoh penyebar Islam di Batavia, Habib Abdurrahman di Cikini. Ke masjid Luar Batang, dan ziarah ke makam salah seorang alim ulama besar, Al-Habib Husein Alaydrus. Yang sebenarnya tujuan utama saya, mengunjungi maqam wali songo yang sangat terkenal itu," lanjut Ali Kaliyev.

"Saya mengunjungi sekolah Islam at-Taufiqy untuk juga ziarah ke makam Syekh Abdullah al-Khani, khalifah dari Syekh Abdul Khalid al-Baghdadi, salah seorang pendiri tariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah. Lalu ke sekolah Islam Suryalaya di Tasikmalaya, sekaligus ziarah ke makam Shohibul Wafa Tajul Arifin, Mursyid Tarekat Qadiriah wa Naqsybandiyyah. Keduanya pernah dikunjugi ulama sufi asal Turki, Sultan Awliya Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani tahun 2001," Ali Kaliyev sangat fasih menyebut nama pesantren yang ada di Pulau Jawa itu, sekaligus nama ulama-ulamanya.

Kadangkala jika ketemu wisatawan asing yang ingin menggunakan jasa rental mobil, aku tidak ambil pusing mengenai cerita panjang lebar mereka. Aku hanya berfokus ke tujannya kemana, berapa lama pemakian mobil, lepas kunci atau ditemani driver.

Tapi tidak dengan Ali Kaliyev. Aku senang-senang saja, dan memperhatikan ceritanya. Beberapa turis cerewet, suka memuji-muji kehebatan negara asalnya, terutama turis dari negara Paman Sam.

 "Ke Indonesia ini, saya datang sendiri," Kata Ali Kaliyev lagi.

"Saya tidak membawa keluarga. Karena rencana hanya sebentar saja. Sisa liburan nanti kami akan gunakan di rumah, disana di daerah asal kami di Dagestan. Kebetulan ada acara keluarga. Asul-usul masyarakat muslim Rusia adalah dari wilayah Dagestan. Sekarang Dagestan menjadi republik yang otonom dalam negara federasi Rusia, "... kata Ali Kaliyev, namun terpotong.

Entah mengapa aku langsung memotongnya, dengan tiba-tiba bertanya, "Apa mahsab orang Islam di Rusia?

"Syafii, mahsab Syafii. Tapi Islam Dagestani itu berkembang dalam bentuk khalaqah sufisme, melalui tariqah Naqsyabandiyah. Dan itu sangat mempegaruhi pemerintahan repulik Dagestan, hingga hari ini. Keluarga besar kami, kakek-kakek buyut secara turun temurun mempraktikkan ajaran Syah Bahauddin Naqsybandi. Dalam ibadah keseharian, kami menganut mahsab Syafii" jawab Ali Kaliyev dengan lanjar.

Aku seperti tidak sadar. Meminta Ali Kaliyev masuk ke ruang tamu rumahku, yang ada di samping kiri. Biasanya tamu calon kostumer, hanya aku layani di ruangan kantor rental mobil. Tidak lebih.

Ali Kaliyev nampak segan menerima tawaran itu. Namun dengan aku sedikit memaksa. Akhirnya Ali Kaliyev masuk dan duduk di kursi ruang tamu.

Tidak seperti biasanya tamu yang berkunjung kerumahku. Ali Kaliyev tidak memandang kiri dan kanan. Ataupun medongak, untuk menelisik lukisan Bali di dinding dan beberapa benda antik khas Bali, yang terpajang dan tertata rapi.

Hiasan itu, sebagai pemanis ruangan tamu. Juga untuk melestarikan budaya sebagai masyarakat Bali. Istriku termasuk pencinta barang-barang seni. Dan seorang menghobi benda-benda kuno. Aku sendiri lebih banyak tenggelam dalam kesibukan bisnis rental mobil.

Ali Kaliyev tenang saja. Duduk tanpa ada reaksi terhadap lukisan Bali klasik mengenai epos Ramayana. Lukisan yang biasanya banyak dipuja-puji wisatawan. Keramik berupa guci dan piringan. Bahkan ada keris antik, yang berkaitan sejarah kerajaan-kerajaan di Bali. Ali Kaliyev hanya memandangnya sepintas lalu, tanpa komentar.    

Aku berpikir Ali Kaliyev datang ke Bali, bukan karena 'keistimewaan' itu. Atau keindahan pulau dewata semata-mata. Tetapi mungkin karena kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam agama, tetapi hidup dalam kerukunan yang terjaga.

"Saya ingin berkunjung ke Desa yang penduduknya beragama Islam di sini. Menurut cerita sahabat Indonesia saya, mereka hidup berdampingan dengan masyarakat yang mayoritas beragama Hindu, di Bali ini, " Ali Kaliyev menunjukkan minat wisatanya ke Bali.

"Silahkan dicicipi, Tuan Ali," kataku sebelum menanggapi keingiannya.

Aku menujukkan kepadanya segelas es kuwut segar yang terhidang dihadapannya. Es kuwut itu aku pesan diam-diam melalui istriku di dapur, tadi.

"Alhamdulilah, segar sekali. Manisnya lembut. Dan, alhamdulillah ... aku pertamakali mencicipi minuman seperti ini. Minuman apa namanya, gurih.." Ali Kaliyev meneguk dan menyendok berkali-kali minuman itu, secara perlahan ke mulutnya.

"Alhamudlilah," katanya sekali lagi. Aku mengangguk dengan senyuman senang kepadanya.

"Semoga Allah SWT, memberikan banyak rahmatNya kepada anda dan sekeluarga", kata Ali Kaliyev lagi, sebelum sempat aku menimpalinya.

"Itu minuman kuwut namanya kalau di sini. Sejenis minuman khas tradisional Bali. Hanya saja ini dicampur dengan sedikit es, jadinya es kuwut. Ada namanya minuman tambring, daluman, ada juga arak, bir Bali (non alkohol), ancruk loloh dan cemcem, juga kopi Bali," jawabku lancar menjelaskan ragam minuman tradisional Bali. Sudah menjadi kebiasaanku jika berhadapan turis-turis asing.

"Yaa, Bali sangat dikenal dunia dengan keindahan alamnya. Masyarakatnya juga yang masih memegang teguh adat-istiadatnya dalam keseharian mereka. Saya banyak info dari teman Indonesia saya, mengenai Bali", katanya menimpali perkataanku.

Kesannya ingin memuji es kuwut yang sudah berkurang hampir setengah di mangkuknya. Dan mungkin juga bermaksud berterimakasih untuk menyenangkanku.

Tetapi terus terang saja, sosok Ali Kaliyev dalam persaanku memiliki 'keistimewaan' tersendiri. Aku selalu merasa senang ingin melayaninya. Sejak perhadapan dengan wajahnya yang 'seperti' mengandung aura kebaikan. Bahkan suaranya, ketika sedang berucappun, rasanya menembus hati. Aku terhipnotis.

"O ya, Tuan Ali, mengenai maksudnya hendak berkunjung ke Desa muslim ..., Di Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara, memang ada sebuah Desa yang penduduknya banyak beragama Islam. Desa Pegayaman namanya. Tradisi masyarakat Islam di Desa itu telah menyatu dengan budaya lokal, misalnya tradisi maulidan, hari lebaran dan acara-acara Islam lainnya. Biasanya tradisi itu berlangsung dengang saling bergotong royong antara pemeluk agama disana. Kalau di sini, di Bali namanya tradisi Ngejot", kataku kepada Ali kaliyev, mencoba memberikan penjelasan. Aku berusaha menggunakan bahasa Inggris yang sedikit formal.

Berharap dia mendapat gambaran tentang Desa Pegayaman di Kecamatan Sukasada itu. Agar makin besar ketertarikannya untuk berkunjung. Saya juga merasa aneh dengan motif wisata Ali Kaliyev ini, jika dibandingkan dengan turis lain. Selama aku banyak berinteraksi dengan wisawatan mancanegara, tidak pernah menerima order untuk tujuan wisata semacam minat Tuan Ali ini.

"Tuan Ali, aku yang akan menemani langsung anda berkunjung kesana. Saya geratiskan biaya driver dan fee sewa kendaraan. Cukup beli bahan bakar bensin saja selama kunjungan, pergi dan pulang. Dan, di sekitar wilayah Buleleng ada teman pemilik villa, yang bisa kita gunakan untuk penginapan beberapa hari. Garansi sewa villanya, cukup bayar dengan standar pertemanan saja, tuan Ali," kataku serius.

Aku menawarkan jasa ringan kepada Ali Kaliyev. Yang aku telah 'seperti saudara' dengannya, walau hanya dalam pertemuan singkat. Aurah kepribadian yang memancar dari dirinya, sekali lagi mendorongku bermurah hati kepadanya.

Ali Kaliyev terdiam cukup lama. Lalu menatapku dengan lembut. "Alhamuddulillah, Tuan Wayan anda baik sekali. Saya tidak tahu bagaimana berterimakasih, anda telah menerima saya layaknya saudara. Jamuan di rumah pribadi anda dan tawaran layanan bisnis yang sangat memudahkan urusan. Saya berdoa semoga Allah SWT, memberikan bayak rahmat kepada anda dan keluarga anda, dan banyak berkah dengan perusahaan anda ini," Ali meraih tanganku dan menyalaminya.

"Jika boleh, siang ini kita berangkat. Saya akan kembali ke hotel untuk cek out, setelah itu kita langsung menuju ke apa itu.. Bu le leng, di Desa itu," kata Ali Kaliyev, mencoba mengingat nama-nama daerah yang aku sebutkan tadi.

Dari kota Denpasar ke Buleleng, jika perjalanan normal, dapat ditempuh 2,5 jam. Tapi jika ramai kendaraan di jalan, bisa 3 sampai 4 jam perjalanan. Banyak lajur yang bisa ditempuh menunju ke wilayah bagian utara Bali itu.

Jalur klasik dan yang umum. Jalur umum menempu Singaraja-Bedugul, lewat Kintamani. Yang kalsik, lewat Petang (jembatan Tukad Bangkung), konon, jembatan terpanjang di Bali dan tertinggi se Asia Tenggara.

Aku memilih jalur umum untuk saudaraku Ali Kaliyev, yang kali pertamanya ke pulau Bali.

Selepas waktu shalat dhuhur, dan setelah menikmati sate lilit dan bebek bengil, hidangan pesanan istriku, kami meninggalakan kota Denpasar menuju Buleleng. Langit Kota Denpasar cukup cerah, ketika kami meninggalkannya.

Kurang lebih 1,5 jam perjalanan menempuh jalur Denpasar-Kintamani, mobil aku tepikan di sebuah kedai kopi pinggir jalan, dekat danau. Hampir jelang sore, kabut tipis menaburi bukit-bukit kecil di sekitar danau. Hembusan udara sejuk, menghilangkan penat perjalanan. Kami memasan kopi hangat khas kintamani.

Ali Kaliyev sangat menikmati. Raut wajahnya tidak berubah sejak awal perjalanan, tetap cerah dan segar. Seolah seluruh wajahnya adalah seyum kebahagiaan.

"Pemandangan alam di Bali memang Indah, masyaAllah," kata Ali Kaliyev sambil mengangkat cangkir, untuk menyeruput kopi hangatnya. 

"Daerah ini namanya Kintamani, danau yang sebelah sana itulah danau Batur. Daerah ini, dijuluki daerah berselimut kabut, terutama bulan november dan desember. Ini juga danau terluas di pulau dewata atau pulau Bali. Gunung yang sebela kiri itu, namanya gunung Batur. Sebelahnya lagi gunung Agung. Seperti dua gunung kembar kan?" kataku sambil tersenyum dan menunjukkan arah tempat-tempat itu.

Sesekali Ali Kaliyev beranjak meninggalkan kedai. Di luar, dia nampak sedang mengabadikan dengan smartphonenya, hamparan danau dan dua gunung yang sedang berbaring disisinya, berselimut kapas putih yang tipis.

"Ini wilayah pegunungan di provinsi Bali Utara. Sebentar kita akan sedikit berbelok arah selatan melewati daerah Kubutambahan di Boengkoelan. Kita bisa juga, melihat pemandangan laut disitu, sebentar. Hanya sedikit melalui pesisir pantai, pendek saja," kataku lagi.  Kami berusaha tiba di wilayah tujuan Ali Kaliyev sebelum malam tiba.

"Mungkin sekitar 2 jam lagi dari sini kita akan tiba di Desa Pegayaman. Kita akan berbelok lagi, masuk ke arah pegunungan di Buleleng Utara." Lanjutku sambil menyelesaikan beberapa tegukan akhir kopi Kintamani yang tersisa dalam cangkir.

Udara dingin rasanya sudah hampir menusuk ke tulang, ketika kami tiba di gerbang Desa Pagayaman Kecamatan Sukasada. Gelap mulai merambah kebun-kebun warga. Beberapa pura besar dan kecil kami lewati, sepanjang perjalanan. Kami tidak bisa mengenali waktu melalui suara masjid.

Namun beberapa menit berselang, tampak sebuah masjid di ujung Desa, tidak jauh dari gerbang. Sedang membunyikan shwalat  jelang azan magrib.

"Kita boleh singgah di mesjid itu, mungkin saya akan shalat magrib disitu", kata Ali Kaliyev tiba-tiba, saat mobil melintas depan bangunan ibadah warga Islam di Desa Pagayaman.

Aku senang dengan permintaan itu. Agar suadara Ali Kaliyev bisa merasakan langsung obyek wisata yang diinginkannya ini. Berkunjung ke Desa Islam di pulau Bali.

Sebuah bagunan ibadah muslim. Gerbangnya berarsitektur khas Bali, tapi mesjidnya bangunan khas Jawa kuno. Beberapa warga sekitar nampak mulai berdatangan, untuk mengerjakan shalat magrib berjamaah. Ali Kaliyev juga sedang tekun membasuh muka dengan air wuduhnya.

Setelahnya, Ali Kaliyev tidak langsung masuk ke dalam masjid. Dia menyempatkan diri memandang-mandang di sekitar masjid. Mengamati warga yang sedang berduyung melangkah mendekati masjid. Kamera smartphonenya dia aktivkan sesekali, mengabadikan momen dan keadaan yang dia perhatikan.

Suara azan mulai dikumandangkan dari dalam masjid. Suaranya kedengaran nyaring dari toa yang bertengger di menara, depan kanan masjid.

Ali Kaliyev juga bergegas masuk. Beberapa mata jamaah masjid sering memandang ke arahnya. Memperhatikan sekujur tubuh Ali Kaliyev. Mungkin mereka bertanya, orang asing dari mana?

Setelah selesai berjamaah. Beberapa orang meninggalkan masjid. Lainnya, masih tinggal. Ada yang sedang duduk sendirian, memegang tasbih yang berputar-putar diantara telunjuk dan ibu jari. Ada yang membaca al-Quran, suaranya halus, nyaris tidak kedengaran.

"Assalamualikum mister!" sesorang menyapa Ali Kaliyev dan menyodorkan tangan untuk bersalaman. Salam itu dibalas Ali Kaliyev, dan menyambut tangan sang penyapa.

Aku langsung mendekat keorang tersebut. Ternyata imam jamaah sholat magrib tadi. Kami saling berkenalan dengan bahasa daerah Bali. Aku menjelaskan siapa dan maksud kedatangan wisatawan yang aku bawah ini.

Beliau menyebutkan namanya Ketut Ahmad Suharso. Salah seorang tokoh agama dan tokoh masyarakat di Desa Pagayaman dan sekaligus imam di masjid ini.

Kami duduk-duduk sejenak. Pak Ketut atau bisa juga dipanggil Pak Harso, banyak menceritakan sejarah asal usul masyarakat Islam di Desa Pagayaman. Sebuah buku diambilnya dari dalam rak masjid. Diperlihatkan kepada kami. Buku tentang sejarah Desa Pagayaman, yang beliau sendiri sebagai pengarangnya.

Ali Kaliyev sangat senang mendapat penjelasan dari Pak Ketut, ketika kusampaikan ulang apa yang dijelaskan oleh pak Ketut dalam obrolan itu.

"Saya bermaksud mengundang bapak-bapak  ke kediaman saya. Kita lanjutkan mengobrolnya di rumah saya, bisa lebih pajang lebar tentang Desa Pagayaman," pak Ketut menawarkan diri sebagai tuan rumah untuk kunjungan.

Dirumah Pak Ketut, kami disuguhi kopi hitam gula aren dan kudapan khas Bali. Gorengan pisang tanduk dan kue pisang rai. Pajang lebar Pak Ketut mengurai sejarah keberadaan orang-orang Islam di Desa Pagayaman. 

Usai shalat berjamaah isyah di masjid yang sama, kami bertiga menikmati suguhan makan malam ibu Luh Gede Mardewati istri Pak Ketut. Obrolan macam-macam tentang sejarah, dan tradisi nyawa salam (warga/saudara muslim) Desa Pagayaman, berlanjut hingga malam hampir larut. 

Bermula dari sebuah sumpah Ki Barak Panji Sakti, raja Buleleng untuk menaklukkan wilayah kerajaan Blambangan, wilayah Jawa Timur. Dengan bekerjasama Kerajaan Mataram Islam Jawa Tengah yang dipimpin Raja Amangkurat 1, abad 16.

Akhirnya Blambangan jatuh ke tangan I Gusti Anglurah Panji Sakti, Raja Buleleng. 100 orang laskar tentara muslim yang telah membantu, dibawa dari Blambangan. Diberi pemukiman di wilayah hutan gatep, kemudian diberinama Desa Pegayaman. Nama itu dari kata 'gatep' yang maknanya sama dengan 'gayam' dalam bahasa Jawa.

Agin sepoi kadang datang menyapa melalui jendela kayu yang terbuka. Menyelusup ke ruang tengah rumah. Cerita panjang pak Ketut aku simak seksama, ditemani suasana senyap Desa yang sunyi. Ada suara burung malam kadang-kadang melintas di langit gelap. Suara jangkrik yang mengkrikik sekali-kali, memecah sunyi.

Aku seolah terbawa pada sebuah kisah panjang, masyarakat Islam di pulau Dewata di Desa Pagayaman ini. Dan mulai memahami mengapa Ali Kaliyev ingin berwisata 'aneh' ke Bali. 

Sesekali Ali Kaliyev menyelah, "Islam, rahmatan lilalamin", dalam obrolan.

Akupun tidak lagi perlu menghubungi sahabatku pemilik villa. Dengan rasa hormatnya yang tinggi kepada Ali Kaliyev, seorang muslim Rusia yang sengaja berkunjung ke Desanya, Pak Ketut merelakan satu bangunan home stay miliknya, untuk kami gunakan isterahat malam ini. Bahkan selama yang dibutuhkan tuan Ali Kaliyev, selama ia di Desanya. Tanpa perlu bayar sewa inap.

Aku sampai membatin: apakah juga Pak Ketut tersihir oleh 'penampakan agung' wajah Ali Kaliyev. Entahlah, aku belum sanggung menjawab pertanyaan batinku ini.

"Sayangnya belum masuk perayaan maulid, lebaran idul fitri atau idul adha. Bapak-bapak bisa melihat langsung tradisi nyawa salam di Desa ini. Dimana kami antara pemeluk agama yang mayoritas dan minoritas bergotong royong dalam perayaan yang meriah dan hikmat," kata Pak Ketut menutup obrolan yang menyenangkan, di malam sunyi dan dingin itu.

Keesokan sorenya, setelah Ali Kaliyev diajak berkeliling menikmati suasana kehidupan pedesaan. Kami berpamitan dengan rendah hati kepada Pak Ketut dan keluarganya.

Kabut senja mulai turun saat mobilku sudah hampir setengah jam meninggalkan gerbang Desa. Meninggalkan Desa sejuk itu. "Kita ambil jalur singkat menuju kota Denpasar," kataku kepada Ali Kaliyev.

"Mungkin kita akan tiba agak larut di Kota.., " balik kata Ali Kaliyev lalu terpotong, seolah sedang bertanya.

"Tidak terlalu larut malam, mungkin kita bisa tempuh waktu 2 jam saja. Tidak melingkar seperti waktu kita datang. Kita akan lewat jalan lain, jalur Begudul. Kalau malam, kendaraan juga biasanya agak sepi di jalan-jalan protokol. Kecuali kalau masuk kota Kabupaten, mungkin melambat lagi. Hanya saja, tuan Ali tidak bisa menikmati pemandangan indah sepanjang jalan karena suasana malam," jawabku sambil tertawa ringan.

"Sebenarnya kita akan melewati dua danau. Danu Buyan di Wanagiri dan danu Beratan di Bedugul. Juga sebuah perbukitan hutan palah yang lebat, di daerah Sangeh," sambungku menjelaskan rute kembali ke Kota Denpasar.

Saat malam menjelang pukul 21.00, mobilku telah melewati batas kota. Dalam mobil, aku dan Ali Kaliyev sedikit terlibat 'perdebatan' soal tempat menginap malam ini, di Denpasar.

Ali Kaliyev menghendaki langsung diantar kembali ke hotel tempatnya semula. Sementara aku, sudah meminta istriku untuk menyiapkan kamar di lantai dua untuk Ali Kaliyev, sampai ia bertolak pulang ke negaranya. Meski nampak keberatan, Ali Kaliyev akhirnya menerima permohonanku.

Visa kunjungan sekali pakai yang digunakan Ali Kaliyev ke Bali, memang masih tersisa 10 hari lagi. Tetapi dia harus meninggalkan Indonesia, besok. Ia mengejar sisa libur tahunannya untuk berkumpul di Dagestan, dalam hajatan keluargan.

Sarapan pagi bulung buni, kopi manis Bali dan camilan jeje lukis menjadi menu perpisahanku dengan Ali Kaliyev. Pukul 11.00 Aeroflot airlines akan membawanya langsung ke bandara Vnukovo.

"Vnukovo itu bandara internasional, sekitar 15 kilo meter dari pusat kota Moskow", kata Ali Kaliyev.

"Saya akan mengenang-ngenang kebaikan saudaraku ini, Wayan Darmawan. Mengenang keindahan pulau Bali, Jakarta, Jawa dan Indonesia, selama 12 jam dalam penerbangan ke Moskow,"Ali Kaliyev menjabat tangan dan merangkul pundakku.

Di terminal Internasional bandara I Gusti Ngurarai, terakhir kalinya aku melihat telapak tangan Ali Kaliyev, melambai tanda berpisah. Lalu ia membalik badan dan menghilang di balik lorong menuju pintu pesawat.

Aku seperti telah menemukan seorang yang entah "dari mana", telah menjadi saudaraku dalam waktu sekejap. Masih ingin rasanya bersama dia berkeliling di Pulau Bali.

Wajah teduhnya yang memancarkan 'keperibadian misterius' membuat hati ingin selalu bertemu denganya. Betul-betul dalam hati aku merasa, saudaraku itu telah meninggalkanku. Aku seperti kelihangan sesuatu.

Dua hari setelah Ali Kaliyev meninggalkan Bali, seperti biasa aku tenggelam kembali dengan rutinitas bisnis rental mobil. Hampir 5 hari aku sibuk dengan urusan saudara Rusiaku itu.

Duduk di belakang meja kerja, aku memandang berita di layar kaca TV. Terkabar: pihak kepolisian negara Indonesia menangkap seorang gembong narkoba asal Ukraina, di negara Thailand. Orang itu adalah otak clandestine laboratorium narkoba dan ganja hidroponik yang beroperasi di Bali. Mataku fokus ke wajah tersangka.

"Roman Nagarenko," perasaanku berucap. Wajah itu mengingatkan seorang turis yang aku antar ke villa matahari di Kuta Utara, 4 atau 5 Tahun lalu.

Aku menginggat persis raut wajah itu. Hanya saja kini, wajah klimisnya yang dulu, berubah brewokan, sebagiannya mulai memutih. Rambutknya acakan.

"Yaa.. Roman Nagarenko si Ukraina," ingatan perasaanku memastikan kebenaran dari wajah gembong nakotika yang di tangkap di Thailand itu. Sejenak aku terkesima dengan berita itu. 

"Roman Nagarenko datang ke Bali, untuk ...," batinku taksanggup meneruskan.  

Terngiang tiba-tiba wajah saudara Rusiaku, Ali Kaliyev. Wajah yang "penuh pancaran cahaya kebaikan". Namun mataku menatap wajah Roman Nagarenko. Kusam rautnya membayang wajah kematian, dalam hukuman mati.  

"Andai saja engkau masih di sini saudaraku Ali Kaliyev, akan aku lanjutkan ceritaku, saat awal kita berjumpa sepekan lalu". Bantinku dicampur aduk dua wajah asing yang berbeda.

"Pulau Dewata, engkau telah kedatangan manusia asing yang berbeda wajah, Oh..", gerutu batin membawa aku kerelungnya paling dalam.

Diriku terhempas pada sandaran kursi. Nafasku tertarik dan terhembus panjang.

SM. Januari 2025. 


CERPEN: Mutiara Itu, Ibuku

Di atas sebuah tikar tua aku meletakkan jemuran. Tikar anyaman rotan halus warisan ibu. Warnanya mulai kusam kecoklatan, beberapa tasi jahitan bagian sisi-sisinya sudah berlepasan.

Pada suatu masa, di atas tikar itu aku pernah bersama ibuku melipat pakaian bapak dan baju-bajunya, ketika sore, sehari dalam liburan kuliah. Aku tidak pernah mengerjakan hal itu sebelumnya di rumah ini, bahkan belajar memasak sekalipun.

Tidak pernah ibu menyuruh pengerjakan pekerjaan rumah tangga, sejak usia sekolah hingga menjelang studi sarjanaku selesai. Dalam libur terakhir masa studi itulah, tiba-tiba saja  ibu memintaku untuk menemaninya melipat pakaian ayah dan pakaiannya yang telah kering.

Suatu hal yang tak pernah aku duga, ketika itu.

“Wah, kamu pintar melipat pakaian, rapih dan tersusun teliti,” ibu terseyum bahagia melihat pekerjaanku. Namun wajahnya menunjukkan raut sebuah pikiran yang tidak dimengertinya.

Ibu memang tidak pernah mengajarku langsung menjadi seorang perempuan yang seharusnya. Perempuan yang handal mengerjakan urusan rumah tangga.

Sejak usia sekolah, aku sudah dititip di rumah nenek, di sebuah kota Kabupaten untuk bersekolah di SD hingga SMP. Jaraknya 20 km dari desa rumah tinggalku. Memasuki sekolah SMA, aku dititip lagi ke keluarga paman di ibu kota provinsi. Jarak tempuhnya sehari semalam, karena harus melintas lautan. Dan keterpisahan kami, lebih jauh lagi ketika aku diterima  kuliah di negeri jauh, dekat benua Eropa yang berbatasan Asia, melalui beasiswa pemerintah Turkie, di Istanbul.

Tidak tahan aku menahan airmata kesedihan, ketika usiaku masih sangat kecil, ibu dan bapak meninggalkan aku sendirian di rumah nenek, suatu malam selepas isyah, ketika mobil penumpang pesanannya telah tiba di depan pekarangan rumah, untuk menjemput mereka pulang.

Dua malam keduanya menemaniku untuk suatu perpisahan yang nyata. Tidak bersama-sama selama 6 tahun lamanya, setelah itu.

Malam terakhir di rumah nenek, kami tidur bertiga. Malam itu, teramat berat bagiku untuk berlalu dan rasanya tidak rela untuk tiba dipagi hari.

Dalam dekap tangannya yang lembut, ibu berbisik pelan di telingaku, “Ibu sangat menyayangimu nak, insyaAllah kelak kamu akan menjadi perempuan yang baik, bahagia dan pintar. Ibu akan bangga punyak anak sepintar kamu nanti. Bapakmu juga akan bahagia dengan kamu yang akan menjadi orang yang sukses. Rajin-rajinlah belajar, patuh sama nenek dan kakekmu. Jangan mengira ibu membuangmu di sini, nenek dan kakek akan menjagamu dengan baik, insyaAllah. Ibu akan datang jika rindu kepadamu, dan kita juga akan tetap bertemu lagi kalau kamu liburan sekolah”.

Aku tidak bisa menyimak kata-kata ibu. Aku hanya ingin dalam dekapannya terus-menerus malam itu, dan berharap tidak ada pagi yang akan datang.

Terasa hangat nafasnya menerpah wajahku, membuatku makin tidak ingin lepas dari pelukannya. Ibuku, terdiam cukup lama.

Ayah masih duduk di atas sejadah. Dia menyukai duduk berlama-lama selepas shalat isyah, kalau di rumah. Kadang aku melihatnya membaca Al-Qur’an. Terkadang juga aku hanya mendengar dentingan-dentingan tasbih di tangan kanannya.

“Aku serahkan kamu kepada Allah SWT, Dia adalah Tuhan tempat kita semua harus bersandar, menyerahkan semua urusan kita. InsyaAllah, Allahlah yang akan mengurusmu, anakku sayang”, suara ibu setengah berbisik. Hampir tak kudengar.

Aku tidak mengerti apa-apa yang ibu katakan di malam yang berat itu. Hatiku tetap tidak tega berpisah darinya. Yang terasa, hanya ada genangan di kelopak mata. Dan pelahan hangatnya jatuh juga membasahi kedua pipiku. Deras mengucur, tanpa suara isak. Kesedihanku mengalir bersamanya dalam diam dan terasa amat dalam di jiwa.

Aku tidak bisa mengerti apapun tentang hal yang sedang menimpaku, saat belia umur seperti ini. Namun aneh, meskipun rasa dalam dadaku merontah tidak ingin berpisah, pada sisi lain dalam hatiku, ada harapan ibu akan datang jika rindu. Ini membuat hatiku agak damai dan bisa menerima keadaan dalam keterpisahan yang akan terjadi segera, esok pagi.

Pagi hari, mobil penumpang bercat merah buram, meninggalkan pekarangan rumah nenek, membawa ibu dan ayah, kembali.

Terasa, aku menjadi seorang anak yatim piatu, setelah kendaraan yang mereka tumpangi menghilang dari pandangan mataku. Kebut kesedihan menyelimuti tubuhku, tenagaku terasa menghilang seketika, tak kuasa aku berdiri memandang kepergian mereka.

Suasana hati seperti ini selalu berulang aku rasakan, setiap kali akan melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi.

Demikian pula dua saudara laki-lakiku, mendapat perlakuan yang persis sama dengan yang aku alami ini.

Tikar rotan tua warisan ibu, selalu mengantarkan banyak kenangan perpisahan dengan ibu, ketika aku meletakkan dan melipat jemuran di situ.

Azan magrib berkumandang dari corong mesjid kompleks perumahan tempat keluarga kecilku bermukim, di ibu kota negara. Sudah menjadi rutinitas, bakdah magrib setiap hari jumat, aku selalu menyempatkan mengikuti pengajian di mesjid kompleks dekat rumah, yang diprogram perkumpulan ibu-ibu pengajian.

Majelis taklim “Khadijah tul muhibbin” mengundang seorang daiyah, ustadazah yang cukup terkenal seantero masyarakat, karena kefasihannya menyampaikan hikmah-hikmah agama.

Usai shalat magrib berjamaah, panitia mengatur tataletak ruangan, persiapan majelis ilmu. Ibu-ibu majelis taklim mengambil posisi duduk berjamaah berbentuk huruf U. Di bagian tengah depan, dipasang sebuah karpet bercorak arabian berwarna hijau, di atasnya sebuah meja duduk dan sebuah mikrofon tergeletak. Duduk di belakang meja seorang ustadzah, bersiap-siap memulai ceramahnya.

Para jamaah juga menghentikan percakapan kecilnya, ketika tangan sang ustadzah mengetuk-ngetuk mikrofonnya, untuk memastikan alat itu sudah on.

“Auzubillahi minasyaitani rajim, bismillahi rahmani rahim” ... demikian sang ustadzah memulai pembicaraannya.

Setelah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, mengucap kalimat “pengakuan ke takberdayaan” la khauwla wala kuata illabillahi adzim, dan mengucap permohonan ampun, astagafirullah huladzim, ia meminta izin kepada hadirin untuk menyampaikan ceramahnya dengan topik “istri surgawi”.

Beberapa jamaah saling memandang sambil tersenyum, mendengar judul ceramah itu.

Aku tidak bisa mengetahui persepsi di benak mereka tentang topik itu. Dalam pikiranku sendiri juga mencoba mereka-reka, tentang “istri surgawi” itu.

Dalam benakku terlintas asumsi, bahw “istri surgawi” ada seorang istri yang solehah, taat dalam ibadah dan bakti kepada suami, menjadi panutan anak-anak dalam kebaikan dan kebijaksanaan.

“Suatu waktu, Fatimah Azzahrah mengunjungi ayahandanya Nabiullah Muhammad SAW, dengan suatu rasa penasaran, mengenai siapa wanita yang akan memasuki pintu surga pertama kali?” suara ustadzah melalui mikrofonnya, membuyarkan lintasan pikiranku.

“Setelah tiba di rumah sang ayah yang tidak jauh dari rumahnya, Nabiullah Muhammad SAW menyambutnya dengan penuh hormat dan rasa bahagia, dan bertanya gerangan apa yang membuatnya datang berkunjung. Fatimah kemudian mengungkapkan suatu pertanyaan mengenai siapakah wanita yang akan memasuki surga pertamakali, apa aku karena aku adalah putri Nabi SAW? Ayahandanya Nabiullah Muhammad SAW, menjawab bahwa wanita yang akan masuk pertamakali di surga itu bernama Mutiah. Dia tinggal bersama suaminya di pinggiran kota Madinah”, suara di mikrofon itu terdengar datar tetapi meyakinkan.

“Fatimah Azzahrah ketika meninggalkan rumah ayahandanya, rasa penasarannya  lebih berat dari sebelumnya. Ia bertanya dalam hati, amalan ibadah apakah gerangan yang telah dilakukan oleh Mutiah sehingga Rasulullah SAW, telah menyebutnya sebagai calon penghuni surga dan menjadi wanita pertama  yang akan memasukinya. Maka, pergilah Fatimah Azzahrah pagi-pagi sekali mencari rumah Mutiah, ditemani Hasan, putra kecilnya. Setelah berkeliling cukup lama dan bertanya kesana-kemari, akhirnya tibalah Fatimah Azzahrah bersama Hasan di depan pintu rumah Mutiah”. Sang ustadzah melanjutkan ceramahnya, kalimat-kalimatnya lancar dan jelas.

Tidak ada percakapan berarti dalam mesjid sejauh ini. Semua jamaah pengajian perhatian hanya pada suara yang mengalir desar lewat alat pengeras suara, yang menempel di empat sudut mesjid, yang cukup memadai luasnya ini.

“Pintu diketuk, teriring ucapan salam dari Fatimah. Dan terdengar jawaban salam dari dalam, dengan pertanyaan, siapa di luar? Dijawab, saya Fatimah putri Rasulullah SAW bersama Hasan anakku. Dengan perasaan bangga Mutiah bergegas ke pintu karena kedatangan tamu muliah. Pintu lalu terbuka sedikit, Mutiah mengintip dan berkata, aku senang engkau berkunjung ke rumahku wahai putri Rasulullah SAW, tapi suamiku tidak sedang di rumah, saya tidak diizikan untuk menerima laki-laki. Datanglah besok wahai putri Rasulullah, saya akan memintakan izin untuk Hasan. Fatimah Azzahrah kemudian kembali. Sambil berjalan pulang Ia mulai memahami, mengapa Rasulullah SAW menyebut Mutiah adalah penghuni surga. Keesokan hari, Fatimah kembali ke rumah Mutiah, namun ia membawa serta anaknya yang satu lagi, Husein. Kali ini Mutiah kembali meminta maaf, karena suaminya hanya mengisinkan Hasan. Dan Fatimah pulang tanpa rasa kecewa, dan makin maklum akan kebenaran kata-kata Ayahandanya Muhammad SAW. Hari ketiga, Fatimah baru berhasil memasuki rumah Mutiah bersama Hasan dan Husein, saat menjelang kedatangan suami Mutiah pulang dari pekerjaannya”.  Lajut ceramah sang ustadzah, dalam kisah sederhana namun menarik.

Sampai disini, aku merenungi ketaatan seorang istri bernama Mutiah ini. Bahkan namanya telah disebut langsung dalam hadis manusia paling muliah, Muhammad utusan Allah SWT. Manusia panutan seluruh mahluk,  yang memiliki sifat paling jujur dalam berkata-kata.

Tersimak kembali olehku ceramah lanjut sang ustadzah: “Fatimah Azzahrah sangat terkesan kerapian dalam rumah itu, walau dengan perabot dan alat-alat rumah tangga yang sederhana. Ada semerbak wewangian tersebar di penjuru rumah, sebuah baskom kecil berisi air di depan sebuah kursi yang sandarannya bergantung selembar kain putih bersih berukuran kecil. Dan nampaknya Mutiah sedang memasak makanan kesukaan suaminya, untuk dihidangkan sebentar lagi. Fatimah Azzahrah menanyakan semua apa yang dilihatnya dalam rumah itu. Mutiah menjelaskan: kain ini untuk membasuh keringat suamiku jika ia pulang dari berkeja, dan baskom itu untuk aku membasuh dan membersihkan kakinya jika dia datang. Aku selalu merapikan seluruh perabotan dan tempat tidur dan memercikkan wewewangian untuk menyambutnya datang. Dan masakan kesukaannya, sudah aku hidangkan di meja makan sebelum ia tiba. Lalu cemeti yang terselip di dinding itu, untuk apa, apakah suami sering memukulimu? Tanya Fatimah penasaran. Tidak kata Mutiah, dia lelaki yang baik, sangat menyayangiku. Cemeti itu aku yang siapkan, dan meminta kepadanya untuk mencambukku jika ada pelayananku yang tidak disukainya atau tidak menyenangkan hatinya. Lalu, datanglah suami Mutiah. Ia kemudian disambut: Mutiah meraih tangan suaminya dan membawanya duduk ke kursi yang sudah disiapkan. Perlahan ia melepeskan kancing baju suaminya satu persatu, menyekah keringatnya dengan kain putih, lalu membasuh kedua kaki suaminya. Tidak lama, kemudian Mutiah menuntun sang suami ke kamar mandi, untuk dia mandikan. Sebelum keduanya masuk berdua ke kamar mandi, Fatimah Azzahrah pamit meninggalkan rumah Mutiah. Di tengah jalan pulang, Fatimah merenungi dan menghayati seluruh kata-kata Ayahandanya Muhammad SAW, betapa Mutiah adalah seorang wanita yang sangat muliah, pantas dia menjadi wanita penghuni surga”.

Wajah-wajah ibu-ibu pengajian nampak penuh ekpesi berbeda-beda, mendengar kisah sang ustadzah. Mungkin, kisah itu telah membawa persaaan mereka menggeledah keseharian sebagai seorang istri di rumah masing-masing.

“Mutiah itu mutiara surga”, berbisik seorang ibu sabahat pengajian yang duduk di sebelah kananku. Aku menyambutnya dengan senyum penuh pengertian.

Seketika, wajah ibuku datang kembali hadir dalam hatiku. Sama persis, ketika aku sedang meletakkan dan melipat jemuran di atas tikar rotan halus warisannya, yang ada di rumahku itu.

Satu jam ceramah ustadzah tentang “istri surgawi”, berlalu tidak terasa.

Shalawat mulai dikumandakan untuk memulai azan isyah. Usai isyah berjamaah, majelis taklim pengajian itu juga ikut bubaran. Setiap ibu-ibu majelis taklim, membawa hikmah ceramah itu ke rumahtangga masing-masing.

Usai istirahat sejenak dari menghadiri mejelisan di mesjid. Aku kembali ke tikar rotan warisan ibu, melanjutkan sisa lipatan yang belum selesai, sore tadi.

Dan terngiang kembali wajah ibu yang penuh ketidakmegertian: bagaimana aku memperoleh keterampilan seorang perempuan yang seharusnya, perempuan yang benar, terutama setelah aku berkeluarga dan menjadi istri dari seorang suami. Saat beliau, pertamakalinya memanggil dan mengajakku menemaninya melipat pakaian bapak, diwaktu itu.

Aku tidak pernah melihat langsung, bagaimana ibuku menjadi istri bagi bapakku. Hanya ketika, seminggu sebelum kepergiannya yang tak disangka-sangka, aku sedang menikmati libur lebaran ke kampung halaman. Aku mendengar banyak cerita tante, saudari dari bapakku.

“Rumahmu ini, selalu nampak tertutup, setiap bapakmu pagi-pagi sudah pergi ke sekolah untuk mengajar. Ibumu mengantarnya ke depan halaman, dan mencium tangan bapakmu, ketika sedang di atas motor hondanya dan hendak berangkat. Setelah itu Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya. Dan pintu itu sangat jarang terbuka, bahkan tidak terbuka kecuali jika hanya ayahmu yang mengetuknya. Atau ibumu sendiri yang membuka ketika mendengar suara motor honda bapakmu sudah tiba di halaman rumah”, cerita tante yang  rumahnya bersebelahan langsung dengan rumah ibu.

Hidangan opor ayam yang dihidangkan dalam suasana lebaran ketika itu, terasa makin nikmat, sambil bercengkrama. Dan sambil lalu mendengarkan cerita tante tentang ibu, yang aku sendiri banyak tidak mengetahuinya. Tetapi tenteku ini, bercerita mengenai ibuku, seolah-olah sedang menyampaikan kabar penting, kepadaku.

“Rumahmu itu selalu berbau harum” kata tente lagi.

Aku menyadarinya, ketika aku melihat sendiri koleksi botol-botol parfum tanpa alkohol yang ada di meja rias ibuku, jika sedang mengunjunginya. Aku hanya merasa ibuku seorang yang menyukai pengharum untuk ruangan kamarnya dan tubuhnya. Namun jika kuteliti, merek-merek itu sebagian besar bukan untuk perempuan, namun untuk selera kaum adam. Apakah mungkin untuk ayahku?

“Saya sering merasa ibumu itu memperlakukan bapakmu seperti seorang anak kecil. Mungkin kamu tidak percaya kalau bapakmu itu biasa dan sering dimandi sama ibu kalau sore-sore”, kata tante sambil tertawa geli, sepertinya ia banyak mengetahui “rahasia” ibuku.

“Ibumu sebenarnya sangat pintar memasak jenis masakan kampung kita, tetapi setalah menikah dengan bapakmu, dia hanya pintar masak sayur bening dan nasi goreng putih gula merah dan opor ayam seperti ini, sesuai kesukaan bapakmu. Ibumu sebenarnya kalau mengikuti selerahnya sendiri, dia bisa masak masakan yang lebih enak dan sayuran enak. Namun kelihatannya dia memasak makanan dan minuman hanya sesaui selera bapakmu saja. Ia tidak memasak sesuai selerahnya sendiri. Dan itu sejak kakak pertamamu lahir sampai kamu semua sudah berkeluarga seperti sekarang ini”, kata tante dengan wajah masam sedikit mengangkat bahu.

“Biasanya, bapakmu sepulang dari sekolah jam 12 siang, mungkin setelah makan siang bersama dan bapakmu isterahat sebentar ditemani ibumu, biasanya mereka berangkat ke kebun yang ada di sebelah sana itu”, tante menunjuk ke arah timur.

Bapakku memang memilki sepetak kebun yang agak luas, mungkin ukuran 1 hektar. Tempatnya sekitar 1 kilometer dari rumah kami. Untuk sampai ke sana kita melewati jembatan yang tua, karena harus melintasi sebuah sungai. Lokasinya persis di kaki sebuah bukit kecil.

Pekerjaannya sebagai guru dan pekebun, hasilnya digunakan untuk membiayai sebagian kecil sekolah kami sampai SMA. Karena  setelah itu, sekolah lanjut di perguruan tinggi, kami semua bersaudara dibiayai oleh pemerintah melalui beasiswa berprestasi, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Saudara pertamaku saat ini, bekerja sebagai pegawai pemerintah di konsulat negara di negeri jiran. Saudaraku yang kedua adalah seorang guru besar di sebuah universitas islam dalam negeri, di ibukota. Aku sendiri, sebagai satu-satunya anak perempuan, memilih menjadi ibu bagi seorang anak.

Dan entah mengapa setelah ada perasaan ingin berumah tangga dan kemudian menikah dengan seorang enjinering bidang pertambangan minyak lepas pantai, perusahan asing yang beroperasi dalam negeri, aku tidak lagi berminat melanjutkan karirku di sebuah bank pemerintah, dan menolak tawaran sebagai dosen di sebuah universitas asing dalam negeri, namun lebih berbesar hati memilih untuk menjadi pendamping dan pelayan bagi suamiku.

“Biasanya ibumu sudah menyiapkan kudapan-kudapan dalam keranjang dan sebuah termos berwarna perak berisi kopi hitam manis, yang akan dinikmati bapakmu di rumah kebun, setelah mengerjakan perkejaan kebunnya, menjelang sore. Kadang kadang sehabis ashar, mereka meninggalkan kebun mereka”, lanjut cerita tenteku, sembari minta aku menambah makanan yang dihidangkannya.

Hari itu, aku merasa banjir cerita mengenai ibuku. Sebagian aku telah mengetahuinya, tapi sebagian besarnya lainnya, baru kali ini terdengar di telingaku.

Anakku laki-lakiku satu-satunya, tiba-tiba datang dari sebelah, “mama dipanggil sama nenek”, katanya kemudian berlalu.

Aku melihat ibuku sedang berbaring di ranjang kamarnya. Ditemani oleh kakak keduaku, dan tiga orang cucunya. Pakaian lebaran yang indah, belum dilepaskannya. Tubuhnya nampak tidak bertenaga diatas pembaringan, di usianya yang ke 70 tahun, seolah ingin tidur siang.

Mungkin agak kelelahan, dua hari persiapan menyambut hari lebaran, ibu juga turut menguras tenaga, ikut ramai dalam keseruan di dapur.

“Saya bahagia sekali hari ini, kalian berdua ada di rumah ini lebaran bersama ibu, meskipun kakamu yang satu belum sempat datang. Tapi panggillah juga dia besok untuk datang ke sini”. Kata-kata ibu sangat dalam rasanya.

Hari pertama aku tiba, dia juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Selalu menanyakan kakak tertuaku, yang tidak sempat begabung karena kesibukannya di luar negeri.

“Mungkin kalian akan jarang lagi ke sini ke rumah ini, kecuali untuk siarah ke makam bapakmu”, ibu berkata agak lirih, suaranya agak kedalam. Ibu menatap kami satu persatu.

Kakak keduaku menawarkan air putih, disambutnya dengan tangan yang bergerak lamban.

“Saya tidak pernah merasa berpisah dari kalian semua anak-anakku, meskipun sejak kecil kalian semua tidak dalam asuhan ibumu ini langsung, tapi doa-doa setiap malam ibu panjatkan untuk kebahagiaan kalian dunia dan akhirat”, mata ibu berkaca-kaca mengucapkan kata-katanya.

“Sejak menikah dengan bapakmu, ibu sudah bertekad hanya ingin memberikan seluruh jiwa raga ini untuk berbakti kepadanya. Dan telah kuteguhkan niatku, untuk menitip kalian kepada Allah SWT, sebagai ikhtiarku, karena ibu hanya ingin menyerahkan diri, tenaga dan waktu untuk bapakmu. Dan alhamdullilah, ibu melihat Allah SWT telah mengabulkan doa-doa ibu selama ini. Kalian semua sudah berhasil, pendidikan, pekerjaan dan keluarga. Bahkan kalian sudah sangat berbakti pada ibu dan bapakmu, karena ikhlas menerima keadaan kalian yang harus terpisah dariku sejak kalian semua masih kecil-kecil. Ibu selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT agar hidup kalian dmudahkan dan dilimpahkan kasih sayang oleh Allah SWT. Jangan menyangka ibu tidak sayang pada kalian semua, ketika memisahkan kalian dari sisi ibu. Ibu harus mengorbankan perasaan cinta dan kasih sayangku ini kepada kalian, demi bapakmu. Ibu juga harus menahan beban yang berat harus berpisah jauh dengan buah hatiku. Tapi demi baktiku kepada suami, bapak kalian, perasaan itu harus aku korbankan”, kata-kata ibuku lancar, teguh dan penuh keyakinan.

Ibu memang besar dalam didikan kakek, yang dikenal di kota kabupaten sebagai seorang alim dan sholeh. Di rumah kakekku dulu, ketika masih sekolah SD, aku  tidak pernah sepi, karena hampir setiap pekan, ramai orang-orang berdatangan ke rumah kakek untuk belajar agama islam tradisional.

Mereka sering membawakan aku macam-macam oleh-oleh dan memberi uang jajan. Tidak jarang juga, ada yang membawaku kerumahnya untuk bermalam, dengan perlakukan keperdulian, kemanjaan dan kasih sayang.

Selama aku berpisah dari ibu dan bapak sejak kecil, secara pisik sangat jarang bersua dengan keduanya, tetapi kasih sayang dari keluarga dan orang-orang dimana aku dititipkan, sangat melimpah dan ikhlas. Sehingga aku tetap senantiasa merasakan kehadiran seorang ibu disisiku.

Hal yang sama juga dialami dan dirasakan oleh kedua kakak laki-lakiku. Ibu itu selalu hadir di hati kami.

Yang paling nyata aku alami adalah kemudahan-kemudahan memperoleh biaya pendidikan dan uang-uang jajan. Kiriman kedua orang tua selalu berlebih, dan bantuan-bantuan lain yang kadang aku tidak menduganya, mengalir seolah tak terbendung.

Tidak pernah kami rasakan kekurangan finansial selama penempuh studi dari SD hingga program S2 ku selesai di negara Turkie.  Aku sering memperoleh bantuan pendidikan berprestasi dari pemerintah dan Yayasan-yayasan amal di luar negeri.

Bahkan aku memiliki banyak tabungan. Aku kirimkan kembali tabungan itu kepada orang tua untuk digunakan keperluan rumah tangga keduanya. Namun ternyata uang itu digunakan untuk sumbangan rutin kepada sebuah lembaga tahfiz al-Quran untuk anak yatim piatu yang ada di kota kabupaten, milik teman bapakku.

“Jangan lupa, kabari kakamu yang di Malaysia untuk datang besok”, lanjut ibu bersungguh-sungguh. Matanya kembali menatap kami satu persatu. Sebuah tatapan yang agak berbeda, dan membuat perasaan hatiku tidak menentu.

Ada sesuatu di hatiku yang tidak nyaman. Sekilas rasa gelisah menggores di dalam dada. Aku menghela nafas dalam-dalam, perlahan tapi panjang.

Tiba-tiba ibu duduk dari pembaringannya dan menunjuk mukenah putih bersulam benang abu-abu yang tergantung di dinding kamarnya, “Ambilkan mukenah itu”, katanya lirih.

Mukaneh itu beliau kenakan ketika sholat Id di lapangan waktu pagi pada hari raya waktu itu.

Aku mengambil dan memberikan mukenahnya. Ibu begeser dan berdiri di sisi ranjangnya, lalu Ia mengenakan mukenah putih itu. Dan berbaring kembali seperti sedang ingin tidur beristerahat.

Namun ia bagun kembali, meminta air putih yang ada disamping ranjang. Ibu meneguknya tiga kali, kemudian berbaring lagi seperti semula.

Aku mengira ibu akan sholat, padahal memang waktu dhuhur masih setengah jam lagi. Kakak keduaku menuju ke ruang tengah. Anak-anak sudah bercengkrama di sana.

“Ingat, jangan lupa beritahu kakamu untuk datang besok, ya nak. Ibu mau tidur dulu, jangan ada yang bagunkan, nanti setelah azan dhuhur”, kata ibu sambil membalik badan menghadap kiblat. Telapak tangan kanannya diletakkan di bawah pipi kanannya , seolah menjadi batal kepala. Matanya terpejam, ringan.

Aku merapikan kamar ibu tanpa suara, lalu melanggkah meninggalkan ibu yang kelihatannya langsung terlelap. Perlahan aku menarik rapat pintu kamar itu.

Perasaan asing tiba-tiba menyergap di hati ketika kamar itu telah kututup. Ibuku terlelap dalam tidurnya sendirian di dalam kamar. Perasaan ini, tidak biasa.

Benar saja, setengah jam berlalu. Setelah aku siapkan masakan lebaran sisa pagi tadi di meja makan untuk santap siang sebentar bersama-sama, dan suaran azan dhuhur barus saja selesai. Aku melangkah ke kamar ibu untuk membangunkannya.

Perlahan daun pintu kamarnya aku dorong, mendekati ibu yang nampak sedang sangat lelap. Hanya bibirnya kelihatan sedang tersenyum.

“Bu..., bu..., sudah azan bu...” kataku lembut dan mendekat tanpa suara kaki.

Aku duduk disampingnya dan menyentuh pundaknya. Sekali lagi membangunkannya. Tidak ada jawaban. Berkali kali aku membangunkan, berkali-kali juga tidak ada sahutan dari ibu.

Kesedihan seketika mencengkeram erat dadaku, hingga aku tak kuasa menarik nafas. Dadaku terasa berat dan sesak. Ibuku sudah terbujur kaku dan pucat pasih wajahnya dengan gaun mukenah putihnya. Ibu telah kembali keharibaan-Nya.

Wajahnya setenang wajah bayi yang sedang tertidur, dengan sebuah senyuman kecil.

Libur lebaran tahun 2000 itu, juga menjadi persuaan kami yang terakhir dengan ibu yang selalu kami rindu.

Ibuku tidak hanya mewariskan sebuah tikar rotan halus yang telah mengusam, tempat aku selalu mengenangnya jika sedang melipat pakaian. Tetapi juga mengalirkan pada jiwaku kepribadian seorang ibu yang baik bagi suaminya, sepanjang hayat dan tidak akan pernah kusam.

Jika bisikan sahabat di pengajian pada hari jumat kemarin, yang berkata “Mutiah adalah mutiara surgawi, maka mutiara itu adalah ibuku”.

SM. Desember 2024.